Indonesia –Jerman Kembangkan Pariwisata Berkelanjutan di Lombok

MoU ina jermanJakarta (Paradiso) – Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat menjadi fokus pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menjadi ruang lingkup kerjasama pemerintah Jerman dan Indonesia.

“Lombok , Nusa Tenggara Barat (NTB) selain masuk Kawasan Strategi Pariwisata Nasional ( KSPN) juga telah ditetapkan dalam Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia Koridor V sehingga dalam lingkup kerjasama antara Pemerintah Jerman dan Indonesia kita akan meningkatkan daya saing pariwisata di daerah ini,” kata Firmansyah Rahim,  Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kemenparekraf saat penandatangan kerjasama antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Deutsche Geselischaft fur Internationale Zusammenerbeit (GIZ) di Jakarta, Kamis (10/4).

Firmansyah mengatakan Lombok merupakan destinasi yang sedang bangkit kembali setelah dilengkapi infrastruktur dan bandara baru. “Sebelum memiliki bandara baru, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Lombok baru sekitar 400 ribuan orang tapi kini mencapai 1.3 juta orang setelah diresmikan menjadi Bandar Udara Internasional Lombok dua tahun lalu,” tambahnya

Pengaturan proyek dalam kerjasama ini ditandatangani, oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Lokot Ahmad Enda, mewakili Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Principal Advisor program Regional Economic Development (RED), Frank Bertelmann, disaksikan oleh Direktur Perkotaan dan Pedesaan BAPPENAS, Hayu Parasati dan Deputy Country Director National Cooperation, GIZ Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Zulazmi.

Skema kerjasama ini berbentuk hibah peningkatan kapasitas yang dilakukan sampai dengan Desember 2014 dengan nilai keseluruhan mencapai 3.250.000 Euro mencakup komponen Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan dan Hijau, komponen pengembangan ekonomi daerah melalui pengembangan  instrumen pengembangan ekonomi lokal dan daerah di tiga daerah percontohan  (Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan NTB), komponen  pengembangan UKM serta komponen pendanaan hijau (green financing).

Hayu Parasati menjelaskan bahwa awal kerjasama Bappenas dan GIZ dimulai tahun 2004 yang terus berlanjut dan kini melibatkan sektor pariwisata karena pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui industri keratif seperti produk-produk gerabah, kerajinan dan lainnya kuncinya ada di pariwisata.

“Kita mendorong UMKM dari hulu hingga hilir tapi yang membeli produk adalah wisatawan karena itu pariwisata harus terdepan dalam pembangunan daerah NTB dan jadi motor penggerak ekonomi,” kata Hayu.

BAPPENAS dan GIZ melanjutkan lagi dengan program Regional Economic Development (RED) pada 2012 dengan konsep perpanjangan tematik dari Program RED menuju Ekonomi Hijau dengan fokus pada Perbankan/Keuangan Hijau dan Pariwisata Hijau.

Firmansyah menambahkan bahwa Indonesia dan Jerman dalam sejarahnya telah lama memiliki jalinan kerjasama dalam bidang pariwisata. Pemerintah Federal Jerman melalui UNWTO (United Nations World Tourism Organizaton) pernah membantu Indonesia, merevitalisasi Pangandaran, Jawa Barat pasca Tsunami pada tahun 2006 dan dilanjutkan dari tahun 2008 – 2010.

Program UNWTO Sustainable Tourism Development through Energy Efficiency with Adaptation and Mitigation Measures (STREAM) tahun 2011 – 2013 juga memperoleh pendanaan dari Pemerintah Federal Jerman melalui International Climate Change Initiative (ICI).

“Penandatanganan Pengaturan Proyek Kerjasama antar pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan GIZ kali ini memiliki makna penting dan strategis dalam mewujudkan upaya pengembangan destinasi pariwisata yang berkelanjutan dan hijau utamanya di Pulau Lombok (Nusa Tenggara Barat), yang juga didukung secara sinergi melalui program Tata Kelola Destinasi Pariwisata (DMO) Rinjani, Lombok, NTB,” ujar  Firmansyah Rahim

Pemilihan Lombok, dilatarbelakangi karena NTB dianggap sebagai lokasi proyek didasarkan pada visi menjadikan Lombok sebagai percontohan destinasi rendah karbon (low carbon destination). Bappenas menempatkan Lombok sebagai daerah pengembangan ekonomi lokal berbasis pariwisata dan industri kreatif seperti mutiara, gerabah, tenun dan kerajinan makanan olahan rumput laut

Sementara itu Frank Bertelmann, Principal Advisor RED sebagai pelaksana di lapangan menjelaskan pihaknya telah memberikan bimbingan teknis pada industri pariwisata dan masyarakat setempat.

“Kami mengajarkan penggunaan energi, manajemen sampah, meningkatkan dan mengembangkan kapasitas SDM dibidang pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) dan pariwisata hijau (green tourism),” ujarnya. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.