Garuda Indonesia Tingkatkan Konektivitas di Indonesia Timur

Para pembicara seminar, Mari Elka Pangestu (tengah), Emirsyah Satar dan Wiryanti Sukamdani.
Para pembicara seminar, Mari Elka Pangestu (tengah), Emirsyah Satar dan Wiryanti Sukamdani.

Jakarta (Paradiso) – PT Garuda Indonesia dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sepakat meningkatkan konektivitas udara pulau-pulau di Indonesia timur sebagai salah satu upaya pengembangan pariwisata di Tanah Air.

“Apa yang dilakukan Garuda Indonesia akan sangat membantu pengembangan sektor pariwisata,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu dalam seminar bertema “Membuka Konektivitas Pulau-pulau di Indonesia Timur untuk Pengembangan Pariwisata” yang diselenggarakan Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu (26/3/2014).

Pihaknya menyatakan sangat menghargai langkah maskapai pelat merah itu untuk mengembangkan rute penerbangan ke wilayah terpencil di Indonesia timur dengan menggunakan pesawat ATR72-60- dan Bombardier.

Seminar yang digagas Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan didukung Maskapai Garuda Indonesia ini bertujuan untuk mengembangkan potensi wisata di Indonesia Timur yang begitu besar. Hadir sebagai pembicara seminar ini Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Tbk Emirsyah Satar dan Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI), Wiryanti Sukamdani.

Dalam dua tahun terakhir, Garuda Indonesia kembali memperkuat jaringan penerbangan di pasar domestik antara lain dengan membuka rute ke ‘remote area’ dengan menggunakan pesawat ATR72-600 dan Bombardier CRJ1000 NextGen yang dioperasikannya sejak Oktober 2012.

Pesawat itu mampu melayani rute-rute penerbangan ke wilayah-wilayah baru di kawasan timur Indonesia yang memiliki keterbatasan landasan.

“Kami berharap, pelaku industri dapat bersinergi dengan Garuda Indonesia untuk mendukung pariwisata nasional sebagai sektor ekonomi yang punya potensi besar mendorong peningkatan peran ekonomi rakyat dalam kancah perekonomian nasional maupun global,” kata Menteri.

Kesempatan sama Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan pihaknya sejak 2011 telah menetapkan Makassar sebagai “hub” untuk wilayah Indonesia Timur yang menghubungkan Makassar dengan 15 kota-kota di sekitarnya, serta Jakarta dan Singapura.

“Pengoperasian pesawat ATR72-600 akan mendukung operasional pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen dalam meningkatkan konektivitas nasional sesuai program MP3EI, dengan mengembangkan jaringan penerbangan ke wilayah-wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dan tujuan wisata di remote area di Indonesia,” katanya.

Dalam MP3EI untuk Wilayah Koridor V, sejak 2 Desember 2013, Garuda Indonesia telah mengoperasikan “Explore” flight melalui pesawat ATR72-600 dengan konfigurasi single class cabin (All Economy) berkapasitas 70 penumpang untuk melayani penerbangan dari Denpasar ke Labuan Bajo, Tambolaka, Ende, dan Bima.

Selanjutnya dari Makassar dan Ambon untuk melayani rute-rute penerbangan di wilayah tersebut. “Di luar Koridor V pelayanan ke Sorong juga sudah dimulai dan mempermudah akses ke Raja Ampat,” kata Emir.

Dengan mengoperasikan ATR72-600, BUMN penerbangan itu akan semakin meningkatkan konektivitas  daerah-daerah di “remote area” dengan melayani rute-rute penerbangan dengan jarak tempuh kurang dari 400 km di seluruh wilayah nusantara.

Hal ini dimungkinkan mengingat pesawat ATR72-600 tersebut memiliki kapabilitas untuk menjangkau bandara-bandara kecil yang memiliki panjang landasan pacu kurang dari 1.600 meter – yang tidak dapat didarati oleh pesawat jet.

“Ini kami harapkan mampu meningkatkan akses dan konektivitas jalur udara ke wilayah-wilayah potensial di Indonesia Timur,” ujar Emirsyah.

Sementara itu, Wiryanti Soekamdani, Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) yang menyoroti pelaku bisnis, kendala infrastruktur di kawasan Indonesia Timur masih menghambat minat mereka untuk mengembangkan daerah wisata di luar wisata mainstream.

Padahal ketika bicara soal industri pariwisata, ada banyak komponen bisnis di dalamnya. Antara lain bisnis hotel, restoran dan penyedia jasa transportasi. Ada pula bisnis agen perjalanan, industri kecil menengah (IKM) yang banyak memproduksi aneka cindera mata hingga bisnis pertunjukan tradisional.

“Kita lihat tiap tahun jumlah hotel dan restoran memang mengalami pertumbuhan jumlah berkisar 5-7%., namun diakui mayoritas hotel masih terpusat di Bali, Jakarta, Bandung, dan Makassar saja. Alhasil penyebaran hotel dan restoran di Indonesia tak merata. Ini terjadi lantaran ketimpangan infrastruktur dan SDM yang belum semua tergarap maksimal. Ini menjadi kendala bagi hotel untuk membuka cabang di sana.

“Tak cuma pengusaha perhotelan yang mencium daya tarik bisnis di Timur. Maskapai penerbangan pun bilang begitu. Namun lagi-lagi ketersediaan infrastruktur dan SDM juga berefek bagi bisnis tersebut,” ungkapnya. (bowo)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.