Guide Osvian Wakili Indonesia di Asia Pacific Tourist Guide Contest

JAKARTA (Paradiso) – Setelah melewati seleksi panjang di beberapa tahapan, Osvian Putra akhirnya melaju ke babak berikutnya untuk menjadi yang terbaik diajang Asia Pacific Tourist Guide Contest yang akan digelar di Singapura, 22-24 Maret mendatang.

Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Media Kemenpar Don Kardono mengatakan, Asia Pacific Tourist Guide Contest adalah ajang tempat berkumpulnya para tourist guide terbaik dari masing-masing negara se-Asia Pacific.

Dalam pelaksanaannya nanti, akan diadakan konggres untuk membicarakan eksistensi dan capacity building profesi tourist guide pada masa depan. Selain itu juga diadakan pemilihan tourist guide terbaik di kawasan Asia-Pacific. Adapun metode pemilihannya, kali ini setiap peserta diminta membuat short video dengan tema “Why do you need a tourist guide.”

“Kita patut bangga dengan lolosnya Osvian Putra di ajang ini. Bagaimana pun, pariwisata tak lepas dari keberadaan guide. Merekalah yang membantu wisatawan lebih dalam untuk menyelami dan memahami sebuah destinasi wisata. Karena itu, saya mengajak masyarakat Indonesia turut berpartisipasi untuk vote Osvian Putra melalui web www.easypoll.net,” ujarnya, Rabu (20/3).

Terkait short video, Osvian Putra mengaku tertarik mengangkat kisah penamaan baju yang kerap disebut Teluk Belanga. Zaman dulu, baju ini biasa dipakai orang-orang Indonesia, terutama masyarkat Melayu. Sampai sekarang, walaupun banyak yang tahu namanya, namun belum banyak yang paham sejarahnya.

“Alkisah, pada awal abad ke-19, masyarakat pedalaman Sumatera yang kebanyakan hidup dari bertani dan berkebun, biasa membawa hasil panen ke Temasek (sekarang Singapura). Saat itu, Temasek adalah pusat perekonomian di kawasan Selat Malaka dan sekitarnya,” jelasnya.

Setelah hasil bumi terjual, sebagian orang membelanjakan uangnya untuk membeli bahan pakaian berupa kain yang banyak dijual oleh pedagang keturunan India. Tempat mereka berdagang bahan tekstil mentah itulah yang kelak bernama Little India di Singapura.

Mereka kemudian membawa kain yang dibelinya ke tukang jahit yang banyak beroperasi di kawasan Telok Blangah. Saat mereka pulang ke kampung halaman dan ada yang bertanya buatan manakah baju tersebut, maka akan dijawab: ‘Telok Blangah’.

“Dari jawaban itulah, akhirnya orang mengenal istilah baju Teluk Belanga. Kisah seperti itu hanya bisa didapatkan oleh seorang wisatawan dari tourist guide. Sebab, kearifan lokal seperti itu tidak ditemukan penjelasannya di internet,” tegasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, ada banyak hal yang bisa disampaikan seorang tour guide. Bukan hanya sebatas destinasi wisata yang dikunjungi, tetapi bisa mengupas tentang budaya masyarakat sekitar, sejarah daerah setempat, kuliner, adat istiadat, dan lain-lain.

“Saya berterimakasih pada setiap tour guide yang telah memperkenalkan Indonesia pada wisatawan, khususnya mancanegara. Cerita-cerita yang disampaikan tersebut otomatis akan menambah wawasan wisatawan, dan mungkin membuat mereka penasaran sehingga suatu hari akan kembali ke Indonesia untuk menelisi cerita yang berbeda,” ungkapnya.(*)

Facebook Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.