Bangkitkan Kejayaan Malut Melalui Kie Raha Internasional Festival 2014

Benteng Kalamata, salah satu peninggalan Belanda masa perdagangan rempah-rempah.
Benteng Kalamata, salah satu peninggalan Belanda masa perdagangan rempah-rempah.

Jakarta (Paradiso) – Provinsi Maluku Utara (Malut) pernah menjadi wilayah penting bagi bangsa-bangsa Eropa dimasa lalu, rempah-rempah menjadi alasan utama kedatangan para pengarung samudera asal Benua Biru tersebut ke wilayah ini. Karena rempah-rempah pula, wilayah ini kemudian menjadi arena perang bangsa Eropa demi menjadi penguasa  untuk memonopoli perdagangan.

Pada masa Perang Dunia II, Malut kembali menjadi kawasan penting. Dibawah komando Jenderal Douglas Mac Arthur, Pulau Morotai menjadi basis tentara Sekutu untuk menghancurkan kekuatan militer Jepang di kawasan Pasifik.

Selain segudang untaian sejarah tersebut, Malut juga dianugerahi lansekap alam nan indah. Seni budaya tradisional masyarakatnya pun tidak kalah menarik. Sebuah modal besar bagi pengembagan sektor pariwisata tentunya.

Untuk lebih mengenalkan semua potensi pariwisata tersebut kepada masyarakat luas, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota di Malut akan menggelar Kie Raha Internasional Festival (KIF) 2014.

Kie Raha diambil dari Moluko Kie Raha yang merupakan sebutan untuk wilayah Malut pada masa lalu. Kie Raha merujuk pada kesultanan Jailolo, Bacan, Tidore dan Ternate, empat kesultanan yang pernah berkuasa di Malut.

“Festival ini menggambarkan 4 budaya di Maluku Utara. Jailolo, Bacan, Tidore, dan Ternate,” kata Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam acara Jumpa Pers KIF 2014 yang dilaksanakan di Gedung Sapta Pesona, Jakarta(9/09).

Jumpa pers Kie Raha
Jumpa pers Kie Raha

Sapta memaparkan, tujuan diselenggarakannya festival ini adalah untuk mempromosikan produk pariwisata dan ekonomi kreatif serta seni budaya masyarakatnya. “Maluku Utara merupakan daerah yang sangat eksotis. Potensi wisatanya lengkap sejarah, alam, budaya, hingga kuliner,” ungkap Sapta.

Dalam festival yang akan dilaksanalan di Mall Senayan City pada 9-12 Oktober tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan tarian dan musik tradisional, fashion show baju adat Malut, seminar dan workshop mengenai pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Muhammad Natsir Thaib, Wakil Gubernur Maluku Utara yang turut hadir dalam jumpa pers tersebut mengungkapkan ini menjadi momen penting untuk mengenalkan kekayaan sektor pariwisata Malut. “Diharapakan dari  festival yang diselenggarakan untuk pertama kalinya ini, dapat meningkatkan minat wisatawan datang ke Maluku Utara,” kata Natsir. (Erwin)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.