Menparekraf Bicara Ekonomi Kreatif di UNESCO

Mari Pangestu bersama Irina Bokova.
Mari Pangestu bersama Irina Bokova.

Jakarta (Paradiso) – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mewakili Indonesia dalam Forum Dunia UNESCO yang ketiga mengenai Budaya dan Industri Budaya (Third UNESCO World Forum on Culture and Cultural Industries) pada tanggal 2 Oktober lalu di Florence, Italia.

Pada kesempatan tersebut Menparekraf diberi kesempatan memberi keynote speech pada sesi pembukaan.  Di dalam paparan tersebut Menparekraf memberi apresiasi kepada UNESCO yang telah lama berjuang agar budaya dan industri kreatif dapat menjadi motor dan penggerak (engine and enabler) dari pembangunan yang berkelanjutan.

Menparekraf juga menyampaikan bahwa hal tersebut serupa dengan visi Indonesia mengenai pembangunan yang berkelanjutan dalam arti pembangunan yang meningkatkan kualitas hidup dan inklusif karena dijalankan tanpa merusak lingkungan, tatanan sosial dan budaya, dan disertai oleh manfaat dan dampak ekonomi yang inklusif. Karena itu Indonesia juga berharap bahwa peran budaya dan industri kreatif dapat dipertimbangkan masuk dalam Sustainable Development Goals pasca 2015 yang sedang dibahas di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Indonesia merupakan contoh baik dimana industri kreatif telah dapat meningkatkan pembangunan yang berkelanjutan dan Menparekraf memberi paparan mengenai pengalaman Indonesia dalam mengartikan dan implementasi tiga hal: pengertian ekonomi kreatif dan komponen-komponen industri kreatif yang berada di dalamnya, mengapa penting dan isu strategis yang dihadapi agar dapat berkembang.

Karena pidato tersebut disampaikan pada Hari Batik Nasional yang merupakan perayaan hari dimana batik diakui sebagai warisan budaya tak benda (Intangible Cultural Heritage) oleh UNESCO pada 2009, maka Menparekraf dan seluruh delegasi mengunakan busana batik dan juga mengunakan batik sebagai contoh keberhasilan industri kreatif untuk menciptakan nilai tambah dan kualitas hidup yang lebih baik.

Mengenai apa ekonomi kreatif, Menparekraf menjelaskan bahwa ekonomi kreatif adalah gelombang keempat pembangunan ekonomi setelah pertanian, industri dan teknologi informasi.   Ekonomi kreatif merupakan bagaimana menciptakan nilai tambah dari basis pengetahuan (termasuk warisan budaya) dan teknologi yang ada.

Menparekraf menyampaikan juga bahwa memang ada resistensi awalnya dari komunitas kreatif dan budayawan mengenai hal ini. Namun, “justru dengan ekonomi kreatif kita dapat melestarikan dan mengembangkan warisan budaya dan tradisi kita.  Upaya untuk melindungi warisan budaya dan menjaga nilai-nilai tradisional tetap sangat penting karena aset budaya adalah aset yang harus dijaga.  Namun pada saat yang bersamaan aset budaya dapat menjadi inspirasi dan basis bagi orang kreatif untuk terus menciptakan karya kreatif baru dengan semangat berbasis tradisional tetapi semangat kontemporer”.

Mari Pangestu juga menyampaikan bahwa “Setelah hampir 8 tahun mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia banyak pembelajaran dan hasil-hasil yang sudah dicapai, namun ke depan masih banyak PR yang harus dikerjakan.  Dengan demikian kita sudah berproses dengan komunitas kreatif di 15 sektor untuk menghasilkan rencana aksi jangka menengah dan panjang pengembangan ekonomi kreatif.  Kita semua optimis dan percaya bahwa ekonomi kreatif merupakan kekuatan baru Indonesia dan menggunakan sumber daya yang tidak akan terhabiskan seperti komoditas primer, asalkan kita menciptakan iklim kondusif untuk orang kreatif dan pengembangan karya kreatif.” (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.