DMO Jadi Kunci Keberhasilan Kelola Destinasi Pariwisata

KONFERENSI DMO (1)Jakarta (Paradiso) – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu membuka sekaligus sebagai keynote speech pada konferensi nasional “Destination Management Organization/DMO” 2014 yang berlangsung  di Swiss Belhotel Mangga Besar, Jakarta, Rabu (15/10).

Mari Pangestu mengatakan, program Destination Management Organization(DMO) merupakan program dalam rangkameningkatkan tata kelola destinasi pariwisata untuk mewujudkan nilai attractiveness, competitivenessdan sustainability dengan melibatkan seluruhstakeholder pariwisata.

Mari juga menjelaskan untuk mengembangkan destinasi pariwisata sangat memerlukan “sinergi” terpadu antara kementerian/lembaga dengan para pemangku kepentingan yang menjadi elemen penting dalam mengembangkan sektor pariwisata.“Format keterpaduan pembangunan kepariwisataan baik secara lintas sektoral, lintas pelaku maupun lintas wilayah regional yang sinergis dan berkelanjutan dibutuhkan untuk pengembangan strategi kepariwisataan,” kata Mari.

Lebih jauh, Mari mengatakan Konferensi Nasional DMO kali ini diharapkan dapat menghasilkanlangkah konkrit berupa model pengelolaan DMO melalui Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP). Tentunya, forum bertujuan untuk menggalang kerjasama, komunikasi, koordinasi, sinergi sistem yang dinamis, jejaring dan kepemimpinan dalam pengelolaan destinasi.

“Kami juga mengharapkan dengan adanya Konferensi ini akan menghasilkan suatu exit strategy tahun 2009 – 2014 dan skenario pemgembangan Destination Management Organization / Destination Governance untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015 – 2019. Pada tahun 2015 – 2019, DMO akan mengembangkan lokus pengembangan menjadi 25 destinasi pariwisata yaitu ditambah 9, Muaro Jambi, Sungai Musi –  Palembang Kota, Kepulauan Seribu, Menjangan – Pemuteran, Sentarum, Belitung, Nias, Morotai, dan Pulau Komodo,” kata Mari.

Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata (Pjs) Kemenparekraf,   Dadang Rizki Ratman,mengatakan  program DMO dimulai sejak tahun 2010 – 2014 dan telah dilaksanakan di 16 (enam belas) daerah destinasi pariwisata yaitu yaitu dari cluster Ekowisata: Pangandaran – Jawa Barat, Flores – Nusa Tenggara Timur, Tanjung Putting – Kalimantan Tengah, Sanur – Bali. Cluster Geowisata: Toba – Sumatera Utara, Bromo Tengger Semeru – Jawa Timur, Batur – Bali, Rinjani – Nusa Tenggara Barat.

Cluster Heritage/Budaya: Kota Tua – DKI Jakarta, Borobudur – Jawa Tengah, Toraja – Sulawesi Selatan. Cluster Wisata Bahari: Sabang – Aceh, Derawan – Kalimantan Timur, Bunaken – Sulawesi Utara, Wakatobi – Sulawesi Tenggara, Raja Ampat – Papua Barat.

Dari ke-16 lokasi DMO, 15 diantaranya merupakan destinasi yang juga termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPARNAS, PP no 50/2011).  Dalam PP ini ditetapkan 50 Destinasi Pariwisata Nasional, 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional dan 222 Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional.

Direktur Perancangan Destinasi dan Investasi Pariwisata, Frans Teguh menambahkan realisasi kegiatan DMO tergantung dari dinamika dan karakteristik destinasi serta isu-isu strategis yang harus di tangani. DMO dilakukan secara bertahap dan merupakan komitmen multiyear (2010-2014). Secara tahapan transformasi pada tahun pertama, program DMO berada pada tahapan penguatan gerakan kesadaran kolektif stakeholder.

“Pertama adalah tahap penguatan gerakan kesadaran kolektif stakeholders dengan stakeholders mapping dan penanaman ownership &involvement dari para pihak di lokus DMO. Kedua, tahapan pengembangan manajemen destinasi. Pada tahapan kedua lebih ditekankan pada peningkatan kapasitas dan penataan serta revitalisasi destinasi pada fasilitas, aksesibilitas dan masyarakat,” ujar Frans Teguh.

Frans menambahkan, untuk tahap ketiga adalah pengembangan bisnis. Pada tahapan ketiga lebih ditekankan pada peningkatan kapasitas usaha dan industri, penguatan backward and forward linkage dan pengembangan ekonomi kreatif. Dan keempat, tahapan penguatan dan penataan Organisasi Pengelolaan Destinasi. Pada tahapan keempat ini, cluster-cluster DMO difokuskan kepada pembentukan Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP).

“Karena kita sekarang berada di tahap ke-empat, maka fokus adalah kepada pembentukan forumuntuk menggalang kerjasama, komunikasi, koordinasi, sinergi sistem yang dinamis, jejaring dan kepemimpinan dalam pengelolaan destinasi. FTKP merupakan alat untuk mengaktivasi fungsi-fungsi tata kelola destinasi pariwisata dengan menggunakan konsep Destination Management Organization (DMO) dan Destination Governance (DG),” jelas Frans Teguh.

Konferensi Nasional DMO 2014 yang berlangsung selama dua hari  (15-16 Oktober 2014) merupakan konferensi nasional ke lima, setelah tahun sebelumnya dilaksanakan di Manado – Sulawesi Utara pada 2013, Parapat, Danau Toba – Sumatera Utara pada 2012 dan Labuan Bajo, Flores pada 2011 serta Jakarta pada 2010.

Konferensi nasional ini dihadiri dari unsur pemerintah daerah, pelaku usaha sektor pariwisata, akademisi, swasta, LSM dan masyarakat yang diwakili oleh Kelompok Kerja Lokal/Local Working Group (LWG) 16 DMO di Indonesia akan berbagi pengalaman dan pengetahuan berbagai pihak dari pembelajaran (learning journey) untuk mendorong percepatan pengembangan DMO di Indonesia.

Hadir sebagai narasumber dalam Konferensi Nasional DMO 2014 antara lain; Alastair Morrison, Ph.D (Swiss Contact), Arif Satria (IPB), Oliver Oehms (GIZ), I Gede Ardika, lintas kementerian (BAPPENAS, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kehutanan, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Kelautan dan Perikanan,Kementerian Lingkungan Hidup), Direktur BNI dan Direktur Bank Mandiri.

Pada hari pertama konferensi, seusai paparan dari nara sumber,  dilanjutkan dengan exposepencapaian DMO oleh masing-masing fasilitatordestinasi. Pada hari kedua, dilakukan product knowledge of DMO dengan melakukan kunjungan ke Soenda Kelapa “The Voice of Marine: embrace the story of our sailor’s ancestor dan Kampung Cina“Once upon a time in Glodok Chinatown: where soul the past breathes in the present…”

Pemberian Penghargaan DMO

KONFERENSI DMO (2)Pada konferensi kali ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memberikanpenghargaan DMO Champion kepada para pihak dalam pengembangan tata kelola destinasi pariwisata.

Frans Teguh mengharapkan penghargaan tersebut mampu mendorong, mengaktivasi, menguatkan tata kelola destinasi pariwisata serta memberikan kontribusi yang diperlukan dalam konteks pembangunan sistem dan manajemen kepariwisataan dengan memberikan bobot terhadap keberlanjutan nilai lokal dan lokalitas.

“DMO harus dapat memotivasi para pihak untuk dapat meningkatkan kualitas external destinationmarketing dan internal destination development dandestination governance sehingga dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan pada masing-masing cluster dengan target lima persen pada akhir tahun 2014,” Frans Teguh. (bowo)

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.