Arief Yahya Blusukan ke Kota Tua Jakarta

kota tua jakartaJakarta (Paradiso) – Tiga hari setelah dilantik menjadi Menteri Pariwisata, Arief Yahya langsung melakukan blusukan ke Kota Tua Jakarta, tujuan pertamanya adalah gedung Kantor pos.

Arief Yahya tertarik dengan rencana revitalisasi kota Tua Jakarta. Ia ingin melihat denah dan perencanaan pembangunannya yang berada di lantai dua Gedung Kantor Pos Kota Tua Jakarta.

Kunjungan Menteri Pariwisata ini disambut hangat oleh segenap Dinas Pariwisata Pemprov DKI Jakarta dan jajaran dari Jakarta Old Town Revitalization Corp. (JOTRC). Arief tampak antusias dengan master plan revitalisasi Kota Tua Jakarta.

“Saya tanya untuk agenda kunjungan pertama. Menurut teman-teman ahli, Kota Tua Jakarta dianggap yang paling siap untuk dikunjungi,” ungkap Arief Yahya di Kota Tua Jakarta, Rabu (29/10/2014).

Menurut Arief dari angka kunjungan wisatawan di Jakarta, Kota Tua Jakarta memang menjadi tempat yang paling banyak mendapat kunjungan wisatawan. Ketertarikan wisatawan yaitu didasari banyaknya museum dan juga pameran di kawasan ini.

Beberapa kali Arief mengatakan bahwa ia terkesan dengan master plan untuk merevitalisasi Kota Tua Jakarta. Arief juga sempat mengendarai sepeda ontel di kawasan ini. Ia membayangkan betapa kawasan ini pernah berjaya dan menjadi pusat perekonomian yang diperhitungkan dunia.

“Saat ini, Kota Tua (Jakarta) sebagai pusat keramaian di Jakarta sudah sangat sempurna walaupun kalau diukur dari tingkat keramaian dan perputaran ekonomi kalah dengan Tanah Abang. Tetapi saya kira rencana besar yang terukur dan terstruktur di kawasan ini menjadikan kami optimis akan mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan,” tuturnya.

Kesempatan sama, Ketua Board Executive JOTRC Li Che Wei di Kota Tua Jakarta mengatakan kota ini mati sejak tahun 1800an akibat penyakit malaria. Orang pindah ke menteng dan kawasan lain. Di Kota Tua Jakarta, gedung-gedung hancur tak terurus. Untuk itu, saat ini Kota Tua akan direvitalisasi. Kita akan menggunakan seni untuk mendatangkan banyak orang lagi ke sini.

Ia menyebutkan ada lima aktivitas yang terdapat dalam rencana revitalisasi. Di antaranya, preservation, conservation, activation, renovation restoration, dan adaptative reuse. “Semoga nantinya Kota Tua Jakarta dapat mendatangkan banyak wisatawan kembali,” ungkap Li Che Wei.

Gunakan IT Bangun Pariwisata Indonesia

Kesempatan terpisah, Arief Yahya mengungkapkan akan mulai membangun industri pariwisata dengan teknologi informasi (TI) dan telekomunikasi, serta mengundang PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) untuk membantu memajukan industri pariwisata Indonesia.

Arief Yahya menjelaskan rencana tersebut merupakan upaya memperbaiki standar mutu pariwisata nasional yang berdasarkan ukuran standar internasional The Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI) masih berada di ranking 70 dunia.

“Cara yang paling mudah dan paling murah itu adalah ICT (teknologi informasi dan komunikasi). Makanya saya mengundang teman-teman Telkom (membantu) agar lebih cepat. Lalu nanti berkoordinasi dengan institusi lain untuk mengembangkan infrastruktur yang terkait pariwisata,” kata Arief setelah sertijab Menteri Pariwisata di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (28/10).

Menurut Arief, sebelum menggulirkan rencana meningkatkan industri pariwasata, ada baiknya mengevaluasi apa yang menjadi kelemahan Indonesia.

Setidaknya ada tiga kelemahan Indonesia berdasarkan The Global Competitiveness Index (GCI) yang dikeluarkan World Economic Forum yakni infrastruktur pariwisata, teknologi informasi dan komunikasi serta kesehatan dan higienitas.

Tiga hal itulah, kata Arief, yang akan menjadi basis pertimbangan untuk menentukan prioritas dalam mempromosikan pariwisata di masa mendatang.

“Kita harus punya prioritas. Produk kita adalah destinasi wisata. Makanya kita harus tetapkan top destination. Misalnya top 10 atau top 20 destination Bagaimana penetapannya, nanti kita bisa pikirkan,” katanya.

Menurut Arief, berdasarkan GCI, Indonesia memperoleh nilai 4 dari skala 1-7. Dengan nilai tersebut, Indonesia berada di posisi 34 dari 144 negara dalam daftar tersebut.

“Padahal kalau untuk potensinya, Indonesia pasti tidak kalah dengan negara lain. Tetapi kenapa jumlah wisatawan mancanegara kita lebih kecil dibanding yang lain?” ujarnya.

Meski sektor pariwisata tumbuh dengan angka yang cukup memuaskan, Arief mengatakan jumlahnya tetap tidak cukup bagus untuk mengalahkan negara lain seperti Thailand atau Malaysia.

Dalam lima tahun ke depan, pemerintah baru yang dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menargetkan sektor pariwisata bisa menarik 20 juta wisatawan mancanegara. Angka tersebut dua kali lipat lebih besar dibandingkan posisi akhir 2014 yang diperkirakan mencapai 9,5 juta wisman.

“Itulah yang harus kita capai. Kalau tidak, kita akan kalah dengan negara lain. Kita harus bandingkan dengan negara lain, mereka sudah di atas 20 juta wisman, kenapa kita tidak?” katanya. (*/bowo)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.