Indonesia Masih Butuhkan Banyak Investasi Pariwisata

Menpar Arief Yahya dan Kepala BKPM Franky Sibarani menyaksikan penandatanganan MoU Twenty-One Development (Indonesia) dengan Park Royal Hotel Management (Singapura).
Menpar Arief Yahya dan Kepala BKPM Franky Sibarani menyaksikan penandatanganan MoU Twenty-One Development (Indonesia) dengan Park Royal Hotel Management (Singapura).

Jakarta (Paradiso) – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengakui pariwisata Indonesia membutuhkan banyak investasi. Khususnya pada kamar hotel, restoran, agen travel, taman rekreasi bahkan sampai operator diving. Hal ini menjadi kebutuhan penting untuk memajukan sektor pariwisata di Indonesia.

“Kalau kita lihat, kebutuhan itu banyak sekali. Paling banyak di hotel. Oleh karena itu, Indonesia Tourism Investment Day (ITID) dibutuhkan untuk kemajuan pariwisata kita. Hampir seluruh investasi ini berjenis kamar hotel,” ujar Menpar Arief Yahya pada penandatanganan MOU ITID 2014, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (11/12) malam.

Pada gelaran ITID 2014 ini dihadiri para investor, CEO Park Hotel Group, direktur pengembangan dalam dan luar negeri, developer umum, pengusaha dan operator hotel, pengembang dan pemda. Agenda ITID 2014 ini di antaranya one on one business meeting antara calon investor dengan pemerintah daerah sebagai wadah memperkenalkan potensi investasi pariwisata di daerah secara intensif.

“Untuk pariwisata, saya kerja seminggu sudah kirim surat ke Menteri Perhubungan dan ke Menteri PU, 88 daftar kawasan pariwisata strategis di Indonesia. Bahwa investasi di pariwisata lebih baik dari manufaktur, termasuk otomotif,” ujar Menpar Arief Yahya

Dikatakan, kalau pariwisata itu memberikan kontribusi kepegawaian paling tinggi, bahkan lebih dari otomotif. Ajakan investasi tidak hanya untuk investor, namun juga untuk instansi pemerintah sendiri.

Berdasarkan data, pariwisata Indonesia masih membutuhkan 120.000 kamar hotel, 15.000 restoran dan 10.000 agen travel. Selain itu, Indonesia juga butuh 300 taman rekreasi kelas internasional, 2.000 operator diving, 100 pelabuhan, dan berbagai fasilitas pariwisata lainnya.

Masih ada banyak peluang bagi para investor pada pariwisata Indonesia yang bertujuan mengembangkannya khususnya melalui sektor bisnis yang profesional.

Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mendukung penandatanganan MoU tersebut. Ia berharap pariwisata Indonesia dapat semakin berkembang dan mendunia.

Berdasarkan data, komposisi jumlah wisatawan Indonesia mencapai 8,8 juta. Dengan pembangunan pariwisata, Menpar optimistis mampu mencapai target 20 juta di 2019, apalagi karena peluang-peluang yang dimiliki Indonesia seperti sumber daya alam, prioritas kepariwisataan, daya saing harga, sumber daya manusia, dan keselamatan, serta keamanan.

Terkendala Infrastruktur dan Kebersihan

“Potensi kita bagus, yang jelek itu performance kita. Potensi kita itu kalau dinilai 80, tapi kalau dibandingkan dengan performance Malaysia atau Singapura, itu kita D, setengahnya saja nggak ada,” ungkap Arief Yahya.

Berdasarkan data yang ditunjukkan Kemenpar, infrastruktur pariwisata Indonesia adalah 30%. Berbanding terbalik dengan potensi sumberdaya alam Indonesia yang 80%. Dari jumlah target kunjungan wisman tahun 2014 yang menargetkan 9 juta wisman, Indonesia juga kalah jumlah dengan negara tetangga.

“Paling buruk di sini infrastruktur, data dari Travel and Tourism Competitivenes Index. Infrastruktur itu kita nilainya 2,1 dari skala 7. Infrastruktur untuk pariwisata kita juga buruk, saya bulatkan 40%, dan yang ketiga yang sering dikeluhkan itu soal health and hygiene, itu juga 40%,” ujar Menpar Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya juga meminta segenap Pemda di masing-masing daerah untuk menjaga kebersihan. Menpar juga menganjurkan agar Pemda membuat sistem outsourcing untuk kebersihan, dimana dapat dikelola secara profesional. “Sekali lagi ini ancaman, tapi juga kesempatan buat kita. Khususnya bagi yang mau investasi di infrastruktur,” ujarnya.

Permudah Izin Investor Pariwisata

Arief Yahya juga berjanji akan mempermudah perizinan untuk menarik para investor menanamkan modalnya di sektor pariwisata. “Semua yang sulit-sulit termasuk perizinan yang sulit ditiadakan,” ujarnya.

Arief menjelaskan potensi pariwisata di Tanah Air sangat bagus. Hal itu, menjadi satu kesempatan berinvestasi bagi para investor. “Potensi pariwisata Indonesia tidak diragukan lagi, mulai dari gunung hingga bawah laut yang ada di Indonesia,” katanya.

Perkembangan investasi pariwisata di Tanah Air dapat dikatakan cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari data realisasi investasi sektor pariwisata pada 2014 hingga kuartal tiga mencapai US$466,9 juta dengan penanaman modal asing sebesar US$421,4 juta. Sedangkan penanaman modal dalam negeri mencapai US$45,5 juta. Nilai realisasi investasi tersebut mencapai 77,45 persen pada 2013. “Diharapkan akan meningkat pada akhir 2014,” jelas dia.

Pencapaian realisasi investasi sektor pariwisata akan meningkatkan minat investor menanamkan modalnya. Kegiatan ITID dihadiri para pemilik perusahaan, direktur, pemerintah daerah, pengusaha hotel, hingga pengembang marina.

“Kegiatan ini untuk mempertemukan calon investor dan pemerintah daerah. Pemerintah daerah bisa memperkenalkan potensi wisata di daerahnya,” ujarnya.

Pada ITID 2014 kali ini, terdapat lima kerja sama pariwisata yang jika ditotal menghasilkan jumlah investasi mencapai Rp910 miliar. (bowo)

 

Berikut Pihak yang bekerja sama di ITID 2014, beserta jenis usaha dan proyeksi nilai proyeknya.

  1. Twenty-One Development (Indonesia) dengan Park Royal Hotel Management (Singapura)

Jenis kerjasama: kontrak bisnis

Jenis usaha: hotel

Proyeksi nilai proyek: Rp550 miliar

  1. PT Darmakusala Waskitha Brana dan Pemda Maluku Tenggara Barat

Jenis kerjasama: letter of intent

Jenis usaha: resor

Proyeksi nilai proyek: Rp200 miliar

  1. Twenty-One Development dan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang

Jenis kerjasama: letter of intent

Jenis usaha: hotel dan covention centre

Proyeksi nilai proyek: Rp70 miliar

  1. PT Darmakusala Waskitha Brana dan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang

Jenis kerjasama: letter of intent

Jenis usaha: resor

Proyeksi nilai proyek: Rp50 miliar

  1. PT Marine Del Rey Gili Gede dan Bupati Lombok Barat

Jenis kerjasama: letter of intent

Jenis usaha: pemanfaatan bersama Pelabuhan Tawun

Proyeksi nilai proyek: Rp20 miliar

  1. PT Marine Del Rey Gili Gede dan Bupati Lombok Barat

Jenis kerjasama: letter of intent

Jenis usaha: marina

Proyeksi nilai proyek: Rp20 miliar

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.