Ayo! Ke Karangasem, Banyak Tempat Wisata yang Mengagumkan

KARANGASEM, BALI (Paradiso) – Kunjungan peserta familiarization trip (famtrip) asal Filipina ke Bali tak lengkap rasanya bila belum mengunjungi wisata sejarah (heritage) Taman Soekasada Ujung, Karangasem. Usai dipuaskan dengan panorama GWK dan Uluwatu, peserta famtrip yang merupakan para travel agent pun diajak menapaki sejarah di Taman Soekasada, Karangasem, Rabu (3/4/2019).

Para peserta famtrip Filipina yang terdiri dari Gilbert (CTOURZ.Inc), Medy C Gonzales Holili (GM Ticketianda Travel and Tours), April Rose T (GM Golden Sunrise Travel and Tours), Jose AR ( Ambik Travel and Tours), Gregorio Sarita (GIS Travel and Tours), dan Charisse (GM One World Travel and Tours) cukup lama berfoto ria kawasan Taman Soekasada.

Taman Soekasada menjadi salah satu wisata sejarah di Bali yang mengagumkan. Tempatnya yang nyaman dan indah membuat taman ini sering dijadikan spot foto pre wedding.

Taman Soekasada dibangun oleh raja Karangasem terakhir, bernama I Gusti Bagus Jelantik. Memiliki gelar dengan nama, Agung Anglurah Ketut Karangasem.

Taman Sukasada dibangun pada tahun 1901 dengan nama kolam Dirah, artinya kolam tempat pembuangan, bagi orang yang menguasai ilmu hitam. Kemudian pada tahun 1909, raja Karangasem memerintahkan seorang arsitektur Belanda, bernama Van Den Hentz dan arsitektur orang Tiongkok, bernama Loto Ang, untuk mengembangkan kolam Dirah, menjadi tempat peristirahatan Raja Karangasem. Pembangunan dari taman Sukasada, juga di bantu oleh arsitektur orang Bali dari Kerajaan Karangasem. Selain untuk tempat peristirahatan raja, dibangun juga tempat untuk raja Karangasem bersemedi dan tempat untuk menjamu tamu kerajaan Karangasem. Pembangunan dari taman Sukasada, selesai pada tahun 1921.

Selain Taman Sukasada, peserta famtrip juga sempat lama berfoto ria di kawasan Tirta Gangga. Objek wisata Tirta Gangga, dulunya sebuah taman air kerajaan Karangasem. Saat ini taman Tirta Gangga Karangasem berfungsi sebagai tempat wisata di Bali timur. Mayoritas wisatawan yang berlibur ke taman Tirta Gangga Karangasem adalah wisatawan asing. Namun saat ini, objek wisata taman air Tirta Gangga sudah mulai diminati wisatawan Indonesia walaupun tidak banyak.

Di Karangasem, peserta famtrip juga sempat menapaki jejak sejarah desa trasidisional Tenganan Pegringsingan. Desa traditional ini menampilkan bangunan yang masih mempertahankan ttadisi. Arsitektur rumah, balai pertemuan dan pura yang dibangun, sangat mempertahankan aturan adat istiadat secara turun – temurun. Ciri – ciri bangunan rumah penduduk, terbuat dari campuran batu merah, batu sungai, tanah dan mempunyai ukuran yang relatif sama.

Di sela-sela kunjungan ke obyek wisata, peserta famtrip Filipina bersantap siang di Puri Bagus Candidasa Beach Resort. Di sini, usai santap siang, mereka diajak berkeliling resort untuk mendapatkan gambaran perihal biaya menginap dan kenyamanan kamar agar sekembalinya ke Filipina mereka bisa menginformasikannya kepada konsumen mereka. Dari sisi lokasi sendiri, tak ada yang menyangsikan soal keindahan view resort ini. Terlebih letaknya yang di tepi pantai sehingga tamu bisa menikmati pemandangan laut dan deburan ombak.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Karangasem, Wayan Astika kedatangan peserta famtrip Filipina merupakan hal positif bagi pengembangan wisata di Karangasem mengingat wilayahnya termasuk kawasan gunung agung.

“Sebenarnya jarak antara puncak gunung Agung ke kawasan ini cukup jauh, sekitar 25 km, tetapi akibat pemberitaan soal erupasi gunung Agung beberap waktu lalu sempat membuat orang khawatir. Karena itu kehadiran para peserta famtrip Filipina ini sangat positif, selain bisa mempromosikan juga bisa membangun imej bahwa berwisata ke Karangasem itu aman,” ujar Wayan Astika.

Meski begitu, Wayan menegaskan bahwa erupsi gunung Agung beberapa waktu lalu tak berpengaruh terhadap kunjungam wisata di daerahnya. “Kalau erupsi yang terjadi kemarin sebenarnya tidak terlalu berpengaruh karena pengunjung tetap banyak,” tegas Wayan.

Ditambahkan Wayan, wisatawan mancanegara (wisman) yang paling banyak berkunjung ke Bali saat ini adalah wisman asal China. Mereka menggeser wisman Australia yang sebelumnya menempati posisi teratas kunjungan wisman ke Bali. “Sekarang kunjungan terbanyak dari China. Apalagi sudah ada penerbangan langsung China – Bali,” ujar Wayan.

Sementara itu Kabid Pemasaran I Area III, Gayatri mengatakan kehadiran travel agent Filipina ke Bali harus bisa dimanfaatkan maksimal oleh pelaku industri wisata di Bali. Karena mereka sudah datang dan melihat langsung beberapa obyek wisata di Bali, sehingga tinggal bagaimana pelaku industri wisatanya meyakinkan mereka.

Kegiatan famtrip sendiri menurut Gayatri rencananya akan diadakan 10 kali. “Ini yang kedua, setelah bulan Februari lalu juga ada famtrip Filipina,” ujar Gayatri. Menurutnya dari rencana 10 kali itu, selain mengundang travel agent dan travel operator, dua kali famtrip akan mengundang media luar negeri.

Menpar Arief Yahya sendiri sangat mendukung kegiatan famtrip ini. Menurutnya dengan datang langsung ke destinasi wisata di Indonesia, mereka bisa mendapatkan gambaran lengkap dari destinasi-destinasi di Indonesia.

“Pasar wisatawan Asia Tenggara seperti Filipina ini sangat potensial untuk terus dieksplorasi. Tentunya ini dibutuhkan treatment khusus untuk merayu mereka agar mau berwisata di Indonesia. Salah satunya dengan menggelar famtrip ini,” ujar Arief Yahya. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.