Mapala UI Targetkan Selesaikan Pendakian Seven Summits Tahun 2019

Depok (Paradiso) – Siang ini, Kamis (15/02) dalam acara jumpa pers “Pencapaian Mapala UI Vinson Massif” di Sekretariat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI), Kampus UI, Salemba, Jakarta. Mapala Universitas Indonesia menyatakan akan segera menyelesaikan Seven Summits yang telah dimulai sejak 25 tahun yang lalu.

Setelah dimulai di Puncak Carstensz, Papua pada tahun 1972, Ekspedisi Seven Summits ini akan berakhir dengan pendakian Gunung Everest, Nepal, yang memiliki ketinggian 8.848 mdpl pada tahun 2019.

Ketua Umum Mapala UI, Yohanes Poda Sintong (M-954-UI) mengatakan, “Dalam gambaran kami, tahun 2019 adalah saat yang paling tepat untuk mempersiapkan pendaki Everest.”

Dalam kesempatan tersebut, Yohanes juga menyatakan bahwa tantangan terbesar dalam perencanaan pendakian Everest ini adalah dana. Ia menyebutkan bahwa pendakian tersebut akan memakan biaya sebanyak kurang lebih Rp800 juta per pendaki. Meskipun begitu, Yohanes optimis akan mendapat bantuan dari pihak universitas.

“Ini (rencana menuju Puncak Everest) tidak hanya dilakukan oleh Mapala UI tapi juga dapat melibatkan pihak UI dan Iluni UI,” jelas Yohanes.

Direktur Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Arman Nefi mengatakan, “Untuk rencana pendakian Everest ini kita akan melihat seperti apa proposal disampaikan. Mapala UI ini adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa terbesar di Universitas Indonesia dan sudah mempunyai prestasi. Insya Allah kami akan mendukung,”

Arman juga mengatakan akan membicarakan perihal ini langsung dengan pengurus Mapala UI. “Untuk pendakian Seven Summits ini pasti membutuhkan dana yang cukup besar, tetapi jika bersama-sama Insya Allah akan terlaksana,” lanjutnya.

Dalam kesempatan ini pula, Mapala UI menyampaikan keberhasilan mencapai puncak Gunung Vinson Massif. Puncak tertinggi di Benua Antartika ini merupakan puncak ke-6 yang berhasil dicapai dalam rangkaian Ekspedisi Seven Summits UI.

Pada 6 Januari 2018 pukul 16.30 waktu Chile, atau 7 Januari 2018 pukul 02.30 WIB, Mapala UI, diwakili oleh Dedi Satria (M-737-UI), berhasil menapakkan kaki di puncak Vinson Massif, yang merupakan puncak gunung tertinggi di Benua Antartika. Pendakian ini sudah dipersiapkan sejak Februari 2017.

Kemudian, pada Desember 2017, tim bertolak dari Jakarta untuk memulai perjalanan menuju puncak ke-6 dalam Ekspedisi Seven Summits UI ini. Akibat cuaca yang kurang mendukung, pendakian itu sendiri baru bisa dimulai pada 2 Januari 2018.

“Hal ini sangat membanggakan bagi warga UI. Sudah lama kami tunggu pencapaian dua puncak ini (Vinson Massif dan Everest) dan akhirnya alhamdulillah Januari kemarin sudah tercapai satu (Vinson),” ujar Direktur Kemahasiswaan UI, Arman Nefi dalam jumpa pers siang tadi melalui sambungan telepon.

Jumpa pers ini juga dihadiri oleh Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI), Arief Budhy Hardono. Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan “Iluni UI melihat jelajah Mapala UI itu adalah hal yang membanggakan bagi Universitas Indonesia, karena Mapala UI memiliki sejarah. Mulai dari Soe Hok Gie yang menjadi inspirasi besar.”

“Iluni tidak hanya wajib untuk mendukung alumni Mapala tapi juga anggota Mapala yang masih aktif agar nilai-nilai kebijaksanaan terus dijalankan oleh generasi yang saat ini ada,” jelasnya.

“Saat ini, Iluni UI sedang membuat Museum UI. Perjalanan Mapala UI harus masuk dalam Museum yang kita buat,” lanjutnya.

Selain itu, Arief juga berpendapat kegiatan-kegiatan Mapala UI bisa kembali mengharumkan nama bangsa Indonesia di masa depan.

Ekspedisi Seven Summits UI
Mapala UI merupakan pelopor untuk kegiatan rangkaian pendakian Seven Summits dunia di Indonesia. Pada 1972, tim pendaki Mapala UI menjadi tim pertama yang mengjnjakkan kaki di Puncak Carstensz, Papua, puncak tertinggi di wilayah Australasia.

Selama beberapa tahun berikutnya, dalam rangkaian pendakian itu, Tim Mapala UI berhasil mencapai empat puncak gunung lainnya, yaitu Kilimanjaro, Afrika (1983); McKinley, Amerika Utara (1989); Elbrus, Rusia (1990), dan Aconcagua, Argentina (1993).

Namun, kelanjutan pendakian itu sempat terhenti sesudah dua pendaki Mapala UI, Norman Edwin dan Didiek Samsu, tewas di Gunung Aconcagua pada percobaan pertama di tahun 1992.

Tahun 1993, Mapala UI kembali mengirimkan Tim ke Aconcagua berisi Ripto Mulyono dan Tantyo Mulyono untuk menyelesaikan pendakian tahun 1992 yang belum berhasil.

“Lima puncak sudah dicapai oleh Mapala UI pada ekspedisi Seven Summits saat itu, namun belum berhasil diteruskan ke puncak Vinson Massif dan Everest karena tewasnya pendaki-pendaki utama Norman Edwin dan Didiek Samsu dalam upaya pendakian Aconcagua pada tahun 1992.” tutur Yohanes.

Dalam kesempatan jumpa pers ini, Rudi Nurcahyo, Ketua Mapala UI periode 1992-1993 mengatakan, “Kami sempat mendaki untuk pertama kalinya puncak tertinggi ke-3 di jajaran Pegunungan Jayawijaya, dan menamakannya sebagai Puncak Sumantri. Sumantri adalah Rektor UI saat ekspedisi tersebut dilaksanakan.”

Rudi juga menjelaskan bahwa pada awal kegiatan Seven Summits Mapala UI, tim menggunakan nama Seven Summits UI untuk meningkatkan brand dan kemudahan menggalang dana dan mendapatkan dukungan dari pemerintah.

Produk pertama dari kegiatan dengan nama ini adalah Ekspedisi Aconcagua dan Vinson Massif. Namun, harus terhenti karena tewasnya Norman Edwin dan Didiek Samsu di Aconcagua pada tahun 1992. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.