Capai Peningkatan Pendapatan Usaha, IPC Optimis di 2018

Jakarta (Paradiso) – PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC melaksanakan kegiatan Media Port Visit yang merupakan pertama kali dilaksanakan dan dihadiri oleh kurang lebih 50 jurnalis dari berbagai media baik cetak, elektronik dan digital. Sebagai narasumber dalam kegiatan Media Port Visit kali ini adalah Direksi IPC, GM Tanjung Priok, Dirut PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP), Dirut PT Jakarta International Container Terminal (JICT) dan GM TPK Koja, sedangkan sebagai perwakilan dari stakeholder turut hadir Kepala Otoritas Pelabuhan, Kepala KPU Bea Cukai Tanjung Priok, Kapolres KPPP Tanjung Priok serta Kepala Syahbandar Pelabuhan Tanjung Priok.

IPC yang merupakan BUMN terbesar yang bergerak di bidang jasa kepelabuhanan menyadari bahwa pelabuhan-pelabuhan y ang ada di bawah wilayah IPC terutamanya Pelabuhan Tanjung Priok, tidak hanya merupakan pintu gerbang utama keluar masuk barang ekspor-impor maupun barang antar pulau di Indonesia namun juga menjadi barometer tingkat pertumbuhan perekonomian Bangsa. Untuk itu IPC berkewajiban menyampaikan informasi-informasi terbaru tentang perkembangan serta rencana pengembangan pelabuhan guna mendukung program pemerintah mambangun sistem logistik kelautan yang dapat melayanani tanpa henti dari Sabang sampai Merauke sehinnga menggerakkan roda perekonomian nasional secara efisien dan merata.

Pencapaian Korporasi

Pada tahun 2017 yang merupakan tahun “Enhancement” IPC secara komprehensif telah meneruskan transformasi dalam rangka mewujudkan kinerja unggul berkesinambungan dengan menjalankan corporate roadmap yang berfokus untuk menegakkan pencapaian perusahaan melalui empat bidang penting yang menjadi fokus IPC yaitu “Operational & Service Improvement”, “Expansion of Subsidiaries”, “Infrastructure Development” dan “Optimize IT Utilization”.

Untuk itu IPC telah melakukan inovasi-inovasi yang bertujuan untuk perbaikan pelayanan dan operasional, diantaranya adalah upaya menekan angka Dwelling Time melalui pembuatan Integrated Container Freight Station (CFS Center), modernisasi infrastruktur dan suprastruktur pelabuhan serta optimalisasi penggunaan teknologi informasi yang dilaksanakan dalam bentuk implementasi VTS (Vessel Traffic System), MOS (Marine Operating System), Inaportnet, NPK dan PK TOS, Auto Tally dan Auto Gate serta E-Service. Optimalisasi penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan jasa kepelabuhanan selain bertujuan untuk memudahkan pengguna jasa dalam bertransaksi, juga untuk mendukung pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) terhadap transparansi biaya pelayanan jasa.

Dari sisi keuangan, kinerja perusahaan 2017 berhasil mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 10,52 triliun (unaudited) naik 17,8% dari tahun 2016 serta laba usaha Rp 3,07 triliun (unaudited) atau naik 12,74%, EBITDA naik sebesar 22,3% atau sebesar Rp 3,85 triliun (unaudited) dan BOPO turun 1,75% menjadi sebesar 70,57%. Untuk pertumbuhan dividen korporasi, IPC yang merupakan penyumbang dividen terbesar untuk BUMN di bidang jasa kepelabuhanan telah mencatatkan kenaikan sebesar 21,9% dari tahun 2016, yakni dari sebesar Rp 371,93 miliar (audited) naik ke Rp 453,44 miliar (unaudited). Sementara pada sisi operasional, realisasi trafik arus peti kemas tercapai 6,92 juta TEUs naik 11,2%, non petikemas naik 2,79% menjadi 57,06 juta ton, kunjungan kapal naik 3,87% menjadi 34.662 unit serta arus penumpang turun 13,99% menjadi sebanyak 608,12 ribu orang.

Dalam kaitannya mewujudkan kinerja unggul berkesinambungan, sejumlah pencapaian korporasi juga telah dicatatkan diantaranya pencapaian skor GCG tahun 2016 yang naik 10 poin dari tahun sebelumnya menjadi sebesar 93.32 dengan kategori “sangat baik”. Pencapaian skor KPI 2017 adalah 101,1% dengan hasil assessment KPKU memperoleh nilai 553,5 (klasifikasi good performance dengan rentang 476-575) dimana skor tersebut juga melebihi target KPKU 2017 yaitu 540.

Untuk target kinerja tahun 2018, pendapatan usaha ditargetkan naik 11,02% menjadi 11,68 trilliun, EBITDA diharapkan naik sebesar 6,8% menjadi 4,11 trilliun, sementara EBITDA Margin ditargetkan tumbuh 1,1% menjadi 37,05% dan BOPO diharapkan dapat turun 1,6% menjadi 69,43. Untuk kinerja operasional throughput petikemas diharapkan naik menjadi 7,10 juta TEUs atau meningkat 2,7%, throughput non petikemas naik 27,7% menjadi 72,86 juta ton, kunjungan kapal ditargetkan naik jadi 35 ribu unit dan arus penumpang diperkirakan turun 15,8% menjadi 511,7 ribu orang.

Pada Triwulan III tahun 2017, IPC telah mencatatkan sejarah baru di Pelabuhan Tanjung Priok, dimana untuk pertama kalinya IPC melayani kapal kontainer dengan kapasitas 10.000 TEUs yang merupakan kapal terbesar yang pernah bersandar di Indonesia. Kapal besar dengan layanan Java – America Express (JAX) Service ini melayari rute Pelabuhan Tanjung Priok ke West Coast (LA & Oakland) Amerika Serikat (direct call) dan saat ini telah menambah rute pelayanan direct call ke Eropa dengan layanan South East Asian – North Europe (SEANE), serta layanan langsung ke China, Vietnam dan Korea.

Selama satu semester hingga akhir 2017 JAX Service berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok berhasil mencatatkan 38 call dengan total 3.681.060 GT dan melayani bongkar/muat sebanyak 124.302 TEUs petikemas. Sedangkan selama satu triwulan untuk SEANE Service berhasil melabuhkan 19 call dengan total 986.057GT dan melayani bongkar/muat sebanyak 30.672 TEUs petikemas.

“Keinginan Pemerintah untuk menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai transshipment port bukan sekedar angan-angan. Kami telah menyiapkan roadmap yang membuat IPC menuju world class port, dengan memperbaiki pelayanan dan jasa di pelabuhan, baik dengan optimalisasi penggunaan system IT, operasional, fasilitas, maupun infrastruktur. IPC berharap dengan dukungan dari Pemerintah, perusahaan pelayaran dan pemilik kargo dapat menjadi pemicu hadirnya kapal-kapal besar untuk melakukan konsolidasi muatan di Tanjung Priok sehingga dapat memenuhi harapan Pemerintah yaitu menjadikan Tanjung Priok sebagai pelabuhan transshipment yang diperhitungkan di kawasan Asia,” ujar Elvyn.

Pembuatan CFS Center ditujukan untuk memberi pilihan dan kemudahan bagi pengguna jasa dalam bertransaksi serta tansparansi dalam hal biaya yang dikeluarkan. Dengan integrasi tiga pusat konsolidasi kargo atau Container Freight Station (CFS) di Pelabuhan Tanjung Priok, IPC optimis bahwa volume penanganan kontainer LCL akan terus meningkat karena sejak dibuka pada 20 November 2017, volume transaksi mengalami lonjakan. Per 18 Januari 2018, volume transaksi telah mencapai 5.564 transaksi atau 309 transaksi per hari. Sementara itu, saat memulai debut perdana di November, rata-rata transaksi per hari hanya 42 transaksi, diharapkan volume transaksi bakal mencapai sekitar 7.000 transaksi di akhir Januari 2018.

Integrasi CFS juga bakal diterapkan di pelabuhan lain yang masih dalam wilayah kerja IPC. CFS hadir agar proses pelayanan menjadi ringkas/sederhana sehingga menjadi efisien bagi pengguna jasa, dimana integrasi CFS mencakup manajemen data pelanggan, CFS booking service, layanan nota, pembayaran elektronik, tracking kargo, dan customer care. Selain sistem CFS yang sudah berjalan online dan beroperasi 24/7, kedepannya, sistem layanan CFS akan terus disempurnakan dan ditambah fitur baru seperti multi channel payment serta invoice langsung ke pemilik barang/consignee.

Pada bulan Desember 2017 IPC mencatatkan sejarah dengan lahirnya anak perusahaan ke-17 yaitu PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) sebagai satu-satunya anak perusahaan BUMN yang bergerak di bidang investasi yang memfokuskan diri pada industri kepelabuhanan. Selain itu, anak perusahaan IPC yang bergerak dalam layanan kapal yakni PT Jasa Armada Indonesia, Tbk (JAI) telah resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tercatat dengan kode saham “IPCM”. Harga IPO saham JAI ditetapkan sebesar Rp 380 per lembar saham dan telah naik sebesar 5% di hari pertama pencatatan serta mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) saat proses penawaran awal (bookbuilding) sebanyak dua kali.

Terkait Pembangunan Terminal Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok / New Priok Container Terminal One (NPCT1) berkapasitas 1,5 juta TEUs yang sudah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 September 2016 telah beroperasi secara penuh hingga pada Maret 2018 ini diharapkan dapat berhasil mencatatkan pelayanan 1 Juta TEUs petikemas. Pembangunan Container Terminal 2 dan Container Terminal 3 juga terus dikerjakan dan diproyeksikan memiliki total area 72 Ha dengan kapasitas 3 juta TEUs/Tahun, sedangkan untuk Product Terminal 1 dan Product Terminal 2 dengan total area 72 Ha nantinya akan mampu menampung kapasitas sebesar 10 juta m3 /Tahun.

Untuk pembangunan Terminal Kijing di Kalimantan Barat yang merupakan ekstensi dari Pelabuhan Pontianak sendiri direncanakan akan dikerjakan dengan 2 tahap serta dibagi menjadi empat terminal yakni Terminal Petikemas, Terminal Multipurpose, Terminal Curah Cair dan Terminal Curah Kering. Pelabuhan Kijing diproyeksikan akan menampung kapasitas hampir 1 juta TEUs petikemas, 8 juta ton CPO, dan 15 juta ton curah kering. 

Proyek Pembangunan Kanal CBL (Cikarang Bekasi Laut) merupakan upaya optimalisasi alur sungai dengan menggunakan kapal tongkang sebagai alternatif moda transportasi barang dan penghubung antara pelabuhan dengan area hinterland sehingga dapat mengurangi kongesti jalan di darat dan diharapkan berdampak pada efisiensi waktu dan biaya. Proyek ini dibangun dengan melalui tiga tahapan, yang kedepannya akan dilengkapi dengan Terminal Petikemas dan Terminal Curah yang diharapkan selesai pada tahun 2021. 

Pembangunan Pelabuhan Sorong di Papua Barat direncanakan untuk menjadi pelabuhan hub di Indonesia Timur sehingga arus tol laut yang ditargetkan hingga ke timur Indonesia dapat berjalan sesuai rencana. IPC berupaya untuk memulai pembangunan Tahap I Pelabuhan Sorong dengan proyeksi kapasitas 500,000 TEUs. Penandatanganan kesepakatan pengembangan Sorong Terintegrasi antara IPC dengan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) telah dilakukan, serta berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dalam Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Sorong Terintegrasi. 

Untuk meningkatkan sinkronisasi dan sinergitas antar stakeholders terkait, IPC berencana untuk membangun Maritime Tower di Jakarta Utara, yang akan menjadi pusat aktifitas seluruh stakeholder pelabuhan. Pembangunan Maritime Tower ini bertujuan untuk memudahkan komunikasi antar pihak.

“Saat ini IPC tengah mengembangkan gagasan “Pelabuhan Indonesia Incorporated” dimana sebagai tahap awal akan dijajaki pelaksanaan cross ownership program yaitu menggabungkan beberapa anak perusahaan sejenis yang dimiki PT Pelindo I – IV sehingga dapat memberi dampak pasar yang lebih luas, serta mempunyai kesamaan standarisasi operasional maupun sistem sehingga dapat memberikan pelayanan jasa yang maksimal kepada para pengguna jasa pelabuhan,” tutup Elvyn. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.