Memahami Filosofi Kuliner Indonesia di Dapuraya 2

dapuraya 2Jakarta (Paradiso) – Setelah sukses dengan Dapuraya 1 yang dibuka pada akhir Desember 2010, kini Pusat jajanan Dapuraya Pasaraya Blok M kembali meluncurkan Dapuraya 2.

Tahun lalu Dapuraya menghadirkan 50 pedagang makanan yang didominasi dengan menu-menu Nusantara  pilihan. “Pada September 2013 kami mengembangkan area menjadi Dapuraya 2 dengan 100 lebih pedagang,” ujar Medina Latief pada acara Relaunching Dapuraya 2 di Pasaraya, Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (26/6/14).

Dengan kapasitas 1.000 kursi menurutnya Dapuraya menawarkan berbagai makanan dan minuman Indonesia dari ujung Sumatera hingga ujung Papua, serta menu Asia dan Eropa.

“Ada empat yang membuat food court kami tetap eksis, yakni pertama kreativitas, kedua; usaha untuk tetap up date bersama para tenant, ketiga; original, yakni menciptakan tempat makan yang nyaman, experience, dan unik, serta keempat; menyajikan menu warisan,” tambah Medina.

Tidak hanya sekedar menikmati makan, Dapuraya menghadirkan program Storytelling atau Dapuraya Bercerita. “Pengunjung bisa mendapatkan kisah yang lebih dalam mengenai makanan dan juga para legenda kuliner khas Indonesia yang menyajikan makanannya di Dapuraya,” ungkap pengamat sekaligus penikmat kuliner, Arie Parikesit.

Storytelling di kemas dalam bentuk wisata mengunjungi 10 kedai kuliner legendaris di Dapuraya 1 dan Dapuraya 2, antara lain Empal Gentong Plered Cirebon, Gado Gado Cemara, Sate Ambal Kebumen, Sate Padang Ajo Ramon, Sate Kambing Hadori Bandung, Sop Kaki Dudung Roxy, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih dan masih banyak makanan lainnya.

“Dipandu seorang foodlover, kami ingin sharing bahwa di balik kelezatan makanan itu ada historis dan filosofi yang melatarinya. Kami ingin makanan tidak hanya bisa dinikmati dengan pancaindra tapi juga pengetahuan dan wawasan untuk lebih mencintai,” jelas Arie.

Menurutnya program ini akan berlangsung setiap akhir pekan dan bisa diikuti dengan gratis. Namun agar lebih fokus dan informasi bisa diserap dengan baik, peserta dibatasi 10 hingga 15 orang.

Sate Ambal Kebumen

Di antara kelompok kuliner berbahan ayam di Dapuraya 2, Sate Ambal Kebumen (Mas Dhani) mempunyai makna filososi tentang kuliner legendaris khas Indonesia dari daerah Kebumen, Jawa Tengah.

Nama Sate Ambal boleh jadi kurang populer. Namun, bagi warga Kebumen dan sekitarnya, santapan yang satu ini sudah tidak asing lagi. Bahkan, terbilang kuliner andalan.

dapuraya 1Kata “Ambal” berasal dari nama sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, yang jadi asal kudapan ini, yakni  Ambal. Dulu, daerah itu merupakan sebuah kadipaten yang juga bernama Ambal. Alkisah, tahun 1872 silam, Bupati Ambal Poerbanagara ingin makan lauk yang enak dan empuk. Lalu, juru masaknya membuat sate ayam yang berbalur bumbu sebelum dibakar. Dan hingga kini, masyarakat setempat menyebutnya Sate Ambal.

Untuk yang penasaran dengan Sate Ambal ini bisa mampir di Sate Ambal Kebumen (Mas Dhani) di Dapuraya 2. “Selain di sini saya juga buka di daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Letak persisnya di Jalan Bangka Raya 1 atau dekat Gedung AKA, dan di Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat,” ujar pemilik Sate Ambal Mas Dhani, H Budiyono.

Ia mengatakan, “Pengolahan sate ambal berbeda dengan sate ayam pada umumnya. Meski sama-sama dibakar, Sate Ambal tidak menggunakan kecap. Dan, sebelum ditusuk, potongan daging ayam dibaluri bumbu dulu dan di remdam”.

“Bumbu Sate Ambal memakai sembilan jenis rempah sebagai pengganti kecap. Sebelum ditusuk, daging ayam direndam ke dalam bumbu dan gula jawa selama satu jam. Setelah itu, daging siap ditusuk,” jelasnya.

Jenis ayam jantan muda bagian dada menjadi pilihan untuk sate ini mengingat pada bagian ayam tersebut tidak berlendir dan berlemak. Sedangkan sembilan jenis rempah tersebut menurutnya terdiri dari bawang putih, bawang merah, lada, pala, kemiri, kunyit, jahe, ketumbar, dan gula jawa.

Saat dibakar, Sate Ambal mengeluarkan minyak yang membuat daging tampak berkilat kekuningan dan sama sekali tidak tampak hasil bakaran. Potongan daging ayamnya pun berbeda dengan sate ayam pada umumnya, sate ini berukuran lumayan besar namun empuk  dengan bumbu yang meresap hingga ke dalam.

Yang menjadi lebih khas lagi, yakni saus sambalnya yang terbuat dari bakal tempe alias kedelai yang sudah diberi ragi namun belum jadi. Untuk mengurai aroma langu kedelai dan membuatnya lebih empuk sekaligus sehat,” kata Budi.

“Aslinya, di Ambal sana, bakal tempe ini hanya ditumbuk bersama bumbu rendaman sate.  Namun saya menggiling bersama bumbu rendaman sate dan menambahkan bawang merah goreng supaya lebih halus serta makin sedap,” ungkapnya.

Untuk menyesuaikan selera warga Jakarta, Ia pun mengurangi kadar manis sausnya. Tekstur berminyak yang terdapat di kuah saus berasal dari minyak ayam sehingga menjadikan rasanya lebih gurih.

Harga seporsi Sate Ambal yang memiliki slogan “Enak, Lezat, dan Sehat” ini  Rp28.000, namun begitu Kedai Sate Ambal Kebumen ini tidak hanya menawarkan menu sate saja. Kedainya juga menawarkan menu Ayam Bakar Ambal, Ayam Tulang Lunak, dan Lumpia Semarang yang rasanya lezat, dan tidak perlu jauh-jauh beli ke Semarang. (evi)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.