Kemendes PDTT Ajak Pelaku Usaha Berinvestasi di Daerah Perbatasan

JAKARTA (Paradiso) – Pembangunan daerah perbatasan tidak cukup hanya dengan pendekatan keamanan dan kesejahteraan. Pendekatan ekonomi perlu diperkuat dengan mendorong tumbuhnya investasi di daerah perbatasan. Terlebih, persaingan untuk memperkuat daerah perbatasan di era globalisasi ini semakin ketat. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dalam sambutannya pada acara Forum Bisnis dan Investasi di Daerah Perbatasan, di Jakarta, Kamis (01/12).

“Investasi di perbatasan tentu harus sesuai dengan potensi dan peluang yang dimiliki. Utamanya, investasi yang masuk harus memerhatikan kelestarian lingkungan dan kearifan lokal. Perlu dibuat regulasi khusus yang dapat menarik dan memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha di daerah perbatasan,” ujarnya.

Menteri Eko menambahkan, Forum Bisnis dan Investasi di Perbatasan yang diselenggarakan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa DTT) ini menjadi ajang untuk mempertemukan para Kepala Daerah dari 41 Kabupaten/ Kota di daerah perbatasan dengan para pelaku usaha untuk berinvestasi di daerah perbatasan. Forum ini merupakan lanjutan dari forum serupa yang digelar tahun lalu, yakni Border Investment Summit 2015. Sebagai pendalaman dari Buku Profil Potensi Investasi Daerah Perbatasan yang dirilis pada Border Investment Summit 2015 lalu, dalam forum ini Kemendesa PDTT juga meluncurkan Buku Rencana Bisnis dan Investasi Daerah Perbatasan yang disusun bersama Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Buku ini memuat kelayakan investasi khususnya untuk komoditas-komoditas unggulan di daerah perbatasan di 6 kabupaten percontohan, yaitu Kabupaten Natuna, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Belu, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Pulau Morotai, dan Kabupaten Merauke,” lanjut Menteri Eko.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu Kemendesa PDTT Suprayoga Hadi mengatakan, penyelenggaraan forum bisnis dan investasi daerah perbatasan tahun ini lebih banyak diikuti perusahaan swasta dan BUMN, pengusaha, asosiasi usaha, hingga kedutaan besar negara-negara sahabat.

“Kami menargetkan terjalin kesepakatan antara pemerintah daerah dan pelaku usaha dari BUMN dan pihak swasta untuk menindaklanjuti rencana bisnis dan investasi yang telah ada. Kesepakatan dapat dilakukan melalui pembukaan bisnis baru (business start-up) maupun kesepakatan untuk mendukung investasi dalam jangka panjang,” ujar Suprayoga.

Forum Bisnis dan Investasi Daerah ini juga akan diisi dengan expo potensi perbatasan. Expo tersebut menampilkan aneka komoditas dan produk unggulan dari daerah perbatasan yang layak untuk dikembangkan melalui kegiatan investasi.

Menpar Arief Yahya yang dalam kesempatan ini diminta menjadi Keynote Speaker, mengucapkan terima kasih atas dukungan Kemendes PDTT dalam mendukung Pengembangan Desa Wisata, dan dalam hal di wilayah perbatasan. Hal ini ditandai dengan konsistensi tindak lanjut MoU Kemenpar dengan Kemendes PDTT sebelumnya.

Menpar lebih lanjut memaparkan perihal 3 hal utama dalam menggenjot bisnis dan investasi di wilayah perbatasan dari sisi Pariwisata, yaitu:

  1. Pemasaran: Destinasi Wisata di Wilayah Perbatasan dengan menyelenggarakan _Border Tourism_ events, yang terbukti mampu menggenjot perekonomian masyarakat dan terlebih kecintaan penduduk Indonesia di wilayah perbatasan!
  2. Destinasi: Menggenjot Pengembangan Desa Wisata dengan beberapa titik utama di Wilayah Perbatasan seperti di NTT dan Papua.
  3. Pengembangan Homestay di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas.
Facebook Comments

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.