PATA Indonesia Dukung Wisata Ramadhan Banda Aceh

Jakarta (Paradiso) – The Pacific Asia Travel Association (PATA), asosiasi pengembangan industri travel dan pariwisata di wilayah Asia Pasifik, menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan Pemerintah Kota Banda Aceh, mengembangkan potensi wisata ramadhan kota Banda Aceh.

President/CEO PATA Indonesia Chapter, Poernomo Siswoprasetijo menjelaskan bahwa pihaknya begitu antusias dan mendorong kota Banda Aceh sebagai destinasi islami dunia.

“Apalagi selama Ramadan tentunya banyak kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat di Banda Aceh sehingga bisa jadi daya tarik untuk wisatawan belajar mengenai syariah dengan baik,” ujar Poernomo saat teleconference dengan Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal di Menara Batavia, Jakarta, Kamis (18/6/2015).

Dia menjelaskan, meski suasana Ramadan, kota Banda Aceh tetap menyambut kehadiran wisatawan mancanegara dan warga di kota Banda Aceh menghargai wisman dari berbagai bangsa, seperti yang telah dilakukan saat datangnya pertolongan dari luar negeri ketika Aceh mengalami tsunami tahun 2004.

Pada bulan Mei 2015 lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Aceh meluncurkan paket wisata “Amazing Ramadhan in Aceh,” dengan paket wisata yang dikemas bersama oleh para pelaku usaha wisata dan agen-agen pariwisata, antara lain menikmati sahur dan buka puasa bersama khas Aceh, shalat terutama tarawih berjamaah di masjid (khususnya Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh), dan menikmati kuliner khas Ramadhan di Aceh.

Ada juga tradisi tadarus malam hari, kenduri khatam Al-Quran dan Nuzulul Quran, mengunjungi masjid-masjid, berziarah ke kuburan massal korban tsunami, berkunjung ke dayah (pesantren) atau panti anak yatim. Disbudpar Aceh juga meluncurkan paket wisata “Banda Aceh-Sabang.”

Saat teleconference, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan pemerintah Kota Banda Aceh menjamin keamanan dan kenyamanan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh.

Terkait isu “jam malam” untuk Perempuan’ yang sedang marak diberitakan di media massa, Walikota menegaskan bahwa Pemerintah Kota hanya mengeluarkan instruksi yang mengatur bahwa pekerja perempuan Aceh pada tempat wisata, warnet, sarana olahraga serta tempat hiburan lainnya tidak boleh bekerja di atas pukul 23.00 WIB.

Pemerintah Kota Banda Aceh juga tidak pernah mengeluarkan istilah “jam malam” khususnya bagi perempuan.

“Karena kesimpangsiuran berita, seolah-olah digambarkan kota Banda Aceh dalam keadaan cukup mengerikan dan cukup kacau, di mana setiap perempuan di Banda Aceh tidak boleh beraktifitas di malam hari. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi riil kota Banda Aceh. Sebenarnya kondisi aktifitas sehari-hari masyarakat Banda Aceh berjalan normal dan tanpa gangguan apapun,” ujar Illiza.

“Kami menginginkan masyarakat yang cerdas dan masyarakat yang partisipatif dalam membangun kota. Kami seluruh jajaran pemkot Banda Aceh hanya pembantu masyarakat. Insya Allah, perjuangan kami menjadikan Banda Aceh sebagai model kota madani bisa kami wujudkan,” tutup Illiza. (bowo)

Facebook Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.