DMO Bangkitkan Kembali Kejayaan Pariwisata Toraja

Adu kerbau, tradisi unik masyarakat Toraja.
Adu kerbau, tradisi unik masyarakat Toraja.

Toraja Utara (Paradiso) – Daya tarik ekowisata Toraja di Sulawesi Selatan tak kalah unik dengan Bali, pada era 1970 hingga 1990 an Toraja sebagai destinasi wisata populer setelah Bali. Sebelum krisis moneter melanda Indonesia, nama Toraja begitu dikenal wisatawan, khususnya wisatawan Eropa cukup tinggi berkunjung ke wilayah ini. Namun setelah krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998, Toraja seakan ditinggalkan wisatawan, kunjungan ke Toraja turun drastis dan berimbas sampai sekarang.

Beberapa tahun belakangan nama Toraja kembali mencuat sebagai destinasi favorit wisatawan khususnya Eropa yang tertarik dengan produk ekowisata. Program DMO (Destination Management Organization) atau disebut program tata kelola destinasi pariwisata terpadu sebagai pilihan strategis untuk mendorong peningkatan kualitas destinasi pariwisata Toraja yang menonjolkan ekowisata agar daya saing meningkat dan berkelanjutan.

Direktur Perancangan Destinasi dan Investasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata, DR. Frans Teguh mengatakan DMO merupakan program dalam rangka meningkatkan tata kelola destinasi pariwisata untuk mewujudkan nilai attractiveness, competitiveness dan sustainability dengan melibatkan seluruh stakeholder pariwisata.

Peserta Famtrip DMO Toraja
Peserta Famtrip DMO Toraja

Potensi daya tarik wisata Toraja sangat besar dan beragam, baik alam maupun budaya yang tersebar di wilayah Tana Toraja dan Toraja Utara. Keunikan budaya Toraja dipadu bentang alam yang mempesona menjadikannya destinasi favorit wisatawan.

Saat ini produk pariwisata yang ditawarkan Toraja didomimasi dengan daya tarik kuburan/makam (liang) yang seringkali dianggap “monoton” dengan daya tarik wisata yang kesannya membosankan. Hal ini dikawatirkan akan mulai membosankan wisatawan.

Untuk itu perlu dikembangkan daya tarik wisata baru lainnya untuk dikemas menjadi produk pariwisata dan paket-paket wisata yang dapat ditawarkan ke segmen pasar wisatawan Toraja yang lebih luas.

Dalam rangka memperkenalkan lagi daya tarik wisata Toraja yang telah berbenah dengan DMO, Kementerian Pariwisata menggelar famtrip potensial buyers yang diikuti biro perjalanan wisata potensial dan media ke Toraja, Sulawesi Selatan pada 16-19 November 2014.

Diharapkan dari kegiatan famtrip ini dapat disusun dan dijual paket-paket wisata Toraja yang “baru” dan bisa menyebarluaskan informasi/promosikan produk pariwisata Toraja ke berbagai segmen pasar wisatawan potensial Toraja.

Ucapan “Jangan mati sebelum ke Toraja” bukan basa-basi. Pasalnya Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan menyimpan keunikan budaya yang sukar dicari tandingannya di dunia. Inilah yang menyebabkan nama Toraja sangat dikenal di kalangan wisatawan mancanegara.

Saat peserta famtrip DMO Toraja memasuki Kota Rantepao, ibu kota Kabupaten Toraja Utara pada Minggu (16/11/2014), peserta diajak menyaksikan deretan rumah adat khas Toraja yang dihiasi susunan tanduk kerbau yang begitu memukau terutama bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke kota ini.

Perjalanan selama sekitar 8 jam dari Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan menuju Rantepao memang melelahkan. Tapi semua terbayarkan dengan pemandangan pantai dan bukit yang menjulang tinggi di kiri-kanan jalan yang sangat menawan.

Makam para raja-raja Toraja.
Makam para raja-raja Toraja.

Toraja menyimpan tradisi unik yang masih tetap terjaga dan diwariskan secara turun temurun. Upacara kematian dan penyimpanan jenazah di bukit-bukit sekitar desa selalu menarik perhatian wisman. Daya tarik Kabupaten Toraja Utara ini memang dimanfaatkan betul bagaimana menarik wisatawan dan sekaligus menyejahterakan masyarakat dari sektor pariwisata.

Wakil Bupati Toraja Utara Frederik Buntang Rombelayuk mengakui kabupaten ini tidak memiliki tambang dan laut. “Kami hanya memiliki alam dan budaya. Ini daya tarik kami. Gubernur Sulsel mengatakan, ‘Jangan mati sebelum ke Toraja’,” kata Frederik di rumah dinasnya saat menerima rombongan Famtrip DMO Toraja, Senin (17/11/2014) malam.

Selain alam dan budaya yang mampu menyedot kunjungan wisatawan, Toraja Utara juga memiliki minuman khas yakni kopi toraja dan terong toraja. “Minum kopi di Toraja lebih nikmat, apalagi mencoba nikmati juice terong toraja, sama nikmatnya,” kata Frederik.

Terong toraja berwarna merah, hampir mirip dengan markisa. Dua produk ini menjadi andalan wisatawan untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh usai mengunjungi Toraja.

Frederik menuturkan warga Toraja sangat terbuka terhadap kunjungan tamu atau wisatawan. Mereka tak segan-segan menyambut tamu dengan ramah. Tak tanggung-tanggung masyarakat secara terbuka menawarkan makanan bagi tamu yang lewat. “Bagi warga Toraja tamu membawa berkah,” ujarnya tersenyum ramah.

Kesempatam sama, Ketua Asita Bali, I Ketut Ardana yang turut dalam rombongan famtrip mengatakan Toraja merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia yang selalu menarik wisatawan tak ubahnya seperti keelokan Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, Danau Toba, Derawan dan masih banyak lagi. “Nama Toraja sudah lama harum di mancanegara dan layak jual,” katanya.

Ardana mengakui, pihaknya sering mengirimkan wisman dari Bali ke Toraja. Namun dia juga menyebutkan beberapa kendala dalam memajukan pariwisata Toraja. Masalah aksesibilitas menuju obyek wisata perlu ditangani Pemkab Toraja Utara. “Berikutnya kejelasan atau petunjuk menuju obyek wisata,” ungkapnya.

Terkendala Jarak Tempuh

Pada esoknya, Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung juga berkesempatan menerima rombongan Famtrip DMO Toraja, di Makale, Selasa (18/11/2014) sore. Menurut Theofilus, selain wisata budaya juga ada wisata alam dan wisata religi. Pemkab Tana Toraja juga berencana membangun patung Yesus Kristus tertinggi di dunia.

Rumah adat Toraja.
Rumah adat Toraja.

“Patung raksasa itu akan dibangun setinggi 40 meter di Bukit Burake. Nantinya tinggi patung bakal mengalahkan patung Christ the Redeemer di Rio de Janeiro, Brasil,”ungkapnya.

Namun jarak Makassar-Toraja yang cukup jauh (sekitar 8 jam perjalanan lewat darat) membuat Toraja hanya benar-benar dikunjungi oleh wisatawan yang berminat mengetahui lebih mendalam budaya dan adat istiadat Toraja.

Sebenarnya, lanjut Theofilus, Kabupaten Tana Toraja memiliki bandara perintis yang diberi nama Pongtiku dengan landasan sepanjang 900 meter. Namun penerbangan hanya berlangsung setiap Senin dengan sekali penerbangan dari dan ke Makassar. “Saat ini kami sedang merencanakan membangun bandara baru dengan landasan sepanjang 1.900 meter. Sekarang dalam tahap pembebasan lahan,” katanya.

Oleh karena itu Pemkab Tana Toraja tetap gencar mengundang investor untuk menanamkan modalnya dalam pembangunan sarana akomodasi di wilayah ini.

Bupati juga menyadari, Tana Toraja tidak hanya fokus pada wisata budaya dengan mengandalkan keunikan tradisi Toraja dengan rumah adat dan acara budaya namun juga mulai mengembangkan wisata lainnya seperti wisata agro. Caranya dengan mengajak wisatawan memasuki kebun kopi saat mereka menuju Pango-pango, lokasi sejuk di pegunungan. Dari puncak bukit ini, wisatawan akan melihat pemandangan Kota Makale.

“Saya menginginkan warga Toraja hidup sejahtera dari sektor pariwisata. Saya kejar pembangunan infrastuktur. Pango-pango saya buka dengan melebarkan jalan dan menambah jumlah restoran. Tahun 2016 saya targetkan jalan-jalan tersebut sudah lebar semua,” katanya.

Selain itu, lanjut Theofilus, wisatawan yang datang ke Toraja menginginkan suvenir khas Toraja dan kuliner. “Tahun 2015 saya akan bangun gedung suvenir sehingga memudahkan wisatawan mencari produk dan makanan khas Toraja,” ungkapnya.

Pengembangan Bisnis

Program DMO sendiri dimulai sejak tahun 2010, saat ini (2014) telah dilaksanakan di 16 (enam belas) daerah destinasi pariwisata yaitu yaitu dari cluster Ekowisata: Pangandaran – Jawa Barat, Flores – Nusa Tenggara Timur, Tanjung Putting – Kalimantan Tengah, Sanur – Bali. Cluster Geowisata: Toba – Sumatera Utara, Bromo Tengger Semeru – Jawa Timur, Batur – Bali, Rinjani – Nusa Tenggara Barat.

Cluster Heritage/Budaya: Kota Tua – DKI Jakarta, Borobudur – Jawa Tengah, Toraja – Sulawesi Selatan. Cluster Wisata Bahari: Sabang – Aceh, Derawan – Kalimantan Timur, Bunaken – Sulawesi Utara, Wakatobi – Sulawesi Tenggara, Raja Ampat – Papua Barat.

Frans Teguh dalam kesempatan terpisah menambahkan, diperlukan pengembangan bisnis. Pada tahap saat ini ditekankan pada peningkatan kapasitas usaha dan industri, penguatan backward and forward linkage dan pengembangan ekonomi kreatif. Selanjutnya tahapan penguatan dan penataan Organisasi Pengelolaan Destinasi. Pada tahapan keempat ini, cluster-cluster DMO difokuskan kepada pembentukan Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP).

“Fokus kepada pembentukan forum untuk menggalang kerjasama, komunikasi, koordinasi, sinergi sistem yang dinamis, jejaring dan kepemimpinan dalam pengelolaan destinasi. FTKP merupakan alat untuk mengaktivasi fungsi-fungsi tata kelola destinasi pariwisata dengan menggunakan konsep Destination Management Organization (DMO) dan Destination Governance (DG),” jelas Frans Teguh.

Frans juga berharap DMO harus dapat memotivasi para pihak untuk dapat meningkatkan kualitas external destination marketing dan internal destination development dan destination governance sehingga dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan pada masing-masing cluster dengan target lima persen pada akhir tahun 2014. (bowo)

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.