Pariwisata adalah “GAS” dan Kebudayaan “REM” Bagi Laju Pesat Bangsa

Wiendu Nuryanti dan Joop Ave
Wiendu Nuryanti dan Joop Ave

Dalam Kenangan: Joop Ave, Bapak Pariwisata Indonesia

Oleh: Wiendu Nuryanti, Wakil Menteri bidang Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Yogyakarta, 9 Februari 2014. Joop Ave, mantan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Menparpostel) serta tokoh pariwisata & kebudayaan meninggal dunia di Singapura dalam usia 79 tahun pada 5 Februari 2014 lalu.

Berbagai kalangan menyampaikan bahwa Indonesia telah kehilangan seorang tokoh visioner yang menjadi teladan dan inspirasi dalam pembangunan bidang pariwisata dan kebudayaan di Indonesia. Salah seorang sahabat, Wiendu Nuryanti, Wakil Menteri bidang Kebudayaan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berbagi kenangan tentang sosok yang dikenal kaya akan gagasan-gagasan besar namun demikian rendah hati dan mampu berbaur erat dalam beragam lingkungan.

Perkenalan pertama saya dengan Bapak Joop Ave, yang akrab dipanggil pak Joop, membawa ingatan saya melayang paling tidak dua puluh lima tahun silam, tepatnya tahun 1988. Ketika itu pak Joop adalah Dirjen Pariwisata pada Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi. Suatu hari staf dari lembaga tersebut datang ke Universitas Gadjah Mada untuk mencari tahu siapa pengirim sebuah tulisan tentang konsep pentingnya sebuah even intelektual kebudayaan berskala dunia, yang menurut staf pembawa disposisi tersebut tertulis perintah “cari sampai ketemu siapa pembuat proposal ini”.

Jadi perkenalan dengan pak Joop didahului dengan perkenalan dan pertukaran ide dan gagasan, kemudian dilanjutkan dengan berbagai dialog intelektual seputar potensi Indonesia yang begitu besar dan sangat kuat untuk menjadi titik sentral dalam percaturan dunia di bidang kebudayaan dan pariwisata. Mengingat potensi Indonesia secara geografis sebagai negara kepulauan (archipelago), dengan keragaman etnis yang kaya akan adat tradisi dan karya seni budaya, serta perjalanan sejarah peradaban bangsa Indonesia yang mewariskan peninggalan-peninggalan arkeologis yang menakjubkan dan monumental, maka pak Joop selalu mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah mobil, dengan pariwisata adalah “gas”-nya,  sedangkan kebudayaan adalah “rem”-nya,  untuk mencapai tujuan akhir, yaitu kesejahteraan rakyat, yang memerlukan keseimbangan antara dua komponen terpenting tersebut yang dimiliki negara kita.

Pak Joop tidak pernah berhenti berpikir intelektual dan sekaligus kreatif. Bahkan sampai saat-saat terakhirnya pun, ketika kondisi fisiknya telah melemah, pak Joop masih memprakarsai penulisan beberapa buku untuk selalu menggali dan mempromosikan kebudayaan Indonesia di panggung internasional. Bulan yang lalu saya masih beruntung di Goethe Institute Kedutaan Jerman, berkesempatan meluncurkan dan membahas bukunya terakhir yang sangat indah dan dalam, berjudul “Times, Rites and Festival in Bali”.

Perkenalan dengan pak Joop berevolusi menjadi sebuah persahabatan yang sangat indah justru ketika beliau sudah tidak terkait di pemerintahan lagi. Beberapa kali pak Joop sempat menawarkan untuk membantu di birokrasi kepariwisataan, namun keharusan untuk menyelesaikan program S3 di luar Indonesia belum memungkinkan untuk dapat membantu berkiprah. Benang merah perjalinan persahabatan ini disebabkan oleh berbagai kesamaan kecintaan akan dunia arsitektur, seni, buku dan tentu saja berwisata.

Walaupun dalam beberapa hal bisa sangat berbeda, misalnya pak Joop sudah sangat jelas lebih menggeluti ke arah hal-hal yang bersifat “grand culture” baik dalam seni tata ruang interior maupun karakter festivity dalam setiap ekspresi kehidupannya. Setiap hal selalu dilakukan dengan “style”, mulai dari yang paling kecil seperti bagaimana pentingnya komposisi warna, bentuk dan rasa dalam menyajikan jajan pasar “mini”, sampai dengan sukses besarnya dalam membuat puluhan kepala negara berbaju batik ketika menghadiri even kenegaraan di Indonesia.

Di usia berapapun, kepergian seorang sahabat yang juga sekaligus guru tempat berkonsultasi dan partner diskusi, menorehkan rasa kehilangan yang dalam karena sulit tergantikannya. Jasad bisa tiada kapan saja karena Sang Pencipta. Namun gagasan besarnya sebagai sumber inspirasi yang tidak pernah akan berhenti, tetap hidup di dalam jiwa kita semua untuk meneruskan perjuangan membesarkan Indonesia selama-lamanya. Selamat Jalan Bapak Pariwisata Indonesia . . . . Salam Budaya.

(Wiendu Nuryanti, Wakil Menteri bidang Kebudayaan, dan sahabat Bapak Joop Ave).  

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.