Eksotisme Sonaf Biboki Terpancar dari Panggung Musik Crossborder Kefamenanu

KEFAMENANU (Paradiso) – Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019 bakal menyingkap eksotisme warna Sonaf Biboki. Nuansanya direpresentasikan melalui Desa Adat Tamkesi. Yaitu, situs megalitik yang disakralkan Tanah Timor.

Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Raymundus Sau Fernandes mengatakan, situs megalitik tersebut memiliki ornamen kental dengan filosofi besar yang menginspirasi. Artefak-artefak dengan nilai sejarah pun masih utuh hingga kini.

“Beragam kekayaan Tanah Timor akan didisplay dalam Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019. Acara ini akan berlangsung tanggal 9-10 Agustus mendatang, di Lapangan Oenamu, Kefamenanu, TTU, Nusa Tenggara Timur,” ujarnya, Rabu (31/7).

Dalam Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019, masyarakat akan dihibur aksi pangung dari Tipe-X Band, Vicky Salamor, dan Maria Vitoria asal Timor Leste. Di luar itu, kegiatan ini menawarkan sisi lain warna budaya lokal.

Fernandes menjelaskan, wisatawan bisa mengeksplorasi peradaban tinggi Sonaf (Kerajaan) Biboki di Tamkesi. Menjadi pusat Sonaf baru, Tamkesi dibangun pada tahun 1865. Ada banyak artefak yang bisa dijumpai. Pemerintahan Sonaf Biboki sendiri awalnya dipusatkan di Kolan Ha Siun Ha. Daerah tersebut kini masuk wilayah Desa Oepuah (Wini).

“Berada di Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019, wisatawan harus berkunjung ke Tamkesi. Di situ bisa dijumpai peradaban dan kemegahan Kerajaan Biboki. Semuanya otentik. Nuansa tradisional ini masih kental dan memang dipertahankan,” ungkapnya.

Dianggap sebagai pusat geografis bumi, Tamkesi berada di antara 2 gunung batu. Ada Gunung Oepuah dan Tapenpah. Keduanya menjadi simbol kekuatan kosmis. Dimanifestasikan dalam berbagai pola hubungan barat-timur. Pada sisi timur, Gunung Tapenpah mewakili unsur lelaki. Pemegang kekuasaan eksekutif kerajaan. Selain harus mempertahankan wilayahnya, mereka juga bertugas mengorganisir para neno.

Sementara pada sisi barat, menjadi representasi unsur wanita. Di sana ada mata air Oe Puah. Korelasi barat-timur tersebut lalu membentuk pah nitu (tanah air) sebagai tempat asal. Menariknya, di sini ada sonaf induk berupa Neno Biboki (Surga Biboki). Bangunan paling sakral dan jadi sumber kekuatan penguasa.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani menuturkan, Neno Biboki berada di sisi barat dan posisinya paling tinggi. Di bawahnya ada Sonaf Namnu, Unu, dan Nana. Pada sisi terbawah ditempati Sonaf Uskenat dan Sul Nuaf.

“Sonaf Biboki dengan Tamkesi menjadi destinasi menarik. Ada banyak hal yang bisa dinikmati di sini. Budaya dan alamnya luar biasa,” terangnya.

Secara fisik, posisinya terlindung. Sebab, Tamkesi dikelilingi 3 lapis benteng. Dinding tebing bentengnya tersusun dari bebatuan dengan usia ratusan tahun. Kawasan ini dilengkapi dengan 2 pintu gerbang. Ada Fai San Nionu (pintu gerbang matahari naik) dan Bel Sinkone (pintu gerbang matahari terbenam). Bisa dijumpai juga 4 mata air dan 2 diantaranya suci. Seperti Haonini dan Kuluan.

“Ada banyak sisi sejarah menarik yang bisa digali wisatawan di sini. Dengan nuansa seperti ini, kawasan tersebut sangat instagramable. Bagi pencari konten unik dan menarik, maka Tamkesi inilah tempatnya,” kata Ricky.

Wilayah Tamkesi terbagi dalam 7 zona. Semuanya berundak, menujukan tingkatan. Ada Tangga Lopo Ksalna sebagai Tasanut Kap Naijuf, lalu Sonaf Muni Naijufkole. Gambaran pemerintahan eksekutif berada di strip 3, yaitu Sonaf Nai Ha-Mone Ha. Berikutnya, Sonaf Ana Leu dan Neno Biboki-Funan Biboki In maen’na. Lalu, Sonaf Uskenat, Lopo Tainlasi-Lopo Taitoni, dan Pupna.

Menjadi puncak, Pupna juga memiliki 7 bangunan. Ada Paon Leu, Neno Biboki, Lopo Hau, hingga Lopo Tasu Nai Bukae. Berikutnya, ada Soan Bes’se, Soan Unu, dan Fatu Sonbai (tugu peringatan), hingga Neno Biboki-Funan Biboki dengan Sonbai. Angka 7 ini menjadi simbol rahmat Tuhan. Diantaranya makanan pokok, sayuran, buah, tanaman obat, tanaman untuk pakaian, hingga ternak.

“Destinasi tersebut semakin menarik. Sebab, masyarakatnya masih memegang erat tradisi. Semuanya lalu disinergikan hingga menjadi daya tarik pariwisata yang luar biasa,” jelas Ricky lagi.

Tamkesi dihuni Klan Usboko dari Suku Dawan atau Aiton Meto. Aiton Meto berasal dari kata Atoni. Artinya, manusia dengan pengkhususan laki-laki. Untuk Meto berarti kering (tandus). Identik dengan kondisi Tanah Timor yang didominasi Sabana dan Stepa. Etnis Aiton Meto menyebar di Timor Barat. Selain Sonaf Biboki, Aiton Meto menyebar di Insana, Oenam, dan Amanuban.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, TTU banyak memiliki destinasi menarik. Kombinasi alam dan budayanya bagus untuk dieksplorasi. Wisatawan akan dibuat kagum saat berada di sini. Destinasinya membuat Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019 semakin menarik.

“Ada banyak sisi yang bisa digali dari destinasi ini. Kesemuanya menjadi gambaran betapa eksotisnya Tanah Timor. Silakan berkunjung ke sana dan eksplorasi beragam keunikan yang ditawarkan. Selain atraksinya, aksesibilitas dan amenitasnya pun terpenuhi dengan baik,” kata Menpar. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.