Erupsi Bromo Menjadi Daya Tarik Wisata Baru

Probolinggo (Paradiso) – Keindahan alam Gunung Bromo masih dapat dinikmati meski gunung tersebut masih dalam kondisi erupsi status Siaga III. Meski pengunjungnya harus dibatasi, tapi wisatawan tidak perlu khawatir karena Gunung Bromo masih dapat dikunjungi.

Bupati Probolinggo Tantriana Hasan Aminuddin mengatakan erupsi Gunung Bromo yang sudah berlangsung selama hampir tiga pekan bukan merupakan bencana tapi merupakan objek wisata yang eksotis.

“Ini eksotisme. Jangan sebut bencana. Proses erupsi itu sangat menarik. Bisa melihat erupsi itu tidak setiap hari tapi harus tunggu lima tahun,” ujar Tantriana saat menerima kunjungan sejumlah wartawan di Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (26/12/2015) belum lama ini.

Gunung Bromo saat ini mengalami erupsi dengan menyemburkan debu vulkanik secara terus-menerus kendati belum membahayakan warga sekitar. Namun Otoritas Gunung Bromo telah melarang wisatawan untuk tidak mendekati kawah gunung yang rata-rata lima tahun sekali meletus.

Dia mengaku terganggu dengan pemberitaan di media massa yang menyebutkan erupsi Gunung Bromo sebagai bencana karena erupsi itu merupakan salah satu fenomena alam yang bisa menjadi daya tarik wisata. “Biarkan Gunung Bromo mengambil peran sebagai gunung aktif dengan mengeluarkan isi perut bumi,” katanya.

Ia mengatakan pemberitaan yang menyatakan erupsi sebagai bencana membuat jumlah wisatawan yang berkunjung menjadi menurun drastis padahal pelaku pariwisata sudah siap menyambut momen liburan akhir tahun dan libur sekolah. “Proses erupsi sangat menarik untuk dilihat dan sangat aman asal berada pada radius yang tepat,” katanya

Ia mengatakan jarak aman untuk melihat erupsi adalah 2,5 km dari bibir kawah dan jarak itu masih dekat untuk melihat pemandangan erupsi.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Probolinggo Digdoyo Djamaluddin menambahkan justru saat erupsi menjadi momen bagi wisatawan untuk datang dan bukan malah membuat wisatawan menunda kunjungan.

“Ini fenomena langka. Erupsi ini merupakan pemandangan indah, bahkan bisa jadi ini termasuk pemandangan terindah di dunia,” katanya.

Waktu terbaik untuk melihat erupsi Bromo adalah setiap pagi hari antara pukul enam sampai tujuh karena kepulan asap dari kawah akan membentuk objek tertentu.

Didgoyo mengatakan sejumlah objek yang pernah terbentuk saat erupsi kali ini adalah bentuk tokoh wayang Buto Cakil, kembang api dan payung bertingkat tiga.

Dia juga mengakui akibat erupsi yang disebut sebagai bencana menyebabkan jumlah wisatawan merosot. Dari 150 kamar hotel yang tersedia, hanya 10 persen yang terisi padahal biasanya penuh jika musim liburan tiba.

Wisatawan Turun 70%

Arus kunjungan wisata ke Gunung Bromo dalam kurun waktu satu bulan terakhir jeblok hingga mencapai 70 persen. Pembatasan zona aman hingga radius 2,5 KM dari bibir kawah Gunung Bromo menjadi salah satu faktor penurunan jumlah wisatawan. Padahal kawasan lautan pasir dan puncak bibir kawah merupakan kawasan favorit yang menjadi jujugan wisatawan.

Digdoyo Djamaludin mengungkapkan, di kawasan Gunung Bromo terdapat 14 hotel dengan 494 kamar, 128 homestay dengan 300 kamar serta persewaan kamar 794 buah. Seluruh fasilitas penginapan tersebut mampu menampung 1.050 wisatawan.

“Selama status Gunung Bromo meningkat Siaga, terjadi penurunan drastis angka kunjungan wisatawan. Hingga 15 Desember, tingkat okupansi rata-rata 10 persen dari total kamar. Sementara booking hotel untuk liburan natal dan tahun baru yang di cancel mencapai 50 persen,” kata Digdoyo.

Hal sebaliknya terjadi di Kota Batu, Malang. Kesempatan terpisah, Koordinator Marketing Jatim Park 2 Anggun Dwi Cahyono mengatakan sebaliknya, kunjungan wisatawan ke Jatim Park 2 di Kota Batu mengalami kenaikan cukup tinggi.

“Jika akses ke Batu lebih baik, bisa jadi akan lebih ramai tempat wisata di sini karena wisata Batu jadi obyek tujuan wisata utama. Apalagi saat Bromo terkena Erupsi,” ujarnya.

Tidak hanya Jatim Park 2, destinasi wisata di kota Batu lainnya seperti Museum Angkut, Batu Next Spectaculer, Museum Tubuh, dan Museum Satwa mengalami lonjakan wisatawan.

“Selama liburan ini, satu tempat dikunjungi 8 ribu orang yang di hari biasa hanya 1.000 – 2.000 orang. Tempat wisata tetap ramai karena gak ada efek dari debu Gunung Bromo. Kebanyakan pengunjung dari lokal, untuk luar kota kebanyakan Jakarta dan Jawa Tengah selain manca negara,” ujarnya.

Bromo dan Kota Batu merupakan destinasi wisata favorit di Jawa Timur, banyak travel agent menjual destinasi wisata Bromo dan Kota Batu menjadi satu paket wisata. (bowo)

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.