Konsumen Pesawat Carter di Indonesia Terus Meningkat

pesawat carterJakarta (Paradiso) – Indonesia National Air Carriers Association atau Inaca menyatakan pertumbuhan industri maskapai penerbangan tak berjadwal atau carter di Indonesia masih tinggi meski baru mencapai persentase 5%.

Denon Prawiraatmadja, Ketua Penerbangan Tidak Berjadwal Inaca mengatakan banyak objek wisata dan eksplorasi gas dan minyak bumi, serta areal perkebunan berskala besar yang tidak dapat dijangkau penerbangan reguler. Karena itu, celah penerbangan carter di Tanah Air masih cukup besar dan harus dimaksimalkan karena bisa saja pasarnya direbut oleh pihak asing.

“Sejak Januari 2014 hingga September 2014, Inaca, menurutnya, mencatat industri penerbangan carter di Indonesia berhasil meraup penjualan US$530 juta. Saat ini penerbangan carter di Indonesia masih didominasi oleh penerbangan perusahaan migas, VIP, ambulance dan penerbangan khusus wisatawan luar negeri,” ujarnya,

Dikatakan, melihat peluang itu, saya meminta pemerintah bisa memberikan perhatian serius agar industri penerbangna carter dapat berkembang dan bersaing dengan industri serupa di negara lain. Salah satunya dengan menerbitkan regulasi yang tepat sehingga biaya sewa penerbangan carter di Indonesia lebih murah dibanding dengan negara lain.

“Saat ini biaya carter pesawat di Indonesia mencapai US$2.800 atau sekitar Rp28 juta perjam. Harga tersebut jauh lebih mahal dibandingkan biaya sewa di negara lain di kawasan Asia Tenggara yakni rata-rata sebesar US$1.100 atau Rp11 juta per jam,” katanya.

Ditambahkannya, dipasritas harga tersebut menurutnya dikarenakan biaya operasional sewa pesawat Indonesia yang tinggi seperti biaya suku cadang untuk perawatan, Indonesia masih mengandalkan pabrikan dari luar negeri. Selain perbedaan mata uang, kita juga terpengaruh karena sparepart (suku cadang) kita masih datangkan dari luar.

“Selain itu pihaknya meminta pemerintah melakukan serangkaian upaya agar harga baghan bakar avtur bisa ditekan sehingga operator penerbangan bisa menurunkan biaya sewa pesawat. Harga avtur di Indonesia saat ini lebih mahal sekitar 12%-13% dari rata-rata harga internasional sementara di negara lain di kawasan Asean seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand,harga avtur hanya sekitar 5%-7% di atas harga internasional. Agar bersaing, kami berharap agar ada penurunan sekitar 5%-10% dari harga saat ini,” ungkapnya.

Sementara Ed Smith, General Aviation Manufacturers Association mengatakan pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia yang cukup tinggi selama beberapa tahun belakangan ini perlu didukung dengan cara mengeluarkan regulasi yang sesuai, berfokus pada keamanan penerbangan serta menghilangkan berbagai hambatan tarif fiskal.

“Selain itu perlu juga melakukan peningkatan berbagai infrastruktur penerbangan sipil di Indonesia seperti bandara serta bahan bakar,” jelasnya. (*)

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.