Kemenpar Inisiasi Kerjasama Industri dengan Komunitas

JAKARTA (Paradiso) – Kementerian Pariwisata menginisiasi kerjasama antara pihak industri yang telah di co-branding dengan komunitas. Kerjasama ini diharapkan akan saling menguntungkan. Hasil akhirnya adalah kegiatan matchmaking di destinasi digital.

Hal tersebut disampaikan Asisten Deputi Strategi dan Komunikasi Pemasaran I Kementerian Pariwisata Hariyanto, Jumat (9/11).

Tepatnya melalui event Focus Group Discussion (FGD) Strategi Matchmaking Industri Co-Branding dengan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI). Kegiatan ini dilangsungkan di AONE Hotel Jakarta, 9-10 November.

Hariyanto mengatakan, hal
ini merupakan inovasi Proyek Perubahan yang digagasnya sebagai Asdep. Sekaligus, peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat II Tahun 2018. Hariyanto akan mengimplementasikan Strategi Macthmaking Industri Co-Branding dengan Komunitas GenPI.

Menurut Hariyanto, selama ini Kementerian Pariwisata telah melakukan co-branding dengan sejumlah industri.

“Kerjasama co-branding yang kita jalin jelas saling menguntungkan, saling membutuhkan. Ini langkah yang luar biasa. Karena, jarang sekali logo atau brand pemerintah diterima swasta dengan terbuka,” tutur Hariyanto.

Menurutnya, ada alasan mengapa brand Wonderful Indonesia bisa diterima industri. Karena, Wonderful Indonesia menjalin kerjasama saling menguntungkan.

“Namun salah satu yang paling utama, brand Wonderful Indonesia sudah cukup kuat di dunia internasional. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah penghargaan yang diraih Wonderful Indonesia,” katanya.

Dijelaskan Hariyanto, Kementerian Pariwisata sudah menggandeng 131 brand. “Kalau untuk branding dengan industri tidak masalah. Kita sudah berjalan. Tapi kita jelas ingin ada perkembangan,” katanya.

Perkembangan yang dimaksud Hariyanto adalah menjalin kerjasama antara industri dengan komunitas yang didukung Kementerian Pariwisata, yaitu Generasi Pesona Indonesia (GenPI).

“Selain industri, Kemenpar juga punya strategi mendorong komunitas. Dalam hal ini, GenPI. Dan ini pun sudah berjalan. Dukungan untuk GenPI sudah diberikan dan saling menguntungkan. Hasilnya, GenPI sudah terbentuk di 29 provinsi di Indonesia,” paparnya.

Dijelaskannya, secara formal belum ada yang menyatukan antara industri dan komunitas. Tentu industri dan komunitas yang sudah bekerjasama dengan Kemenpar.

“Yang sedang kita rintis, bagaimana industri dan komunitas itu bisa bekerjasama dengan difasilitasi Kemenpar. Kita akan fasilitasi kerjasama yang saling menguntungkan. Tentunya dengan MoU,” paparnya.

Hariyanto menambahkan, jalan ke arah itu telah dirintis. Pihak industri yang akan dibawa adalah Hydro Coco dan komunitasnya GenPI.

“Matchmaking kerjasama ini, atau aktivitasnya di destinasi digital. Kenapa destinasi digital? Karena destinasi digital adalah bagian dari aktivitas offline GenPI,” jelasnya.

Dari total 43 destinasi digital yang sudah dibangun, matchmaking Hydro Coco dan GenPI akan dilakukan di Pasar Karetan.

“Pasar Karetan dipilih karena menjadi pilot project, jadi percontohan destinasi digital GenPI. Ini tahap awal. Rencananya tahun depan ada 5 matchmaking lagi. Atau total 6 kerjasama industri dengan komunitas,” paparnya.

Dijelaskan Hariyanto, bentuk matchmakingnya akan dibahas dengan detail.

“Yang pasti bentuk akhirnya adalah aktivitas. Ada aktivasinya. Bisa saja dari Hydro Coco menjual 50 persen ke pedagang, kemudian pedagang menjual 70 persen dibawah harga normal. Dan itu menguntungkan semua pihak. Tapi nanti bahas seperti apa. Yang pasti kita merintis itu,” katanya.

Sementara GenPI Nasional yang diwakili Ketua Bidang Online, Eko Nuryono, berharap matchmaking Hydro Coco dan Pasar Karetan yang rencananya dilakukan 18 November nanti bisa disiapkan dengan serius.

“Kita tentu matchmaking bisa lancar. Bisa menguntungkan kedua pihak. Yang paling penting mengangkat pariwista di daerah. Untuk itu, matchmaking harus dipersiapkan dengan baik,” papar Eko.

Sedangkan Juragan Pasar Karetan Mei Kristianti mengatakan pihaknya sudah siap menyambut kerjasama itu.

“Pasar Karetan sudah berajalan 1 tahun. Banyak dinamika yang kita lalui. Seperti bagaimana kita hatus mengenalkan pariwisata ke masyarakat. Hingga akhirnya kita punya massa, dan follower. Dari situ kita bisa melakukan bisnis. Dan kita sudah siap,” tutur Mei.

Mengenai matchmaking, wanita berambut panjang ini menambahkan setiap destinasi digital berbeda kebutuhan.

“Di Karetan, butuh branding di odong-odong. Karena membutuhkan biaya. Odong-odong itu adalah angkutan utama yang mengangkat pengunjung dari tempat parkir ke lokasi. Dan ini banyak diminati. Namun, kita membutuhkan biaya untuk itu. Hal yang bisa kita tawarkan, kita sudah siapkan sejumlah spot. Misalnya Hydro Coco mau membangun spot selfie, kita sudah siapkan gambarannya. Tapi bagaimana nanti perlakukan spot itu, nanti haus dibahas lagi,” katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sangat mendukung kegiatan ini. Menurutnya, industri dan GenPI bisa menjalin kerjasama yang saling menguntungkan.

“Tahun 2018 ini, saya ingin agar penetrasi brand Woderful Indonesia dan Pesona Indonesia lebih mendalam lagi. Caranya, dengan menjadikannya sebagai brand milik seluruh lapisan masyarakat Indonesia. WI/PI harus menjadi “People’s Brand”. Brand yang dimiliki, dicintai, dan dibanggakan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” katanya.

Menpar yakin dengan “sense of ownership” dan “sense of proud” yang tinggi terhadap brand WI/PI, maka akan muncul kesadaran seluruh lapisan masyarakat.

“Kesadaran untuk mengembangkan dan mempromosikan pariwisata Indonesia. Ini sejalan dengan komitmen Pak Jokowi untuk menjadikan pariwisata sebagai core economy bangsa. Karena menjadi pilar ekonomi bangsa, maka sektor ini harus didukung dan dibela oleh seluruh rakyat Indonesia, tak cukup hanya oleh Kemenpar,” tuturnya. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.