Peran Indonesia Dalam wisata budaya di ASEAN

Jakarta (Paradiso) – Indonesia menjadi salah satu negara yang turut menjadi bagian dalam wisata budaya dan warisan di ASEAN. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara kini tengah berupaya mengembangkan wisata budaya dan sejarah sebagai tujuan wisata tunggal (single destination) unggulan untuk menarik kunjungan wisatawan mancanegara dari intra-ASEAN maupun dunia.

“Integrasi itu menjadi strategi untuk mencapai target kunjungan wisman sebanyak 12 juta orang hingga 2019,” kata Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Kementerian Pariwisata Lokot Ahmad Enda saat pembukaan “Workshop: Professional Development Training on Guideline For ASEAN Cultural and Heritage Tourism Travel Pattern” di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (4/12).

Menurutnya, untuk pariwisata budaya, sumbangan kunjungan wisman ditargetkan 12 juta orang. “Maka kita cari bagaimana percepat realisasi ini, salah satunya dengan melakukan integrasi dengan ASEAN,” tuturnya.

Erina Loo dari Training and Education Southeast Asia Tourist Guides Association mengatakan, Indonesia punya potensi besar untuk mengembangkan wisata budaya dan sejarah.

Secara total, sebanyak 10 negara di kawasan Asia Tenggara akan diintegrasikan dalam proyek tersebut. “Selama tujuh jam saya berada di Jakarta saja, saya bisa lihat ada 10 produk yang bisa dikembangkan di sini,” ujarnya.

Dalam kerja sama bidang pariwisata di tingkat ASEAN, Indonesia telah menyusun laporan akademis tentang pola perjalanan wisata budaya dan sejarah. Laporan tersebut bahkan telah dijadikan bahan acuan bagi ASEAN Cultural Heritage Sub-working Group.

Laporan tersebut juga telah menjadi pedoman praktis dalam pelatihan memperkenalkan wisata budaya dan sejarah di Bali, Agustus lalu, yang selanjutnya masuk ke pelatihan yang berlangsung di Jakarta 4-5 Desember ini.

Selain bisa berkontribusi dalam penyusunan pedoman perjalanan wisata budaya dan sejarah di ASEAN, hasil pelatihan juga akan diujicobakan di tiga negara dengan masing-masing durasi wisata tujuh jam pada Maret 2016.

Tetty DS Ariyanto, Direktur Pengembangan Bisnis Pusat Pembelajaran Perjalanan dan Pariwisata Inspire, mengatakan pedoman yang disusun dengan kerja sama perusahaannya agar ada kompetisi sehat diantara 10 negara ASEAN dalam program tersebut.

Perusahaan yang menjadi konsultan pariwisata se-Asia Tenggara itu membantu melakukan pelatihan dalam mengembangkan produk paket wisata.

“Kita harap pelatihan ini bisa membuahkan paket atau produk yang bisa langsung jadi, bisa diimplementasikan dan jadi primadona. Dengan trademark budaya dan sejarah di ASEAN ini, diharapkan pasar Asia dan dunia tertarik, pamor Indonesia juga lebih terangkat,” ujarnya.

Menurut Tetty, negara-negara di ASEAN memiliki budaya dan sejarah yang mirip dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu terlihat dari cara berpakaian dan selera makanan orang-orang Asia Tenggara. “Potensi itulah yang harus dikembangkan, jadi satu wisata yang punya nilai sendiri di tiap negara, tapi tidak saling berkompetisi. Pedoman yang dihasilkan akan terus diujicobakan dan dievaluasi hingga 2017,” pungkasnya. (*/bowo)

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.