Bandara Kertajati Sebagai Urat Nadi Perekonomian Jawa Barat

Majalengka (Paradiso) – Bandara Internasional Kertajati di Majalengka Jawa Barat yang akan beroperasi pada pertengahan tahun ini akan menjadi bandar udara di Indonesia yang  didukung oleh intermoda, yaitu udara yang disupport oleh darat, laut dan kereta api.

Berkaitan dengan intermoda, letak Bandara Kertajati sangat strategis karena dekat dengan Pelabuhan laut Patimban yang saat ini tengah dikerjakan pembangunannya. Selain itu akses ke bandara dengan moda transportasi darat akan dimudahkan dengan adanya jalan tol Cipali bagi masyarakat Jakarta dan jalan tol Cisumdawu yang saat ini tengah dibangun, bagi masyarakat Bandung. Sedangkan moda transportasi lain, yaitu kereta api akan dibuat jalur rel kereta dari bandara yang terkoneksi langsung dengan jalur utama kereta api di Pulau Jawa. Demikian diungkapkan Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso saat mendampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau bakal Bandara Kertajati tersebut hari Rabu (04/04).

Menurut Agus, dengan konektivitas transportasi ini diharapkan  arus barang dan penumpang akan semakin lancar. Masyarakat pengguna bandara juga akan semakin nyaman mengakses bandara ini sehingga keberadaan bandara akan memberikan efek positif bagi kesejahteraan masyarakat sekitar dan perekonomian nasional. Transportasi sebagai urat nadi perekonomian akan hadir dengan adanya bandara ini.

“Presiden Joko Widodo berulang kali mengatakan bahwa untuk meningkatkan perekonomian yang paling penting adalah  konektivitas, konektivitas dan konektivitas.  Perekonomian akan tumbuh dan meningkat jika konektivitas transportasinya lancar dengan berbagai moda. Jadi konektivitas moda transportasi yang ada di bandara ini sudah sesuai dengan program Pemerintah yang tertuang dalam Nawa Cita  terutama Cita ke 3 dan ke 7,” ujar Agus.

Agus melanjutkan bahwa potensi industri di Jawa Barat sangat luar biasa. Misalnya di Bandung merupakan pusat industri tekstil, sampai teknologi yang bisa dikatakan modern seperti silicon valley-nya Indonesia. Sementara itu dengan adanya bandara ini kemudahan akses di daerah Cirebon, Sumedang dan sekitarnya akan meningkat dan dapat memacu pertumbuhan ekonominya.

“Jadi keberadaan bandara ini merupakan salah satu perwujudan rasa cinta Pemerintahan Presiden Joko Widodo kepada masyarakat Jawa Barat. Pemerintah Pusat melalui Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan berkontribusi dalam membangun sisi udara seperti runway, taxiway dan apron, GSE road dengan dana sekitar Rp 1 triliun, beriringan dengan Pemprov Jawa Barat melalui PT Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang membangun sisi daratnya,” lanjut Agus Santoso lagi.

Bandara Kertajati mulai dibangun tahun 2014 dengan pembangunan runway sepanjang 2.500 m x 60 meter dan panjang paralel taxiway sepanjang 2.750 m x 25 m yang sudah selesai dibangun akhir tahun 2017 lalu. Dengan ukuran runway tersebut, nantinya bandara ini akan mampu melayani operasional pesawat A330. Runway juga akan dipanjangkan hingga 3.200 m x 60 meter sehingga bisa melayani operasional pesawat sipil terbesar di dunia seperti Airbus A380. Boeing B 747 maupun B 777. Bandara ini juga mempunyai apron seluas 397.890 m2  yang dapat menampung 10 parking stand pesawat jet narrow body.

Sedangkan sisi darat yaitu Terminal penumpang saat ini sedang dibangun oleh PT BIJB dan sudah mencapai 95 persen. Diharapkan akhir Mei selesai. Terminal yang bisa menampung 5,6 juta penumpang per tahun itu sudah selesai dan bisa dioperasikan.

Selain untuk penumpang dan kargo, Bandara Kertajati juga akan menjadi embarkasi haji untuk masyarakat Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Di kompleks bandara juga akan dikembangkan menjadi aerotropolis dengan akan dibangunnya beberapa industri penerbangan seperti industri pembuatan pesawat, industri perawatan dan perbaikan pesawat (Maintenance Repair and Overhaul/ MRO) dan beberapa industri lain. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.