Permudah Masuk Kapal Yacht, Gaet Pasar Australia dan New Zealand

Jakarta (Paradiso) – Australia dan New Zealand, dua negara yang paling happy dengan pencabutan CAIT untuk yacht (perahu pesiar) yang akan masuk dan berlayar ke perairan Indonesia. Mereka tidak harus bersusah payah 3 minggu mengurus izin masuk, setelah deregulasi itu, mereka cukup mengurus 1 jam saja. “Tidak lama lagi banyak pengusaha yang akan membangun marina atau pelabuhan yacht, tempat parkir kapal pesiar kecil-kecil itu,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Cara membidik pasar Australia dan New Zealand yang paling “nendang” memang menggarap marine tourism. Mereka orang-orang darat, tetapi mereka sangat menikmati marine atau laut. Sport tourism mereka juha hidup. Ada ribuan yacht di Darwin, Perth, Sydney, Melbourne, dan kota-kota pesisir lainnya. Selama ini mereka ke Indonesia dan parkir di Singapura.

Singapura memang yang paling diuntungkan oleh regulasi yang ada selama ini berjalan, karena semua yacht leluasa bersandar di Singapore. Dan tidak kompetitif untuk parkir di Batam dan Bintan. Karena itu, ribuan yacht setiap hari di marina Singapore, dan tak ada banyak yang menambatkan talinya ke Indonesia. Mengapa bisa begitu? “Karena itulah CAIT dicabut, di-deregulasi, agar menumbuhkan bisnis di tanah air,” kata Arief Yahya.

Tentu selama merapat ke Singapura, belanja mereka juga ke sana, jalan-jalannya juga ke Negeri Singa Putih itu, membayar biaya sewa parker, pajak, bahan bakar, dan kebutuhan selama melaut sudah pasti ke Singapore. Secara ekonomis dan bisnis, Singapore paling banyak mendapatkan benefit. “Padahal, yacht yang stand by di marina Singapore itu, area bermain dan water sportnya di Indonesia? Jadi kita hanya dijadikan halaman bermain, sedangkan bisnisnya diambil oleh Singapura,” ungkapnya.

Itulah jawaban, mengapa selama ini yacht tidak familiar di Indonesia. Negeri marine, negara bahari, yang 70% wilayahnya lautan, yang konon “nenek moyang”-nya seorang pelaut. Itu juga jawaban mengapa banyak yacht yang berbendera asing, tetapi pemiliknya orang Indonesia? Mereka ngeper dengan kebijakan, barang supermewah, sehingga pajaknya dinaikkan 75%. Ini sama dengan bisnis telekomunikasi juga.

“Kalau di telkom, bisnisnya bukan starter pack, tetapi di pulsa. Karena itu tidak boleh dibuat mahal di kartu perdana, karena bisnisnya ada di pembelian dan pemakaian pulsa,” tutur Arief Yahya.

Bagaimana dengan promosi ke Australia selama 2015? “Selain serangan udara dengan saluran TV National Geographic, CNN International, banyak pameran, sales mission, dan beraneka ragam branding di Sydney, membungkus tram (kereta kota-red) yang melintasi kota Melbourne dengan Wonderful Indonesia. Kami juga mengadakan event Festival Wonderful Indonesia, dengan sasaran anak-anak muda Australia, dan menggabungkan dua kebudayaan pop Indonesia-Australia, lalu lebih banyak memperkenalkan kuliner Indonesia ke sana,” ungkapnya.

Belajar dari Thailand, Negeri Gajah Putih itu dikenal di kolong langit ini dengan Thai Food-nya. Negara hadir untuk menyebar luaskan masakan Thailand itu di mana-mana. Di Melbourne sendiri ada 600 restoran Thailand, 300 restoran Vietnam, 200-an restoran Melayu Malaysia, dan hanya 50 masakan Indonesia. “Gastronomi itu induknya ke Kemenpar, karena itu kuliner bisa dijadikan lokomotif untuk memperkenalkan Wonderful Indonesia,” jelas Arief Yahya. (*/bowo)

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.