Kemenpar Ingin Alat Musik Rapa’i Khas Aceh Terus Dilestarikan

Lhokseumawe (Paradiso) – Desa Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, mendadak ramai. Salah satu desa yang memproduksi alat musik tabuh Rapa’i, ikut sibuk menyambut event Aceh International Rapa’i Festival 2018 di Lhoksemawe, Aceh, 4-7 November.

Deru mesin penghalus kayu langsung menyambut para pengunjung yang ingin melihat langsung proses pembuatan Rapa’i. Ada yang sibuk memegang kayu, dan ada bertugas menyiapkan rotan sebagai dua komponen penting membuatan Rapa’i. 

Dari tangan-tangan kekar para pengerajin Rapa’i itulah, alat musik yang sudah melegenda ke pelosok nusantara itu dibuat. Di mana dari alat musik ini muncul seni Rapa’i Debus, Rapa’i Uroh, dan lainnya. Dan dimainkan dengan cara ditabuh.

Digelarnya event Aceh International Rapa’i Festival tahun yang juga masuk dalam Calender of Event (CoE) Kementrian Pariwisata (Kemenpar), digagas juga untuk mengatasi mulai ditinggalkannya alat musik Rapa’i sebagai salah satu warisan budaya. Tak hanya pengerajin yang mulai sedikit, tapi sulitnya mendapatkan bahan baku juga jadi kendala.

“Kami tidak mau alat musik Rapa’i ini hilang ditinggal zaman. Kami ingin masyarakat Aceh terus melestarikan dan malah mengembangkan lagi untuk menjadi lebih besar. Jangan sampai punah. Itu juga yang jadi dasar utama Aceh Internasional Rapa’i Festival dilaksanakan,” ungkap Asisten Deputi Bidang Pemasaran I Regional Sumatera, Iyung Masruroh.

Rapa’i sendiri dibuat dengan bahan dasar kayu berkualitas tinggi sepatu kayu tualang dan merbau. Untuk kulit, menggunakan kulit kambing yang terlebih dahulu telah disalai atau diasapkan selama delapan bulan. Bisa bilang pembuatan satu Rapa’i membutuhkan proses yang cukup panjang.

Untuk harga alat musik Rapa’i sendiri pun tak murah, mengingat proses pengerjaan dan bahan bakunya juga sulit. Yang paling murah ada dikisaran Rp. 300 ribu hingga Rp. 500 ribu. Namun untuk yang paling mahal, bisa mencapai harga Rp. 2 juta. Semua tergantung besar kecilnya Rapa’i.

Menyambangi proses pembuatan Rapa’i di desa Jeulikat yang jadi salah satu rangkaian acara Aceh Internasional Rapa’i Festival, juga turut hadir para peserta dari Thailand, India, dan juga Malaysia. Malahan, beberapa dari mereka mengakui ingin memesan langsung Rapa’i dari para pengerajin di Desa Jeulikat.

“Kalau dari segi berapa banyak yang dihasilkan dalam membuat, bisa banyak yang dihasilkan dalam sebulan, tapi kalau untuk omset kami belum tau pastinya karena harus  dibukukan tiap bulannya. Yang pasti cukuplah untuk industri rumahan sederhana seperti ini ” tutur Junaedi Hasballah pemilik usaha pembuatan Rapa’i.

Selepas melihat langsung pembuatan alat musik Rapa’i, pengunjung pun langsung diarahkan untuk menyaksikan tarian Peumulia Jame. Atau tarian penyambut tamu yang juga diiringi dengan alat musik Rapa’i. 

“Kalau di Aceh tarian itu digunakan untuk acara-acara formal,membuka acara selalu menggunakan tarian itu. Kalau tarian saman biasanya berramai-ramai tepuk tepuk tangan,nah ini di tengah acara, jadi beda-beda, ” tutur Duta Wisata Berbakat Kota Lhokseumawe Rachmatillah. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.