Menunggu Geliat Pariwisata Nunukan Pasca Konser Rossa

NUNUKAN (Paradiso) – Kehadiran diva pop Indonesia Rossa di Nunukan, Minggu (21/10), banyak memberikan pesan. Kedatangannya bukan sekedar menghibur, tapi jadi trigger pariwisata Nunukan. Sebab, wilayah ini punya potensi besar. Akses menuju wisman juga lebar. Geografisnya dekat Tawau, Sabah, Malaysia.

Tinggal mau melakukan perubahan atau tidak. Opsi ini dimiliki oleh Nunukan. Sebab, destinasi wisata ini memiliki momentum pasca show Rossa. Tampil dalam puncak Festival Crossborder Nunukan 2018, aksinya mampu menyita perhatian publik. Dihelat di GOR Dwikora, konser Rossa menarik kunjungan 6.000 orang pada Minggu (21/10) malam.

Rangkaian Festival Crossborder Nunukan memang sukses. Festival ini rata-rata dikujungi 5.000 hingga 7.000 orang di siang hari. Malam harinya, festival ini rata-rata mampu menarik 2.000 pengunjung. Lebih menarik, sedikitnya 1.268 wisatawan Malaysia juga sudah menyeberang ke Nunukan pada rentang 18-20 Oktober 2018. Mereka datang menumpang 5 kapal dan masuk dari TPI Tunontaka, Nunukan.

“Pembangunan perbatasan ini menjadi prioritas Presiden Joko Widodo. Kami pun juga siap mendukung agar pariwisata di Nunukan maju. Kami gembira dengan respon pengunjung di konser Rossa. Ini jadi momentum sekaligus trigger bagi pariwisata Nunukan. Potensi pariwisata di sini besar,” kata Konsul RI Tawau Sulistijo Djati Ismojo yang hadir bersama 12 orang rombongan, kemarin.

Secara keseluruhan, penyelenggaraan Festival Crossborder Nunukan ini sangat menjanjikan. Event ini menjadi galeri besar untuk memajang beragam potensi Nunukan. Ada kuliner, beragam kerajinan, juga Batik Lulantatibu. Untuk kuliner, kreativitas besar dimiliki warga Nunukan. Memiliki 17 kecamatan, ada banyak kreasi dan olahan makanan unik yang mereka hasilkan.

“Setiap daerah memiliki keunggulannya masing-masing. Hal ini bisa menjadi daya tarik bagi wisman, terutama saat mereka berkunjung ke Nunukan,” ungkap Sulistijo.

Ditampilkan dalam ‘Lomba Inovasi Kuliner Tradisional Khas Nunukan’, Minggu (21/10), kabupaten ini pun pamer potensinya. Kecamatan Nunukan Selatan ikut memajang Sup Singkong Kelapa Muda. Sup ini memaai bahan baku kelapa muda, singkong, udang segar, rumput laut, dan ayam. Bahan ini diramu dengan bawang merah-putih, jahe, merica, garam, dan gula. Proses memasaknya sekitar 10 menit.

Ada juga kuliner Udang Galah Pepaya Muda. Bahan bakunya udang galah ukuran besar, lalu keluarkan isi dagingnya dan dicampur kelapa muda serut. Bumbunya, jahe, serai, bawang, dan garam. Daging yang dibumbui lalu dimasukan lagi dalam udang, baru dipanggang. Sausnya dari kates muda dan santan.

Dari sekian banyak kuliner, status juara dikunci Kecamatan Lumbis. Mereka menampilkan kuliner Nasi Bingkong, Sayur Gomfilun. Posisi runner up diraih Nunukan dengan karya Nasi Kuning Paguntaka. Strip tiga dimiliki Sebatik Tengah dengan tema kuliner Nasi Pisgo Singa. Sulistijo menambahkan, saat ini kuliner Nunukan bisa menghasilkan value ekonomi yang besar.

“Kuliner di Nunukan ini sangat nikmat. Potensi ini bisa disajikan kepada wisatawan dan dikembangkan sebagai industri. Dari situ, harapannya ada banyak value secara ekonomi yang bisa dimanfaatkan. Kami juga siap memfasilitasi brandingnya, apalagi produk Nunukan diminati di Tawau,” terangnya lagi.

Berada di Festival Crossborder Nunukan, kuliner Nunukan membukukan transaksi sekitar Rp2,7 Miliar. Sebab, industri kuliner ini tersebar dalam 40 booth. Festival ini total menyediakan 92 booth. Rincian lain, ada 17 booth UMKM dan 35 booth untuk display beragama produk. Kuliner bahkan mampu mencatat transaksi rata-rata Rp3 Juta per hari. Angka tertinggi Rp11 Juta per hari, lalu terendah Rp800 ribu sehari.

“Nunukan kini harus mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Perlu lebih banyak event untuk menarik kunjungan wisatawan. Dan, peluang untuk menampilkan berbagai potensi daerah bisa dioptimalkan. Selain kuliner, di Nunukan juga memiliki budaya dan kerajinan tangan unik. Setelah event, Nunukan harus menyusun rencana yang riil,” terang Asisten Deputi Pemasaran I Regional II Kemenpar Sumarni.

Selain kuliner, Nunukan memiliki banyak UMKM. Rapor besar dibukukan Permata Lumbis di festival ini. Perwakilan Lumbis langsung membukukan transaksi Rp1,6 Juta dalam waktu 4 jam. Hasil penjualan 6 item produk Permata Lumbis. Produk mereka terdiri tas hingga tempat buah juga cucian. Untuk tas dibanderol Rp300 ribu hingga Rp700 ribu, lalu tempat buah Rp290 ribu sampai Rp370 ribu.

Prodak UMKM Permata Lumbis ini unik. Sebab, bahan terbuat dari engke kawat. Berupa kulit rumput khas daerah Nunukan, lalu dikombinasi dengan rotan dan kulit kayu. Pemasaran prodak mereka sudah menembus Kabupaten Malinau. Kepala Bidang Pemasaran Area III Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Sapto Haryono menjelaskan, Nunukan harus aktif mengembangkan pariwisata.

“Nunukan harus lebih aktif. Jangan sampai momentum bagus yang dimiliki saat ini menguap. Kami ini pada dasarnya siap membatu. Pasti tidak mudah prosesnya, tapi semua sudah harus diawali. Waktunya masih cukup banyak guna menyiapkan berbagai event di tahun depan. Ada banyak keuntungan dengan mengembangkan pariwisata,” jelas Sapto.

Dukungan pengembangan potensi pariwisata Nunukan juga diberikan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menteri yang sukses membawa Kemenpar No. 1 dan terpilih sebagai #TheBestMinistryTourism2018 se-Asia Pasifik di Bangkok mengungkapkan, pariwisata sudah menjadi leading sector beberapa daerah. Belitung contohnya, pariwisata di sana sudah memberikan PAD Rp193,18 Miliar di 2017. Jumlah ini naik 41,21% dari tahun sebelumnya.

“Nunukan ini sangat kaya. Budayanya sangat beragam. Kuliner dan UMKM-nya jalan. Aksesibilitasnya bagus dan terhubung langsung dengan Tawau di Sabah. Amenitasnya juga bagus. Dengan potensi ini, Nunukan sebenarnya bisa medapat value lebih secara ekonomi. Sebab, sudah ada banyak bukti kalau pariwisata dikembangkan akan memberi banyak keuntungan. Arus investasi juga otomatis masuk,” tutupnya. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.