Menyajikan Keindahan Sumut di Festival Danau Toba 2015

Berastagi, Sumut (Paradiso) – Danau Toba menjadi ikon Pariwisata Sumatera Utara, tidak berlebihan jika Danau Toba dijadikan sarana promosi Pariwisata Sumatera Utara. Keberadaan Festival Danau Toba setiap tahun selalu dirindukan masyarakat sekitar maupun wisatawan, Festival Danau Toba 2015 kali ini digelar pada 19-22 November, di Berastagi, Sumatera Utara.

Pembukaan Festival Danau Toba 2015 dihadiri oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Bupati Karo Terkelin Brahmana, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Elisa Marbun.

Sejak pembukaan Kamis (19/11) sore pukul 15.00 wib, terlihat ribuan peserta dan pengunjung menyatu berdatangan dan memadati lokasi pembukaan Festival Danau Toba 2015 di lapangan Mejua Jua, Berastagi.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan pemilihan Kota Brastagi dan Kabupaten Karo sebagai lokasi FDT 2015 ini juga untuk membuktikan bahwa daerah Brasstagi dan Tanah Karo yang selama ini tertimpa musibah akibat erupsi Gunung Sinabung tetap aman untuk dikunjungi.

festival danau toba (2)“Sebenarnya penyelenggaraan FDT ini dipusatkan di sini sebagai pembuktian sekaligus pemberitahuan kepada masyarakat di luar Sumatera Utara bahwa Brastagi dan Tanah Karo tetap siap sebagai daerah tujuan wisata meskipun kini Gunung Sinabung tengah erupsi,” ujarnya.

Arief Yahya menjelaskan Danau Toba sebagai ikon wisata favorit di Sumatera Utara dan daerah Sumatera khususnya akan terus dikembangkan sebagai salah satu destinasi favorit di Indonesia. Sehingga ke depan masyarakat daerah Danau Toba dan daerah-daerah sekitar Danau Toba siap menerima kedatangkan wisatawan baik dari dalam dan luar negeri.

“Kita ke depan ingin menjadikan Danau Toba sebagai obyek destinasi utama di Sumatera Utara, terlebih Danau Toba ini berada di tujuh kabupaten di Sumatera Utara.”

Arief Yahya mengatakan awasan Danau Toba ditargetkan dapat memberikan kontribusi hingga Rp30 triliun‎ terhadap devisa nasional di 2019. Menurut Arief, target itu bukanlah target yang muluk-muluk jika ketujuh Pemerintah Kabupaten di sekitar kawasan Danau Toba, serta Pemerintah ‎Provinsi Sumatera Utara dapat saling bersinergi mengenakan potensi Danau Toba kepada dunia, melalui pelaksanaan even-even reguler, seperti Festival Danau Toba (FDT), dan event baru lainnya.

“Kabupaten kita harapkan memiliki semangat dan kesamaan visi dalam mengembangkan potensi wisata Danau Toba sebagai destinasi wisata berkelas dunia,” harap Arief.

Arief menyebutkan, Danau Toba merupakan destinasi wisata kebangggaan Indonesia karena memiliki perpaduan yang selaras antara kekayaan alam dan budaya. Sehingga sangat beralasan jika kawasan Danau Toba ditetapkan menjadi salah satu dari 10 kawasan destinasi wisata nasional, dan menaruh harapan devisa pada kawasan tersebut.

“Untuk itu, Kementerian Pariwisata terus berupaya melakukan pengembangan Danau Toba. Dimulai dari revitalisasi Badan Pengelola, memperbaiki manajemen, promosi, menyiapkan sarana jalan yang layak, air dan ketersediaan pasokan listrik,” sebut Arief.

festival danau toba (4)Pengembangan kawasan Danau Toba sebagai kawasan wisata nasional diakui Arief, akan diperkuat dengan Perpres Badan Pengelola Kawasan Danau Toba yang kini sedang dalam perumusan.

FDT 2015 dibuka dengan karnaval kebudayaan dari masyarakat di Sumatera Utara, selanjutnya digelar pula pagelaran seni budaya dan juga hiburan bagi rakyat Brastagi.

Tarian empat puak menjadi salah satu pertunjukan andalan dalam pembukaan ini. Tarian empat puak mementaskan empat tarian dari puak Batak Toba, Batak Karo, Batak Dairi, dan Batak Simalungun, tarian ini bercerita tentang kesantunan muda-mudi Karo dalam bergaul.

Disusul dengan pemberian penghargaan kepada orang yang dianggap peduli terhadap pelestarian Kaldera Toba. Penghargaan akan diberikan kepada tujuh orang dari tiap kabupaten yang terletak di kawasan Kaldera Toba.

Pemberian penghargaan itu diharapkan bisa mendorong masyarakat di kawasan Kaldera Toba untuk menjaga kelestarian Danau Toba sehingga target pemerintah untuk menjadikan Kaldera Toba masuk dalam Jejaring Taman Bumi Kaldera Global dapat terwujud.

Diikuti 16 Kabupaten

Festival Danau Toba 2015 terpusat di kawasan Pasar Buah Berastagi, Kabupaten Karo diikuti 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Kepala Dinas Pariwisata Sumut Elisa Marbun, yang juga ketua panitia mengatakan 16 kabupaten/kota yang menjadi peserta kegiatan itu meliputi tujuh daerah di kawasan Danau Toba yakni Karo, Samosir, Tapanuli Utara, Dairi, Toba Samosir, Humbanghasundutan, dan Pakpak Bharat.

festival danau toba (5)“Sedangkan sembilan daerah lain adalah Tapanuli Tengah, Sibolga, Batubara, Binjai, Langkat, Serdang Bedagai, Padang Sidempuan, Labuhan Batu, dan Labuhan Batu Utara. Kami merasa bergembira karena adanya peserta dari provinsi lain yang ikut memeriahkan Festival Danau Toba 2015 yakni Kalimantan Tengah, Banka Belitung, dan Papua,” jelas Elisa.

Dalam festival ini panitia menampilkan berbagai potensi wisata dan budaya Sumut. Diantaranya, karnaval ulos, lomba hiasan, atraksi seni budaya, fashion show etnik, pameran, seminar, lomba foto geopark, lomba perahu solu bolon, renang, dan paduan suara.

Ia mengatakan, seluruh rangkaian Festival Danau Toba tersebut ditujukan untuk melestarikan seni h dan budaya khas batak yang ada di kawasan Danau Toba bagi kalangan generasi muda. Kegiatan itu juga menjadi wadah untuk mempromosikan berbagai potensi budaya, kuliner, dan ekonomi kreatif yang ada di Sumut, terutama di kawasan Danau Toba.

“Dengan demikian, diharapkan kegiatan yang dibebankan dalam APBD Sumut dan APBN Kementerian Pariwisata itu dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Danau Toba, khususnya wisatawan mancanegara,” katanya.

Masih Banyak Kekurangan

Elisa Marbun mengatakan, salah satu penyebab kekurangan FDT kali ini adalah masa persiapan yang mepet. Ia menyebutkan, segala persiapan hanya dilakukan tidak lebih dari dua bulan atau sejak September lalu.

“Sudah pasti (banyak kekurangan) karena persiapan itu yang membuat itu terjadi. Sehingga mungkin tidak sebanyak tahun lalu pengunjungnya. Tapi yang jelas dalam waktu singkat ini bisa terlaksana dengan bagus,” kata Elisa.

Untuk mengantisipasi hal ini kembali terulang, Elisa mengatakan, malam ini akan dilakukan penentuan tuan rumah untuk pelaksanaan Festival Danau Toba tahun depan. Dengan menentukan tuan rumah sejak jauh hari, lanjutnya, diharap dapat membuat pelaksanaan agenda rutin nasional ini kembali meriah dan diminati wisatawan nusantara dan mancanegara.

“Malam ini langsung ditunjuk siapa tuan rumah untuk 2016. Mudah-mudahan dengan waktu yang lebih panjang ini, di tahun 2016 akan lebih baik, tidak lagi terburu-buru,” ujarnya.

Elisa pun mengisyaratkan anggaran yang lebih besar untuk Festival Danau Toba 2016. Namun, tentunya dengan melihat kondisi anggaran terlebih dahulu. “Anggaran itu tergantung nanti kemampuan provinsi dan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pariwisata. Begitu juga dengan kabupaten, mungkin lebih baik lagi nanti,” kata Elisa.

Meski merupakan satu dari tujuh kabupaten yang mengelilingi Danau Toba, namun, lokasi pembukaan dan penyelenggaraan sebagian besar kegiatan jauh dari danau terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Mengenal Danau Toba

Seperti yang kita ketahui, Danau toba adalah danau vulkanik dimana di tengah-tengah danau ini terdapat sebuah pulau yang disebut Pulau Samosir. Danau Toba merupakan salah satu danau terbesar di Asia Tenggara yang terletak di Indonesia, tepatnya di Provinsi Sumatera Utara.

Dari dulu hingga sekarang, danau ini menjadi tempat wisata yang menarik baik dalam negeri maupun luar negeri. Sedangkan untuk mayoritas penduduk di sekitar daerah danau toba adalah orang batak dengan sumber mata pencaharian sebagai petani, pedagang dan nelayan.

Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.

festival danau toba (3)Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.

Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.

Selama tujuh tahun, para ahli dari oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.

Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu. Bukti-bukti yang ditemukan, memperkuat dugaan, bahwa kekuatan letusan dan gelombang lautnya sempat memusnahkan kehidupan di Atlantis. (*/bowo)

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.