Penerbangan Tambahan ke Bali Naik 60 Persen

BALI (Paradiso) – ASITA BALI dalam acara Asita – Media Gathering yang berlangsung di Kantor Asita Bali, Renon, Denpasar mengungkapkan bahwa di penghujung tahun 2018, Bali mendapat tambahan angkutan udara mencapai 765 pengajuan tambahan penerbangan yang diajukan sejumlah maskapai untuk mengakomodasi tingginya permintaan ketika libur panjang Natal dan Tahun Baru. Penerbangan tambahan tahun ini melonjak sekitar 60 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 477 penerbangan tambahan. Naik sekitar 60%. Untuk jumlah seat, 765 permohonan extra flight tersebut mengakomodirsekitar 145 ribu kursi dibanding tahun lalu. Anggota Asita telah mempersiapkan armada, guide, driver dan paket- paket wisata yang dibutuhkan wisatawan Nusantara. Demikian dikemukakan Ketua Asita Bali, Ketut Ardana di Denpasar,Jumat (21/12/2018).

Belajar dari pengalaman selama ini anggota ASITA Bali siap mengamankan kinerja bisnis kepariwisataannya. Baik dalam pencapaian target mau pun peningkatan lama tinggal, perluasan pasar mau pun pemasaran produk- produk wisata baru. Dengan mengedepankan kepariwisataan berkualitas.

Asita Bali sepakat, Bali mengembangkan pasar- pasar wisata minat khusus berakar pada wisata budaya Bali. Pasalnya secara tradisi, budaya Bali sangat kental dengan ke delapan unsur budayanya yang sangat fleksible dipadankan dalam kehidupan modern. Sejalan dengan komitmen Pemprov Bali mendukung Nawa Cita kepariwisataan Pemerintah Indonesia.

Asita Bali juga mengakui terjadinya perubahan/pergeseran struktur wisatawan yang datang ke Bali, berdampak pada kualitas wisman yang cenderung menurun, baik dari sisi belanja wisman, dan rata-rata lama tinggal. Oleh karenanya Asita sepakat mengembangkan produk wisata minat khusus seperti wisata kesehatan, olahraga, desa wisata, MICE. Secara pararel meningkatkan kualitas produk wisata budaya yang secara umum menjadi unggulan kepariwisataan Bali.

Selain pengembangan pasar alternatif antara lain ke kawasan Eropa Tengah, Timur Tengah, Eropa Timur, Rusia serta beberapa Kawasan di Afrika yang memiliki potensi cukup besar dan daya beli yang tinggi.

Wisata minat khusus dari pasar- pasar alternative diyakini Asita mampu mendukung upaya pemerataan distribusi wisatawan dan optimalisasi peran serta potensi masing-masing destinasi wisata di Bali. Pasalnya masing- masing kabupaten/kota di Bali memiliki karakter social, ekologis sebagai unggulan dan daya saing daerah. Pada saat yang sama Asita mendorong upaya pengelolaan kawasan pulau Bali dalam konsep One Island Management.

Anggota Asita Bali juga merasakan bahwa sepanjang tahun 2018, kinerja kepariwisataan Bali mengalami sedikit hambatan pasca bencana Gunung Agung, gempa Lombok, gempa dan tsunami Palu serta kecelakaan pesawat Lion Air. Kinerja perekonomian Bali khususnya di triwulan III 2018, berdampak pada melambatnya kinerja lapangan usaha akomodasi makan dan minum serta transportasi, padahal triwulan III merupakan periode peakseason pariwisata di Bali (laporan BI). Namun kunjungan ke Bali pada periode yang sama dibanding tahun 2017 masih menunjukkan peningkatan signifikan.

Pasar RRT
Pasar kunjungan ke Bali, mengalami sedikit guncangan dengan terbongkarnya praktik zero tour fee pasar wisatawan RRT. Kondisi yang mengkhawatirkan sejumlah kalangan, seperti diketahui pasar RRT masih menduduki ranking 10 besar untuk Bali. Kunjungan wisman RRT periode Januari- Nopember 2018 dibanding periode sama tahun 2017 mengalami penurunan 6,65% (dari 1.374.320 pax menjadi 1.282.979 pax).

Terkait dengan market China, Asita Bali mendukung sepenuhnya langkah-langkah yang hendak dilaksanakan stake holder pariwisata Bali dibawa GIPI dan Pemprov Bali antara lain berkoordinasi dengan pihak terkait hal regulasi import barang dari RRT. Mengikutsertakan pemilik usaha dalam sosialisasi persyaratan aturan hokum membuka usaha di Bali, persyaratan yang diberlakukan jika pemerintah mengijinkan toko2 itu buka kembali, pengaturan barang2 dagangan layak jual di Bali, tenaga kerja yang digunakan sebagai penjaga toko bukan orang asing dan system pembayaran serta komisi.

Asita Bali juga aktif dalam rencana penyelenggaraan Festival Bali Tiongkok berupa parade budaya yang diselenggarakan di Kintamani, Bangli dengan dasar pertimbangan bahwa Batur memiliki sejarah budaya Tionghoa di Bangli. Kegiatan ini akan diselenggarakan sekitar tanggal 6 Februari 2019 dengan Kepanitiaan yang akan disusun oleh Bali Tourism Board. Anggota Bali Liang diminta untuk mendukung kegiatan ini dengan mengirimkan wisatawannya ke acara festival tersebut.

Masih terkait tata niaga kepariwisataan, Asita memohon Pemprov Bali melakukan sejumlah perubahan aturan hal perijinan biro perjalanan wisata atau travel agent yang beroperasi di Bali. Disamping meningkatkan kualitas kerjasama dan koordinasi antar asosiasi pariwisata di bawah GIPI.

Table Top dan Travel Mart
Upaya meningkatkan kualitas produk dan pasar wisata Bali, anggota Asita menyelenggarakan sejumlah table top di dalam negeri dan mengikuti sejumlah travel mart di pasar- pasar potensial di luar negeri.
Di tahun 2018 table top diselenggarakan pada tanggal 27 Maret 2018 di Solo bekerjasama dengan GTC, 27 September 2018 di Makassar yang didukung oleh Pemkot Denpasar. Di tahun 2019, Asita menyelenggarakan Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) keenam sebagai dukungan terhadap Pemkab Badung. Dengan tema” Journey to Sustainable Tourism”

Mengakhiri tahun 2018, Asita Bali mendukung penuh hal Ranperda kutipan kepada wisatawan yang hendak diberlakukan di Bali sepanjang angkanya wajar.

Seperti diketahui, mengacu kepada Neraca Satelit Pariwisata Nasional (Nesparnas 2017), share bidang usaha pariwisata tercatat 52,99% terhadap ekonomi Bali 2017. Kondisi tersebut memunculkan resiko terhadap kontinuitas dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi Bali, terutama bila terjadi situasi yang menganggu kepariwisataan di Bali. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.