Bandara Gading, Gunung Kidul Akan Dimanfaatkan Dukung Pariwisata

YOGYAKARTA (Paradiso) – Menteri Perhubungan mempertimbangkan pengoperasian Bandara Gading sebagai bandara komersial untuk mengembangkan pariwisata daerah Gunung Kidul. “Bandara Gading telah dibangun, namun untuk melayani penerbangan komersial harus dievaluasi terlebih dahulu, terutama terkait dengan keselamatan dan keamanannya. Kemenhub akan membicarakan dengan Pemda untuk membahas masalah tersebut.” jelas Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam Seminar Nasional Pengembangan Industri Pariwisata Gunung Kidul di Hotel Royalambarrukmo Yogyakarta, Jumat (18/11).

Bandar Udara Gading terletak di daerah Gunung Kidul yang memiliki landasan pacu sepanjang 900 meter. Menurut Menhub, pengoperasian bandara tersebut dapat dikembangkan untuk penerbangan pribadi maupun pesawat jenis ATR, yang diharapkan mampu mendukung pengembangan potensi pariwisata dan kemaritiman di Gunung Kidul.

Gunung Kidul dengan potensi pariwisata alam dan budayanya membutuhkan dukungan transportasi. Beberapa objek wisata di Gunung Kidul adalah Goa Pindul, Pantai Baron, Pantai Indrayanti, Pantai Pengilon, Air Terjun Sri Getuk, Goa Jomblang, dan lain-lain.

“Transportasi berdampak langsung pada belanja wisata, dimana komponen biaya untuk transportasi dapat mencapai 30-40% dari keseluruhan biaya wisata, apalagi bila wisatawan harus menempuh long haul flight,” ujar Menhub. Oleh karena itu, diperlukan konektivitas transportasi untuk mendukung sektor pariwisata.

Sementara itu, untuk Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 prioritas nasional Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, Kementerian Perhubungan telah menyiapkan pengembangan infrastruktur udara dan kereta api.

Beberapa minggu yang lalu, Menhub melakukan kunjungan ke titik perlintasan KA Yogyakarta – Magelang. Sebagai hasil dari kunjungan tersebut, Kementerian Perhubungan akan melakukan reaktivasi jalur lintas KA Yogyakarta – Magelang.

“Jalur kereta api dari Stasiun Sentolo akan dibuat langsung menuju Candi Borobudur untuk lebih mendorong kunjungan wisatawan khususnya ke Candi Borobudur di Magelang, Provinsi Jawa Tengah dan sore ini saya akan berbicara dengan Direksi PT Borobudur untuk rencana pengembangan Candi Borobudur,” tegas Menhub.

Selain itu, Menhub menambahkan, BUMN juga telah berperan aktif dalam pengembangan pariwisata di Provinsi D.I. Yogyakarta yaitu PT. Angkasa Pura I (Persero).

“Karena kapasitas Bandara Adisutjipto yang sudah tidak memadai, maka dibangunlah bandar udara di Kulon Progo. Pembebasan tanahnya sudah 70% dan kegiatan konstruksi akan dimulai pada tahun 2017 dan direncanakan akan selesai pada tahun 2019,” jelas Menhub.

Menhub mengatakan bahwa bandar udara di Kulon Progo direncanakan sebagai pendukung untuk sektor pariwisata dan sektor industri di Kabupaten Kulon Progo dan Kota Yogyakarta seperti Kawasan Industri Ringan Tuksono, Kawasan Industri Pertanian dan Peternakan Banguncipto yang terintegrasi dengan Kawasan Industri Sentolo dan Bukit Menoreh. Selain itu, bandar udara tersebut dibangun untuk mendukung aksesibilitas pada kawasan pelabuhan dan Industri Perikanan Adikarto, Kawasan Wisata Pantai Glagah dan Kawasan Wisata Bantul.

“Saya harap pembangunan bandar udara di Kulon Progo ini dapat meningkatkan perkembangan ekonomi berupa peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), meningkatkan kualitas lingkungan dan kualitas sosial serta dapat meningkatkan lapangan kerja,” jelas Menhub.

Menhub menjelaskan untuk mendukung pengembangan destinasi pariwisata yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai, berwawasan lingkungan, meningkatkan pendapatan nasional, daerah, dan masyarakat, Kementerian Perhubungan sebagai regulator di bidang transportasi mempunyai tugas menyiapkan prasarana dan sarana yang memadai guna mendukung mobilitas manusia dan kelancaran arus barang. Pembangunan sarana dan prasarana ini juga untuk mewujudkan sistem transportasi yang efektif dan efisien.

Sesuai dengan agenda kerja Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yaitu Nawa Cita, khususnya butir membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka NKRI, Presiden Joko Widodo mengedepankan pembangunan Indonesia Sentris yaitu pembangunan yang tidak hanya terfokus pada wilayah tertentu, melainkan merata di seluruh wilayah.  Pembangunan dilakukan secara adil dan merata sehingga seluruh masyarakat bisa merasakan dan menikmati dampak pembangunan khususnya pembangunan di sektor pariwisata. Hal ini karena sektor pariwisata merupakan salah satu dari 5 (lima) sektor prioritas dari Kabinet Kerja selain dari Sektor Infrastruktur, Maritim, Energi dan Pangan.

Turut menjadi narasumber dalam seminar tersebut adalah Gubernur D. I. Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X; Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono; Bupati Gunung Kidul Badingah; dan Asdep Industri Pariwisata, Kementerian Pariwisata Agus Priyono. (*)

Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.