Pertama Kalinya Pesta Adat Reba Digelar di Jakarta

adat RebaJakarta (Paradiso) – Reba  merupakan perayaan tahun baru masyarakat Ngada,  ini juga adalah sebuah perayaan berbagi. Sementara pesan-pesan yang disampaikan dalam perayaan ini mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi.

Orang Ngada Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) biasanya  menyelenggarakan acara ini di kampung asalnya, saat keluar dari wilayahnya akan membagikan makna dari perayaan pesta adat ini kepada orang lain.

Sebagai perayaan syukur, Reba biasanya dirayakan pada akhir Desember – Februari, bertepatan dengan musim hujan dan angin. Tanggal pelaksanaan ritual Reba ditentukan berdasarkan kalender adat yang disebut paki sobhi (tahun sisir) atas petunjuk seorang Mori kepo vesu (pemegang adat istiadat) sebagai pihak yang berwenang.

Kendati berbeda-beda dari satu suku atau kelompok masyarakat di Ngada, perayaan Reba umumnya memiliki tiga tahap utama, yakni Kobe Dheke, Kobe dhai, dan Kobe Su’i. Setiap tahap memiliki tiga elemen tetap yaitu doa (kena Ine Ema), kurban (dhi fedhi nee puju pia), dan perjamuan (ka maki reba/toka wena ebu) atau makan bersama.

Selain dimeriahkan dengan tarian ja’i, yaitu tarian adat masyarakat Ngada yang kini populer di kalangan masyarakat NTT, perayaan Reba juga dipenuhi dengan berbagai macam pata dela (petuah nan bijak Sang Leluhur) atau lese dhe peda pawe (penyampaian pesan kebijaksanaan hidup).

Nah begitu pentingnya makna perayaan pesta adat ini,  warga Flobamora Diaspora di Jabotabek, untuk pertama kalinya  menggelar pesta adat Reba yang digelar di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (22/2/2014).

Selain masyarakat Ngada yang ada di Jakarta, perayaan Reba ini dihadiri pula oleh Gubernur NTT Frans Leburaya, Staf Ahli Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bidang Budaya Dr Hari Untoro, Perwakilan masyarakat Ngada di Bandung dan Surabaya.

Ketua Panitia Pesta Adat Reba 2014, Marcel Muja mengatakan kegiatan pesta adat di TMII ini  terbuka untuk umum. Pelaksanaannya  di Jakarta sudah lama menjadi keinginan warga Ngada dan warga NTT di Jakarta, namun baru dapat  terselenggara saat ini.

Menurutnya, alasan digelar acara ini  di TMII adalah karena nilai-nilai yang terkandung dalam Reba itu merupakan nilai nilai universal yang bisa ditularkan kepada semua orang. Merupakan  sebuah perayaan persekutuan atau komunitas yang  memiliki dampak sistemik yang luas karena berciri holistik.

“Perayaan Reba sebenarnya merupakan perayaan simbolis dari rancang bangun religiusitas orang Ngada, rancang bangun dari relasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya. Perayaan ini merupakan perayaan kehidupan orang Ngada,” ungkap Pastor Edu Dopo, perwakilan Komunitas Masyarakat Ngada.

Misa inkulturatif yang dipimpin oleh Mgr Vinsensius Sensi Potokota, Pr menjadi awal dari gelaran pesta adat ini baru dilanjutkan dengan Ritual Reba, pada Jumat (21/2/2014) malam. Ritualnya dimulai  dengan ritual Kobe dheke, yaitu ritual meminta restu dan petunjuk terkait perayaan Reba dari Wujud Tertinggi dan nenek moyang orang Ngada.

Lebih luas lagi, perayaan Reba yang sengaja digelar di Jakarta maksudnya adalah memperkenalkan sejarah, budaya, dan nilai hidupan orang Ngada. Budaya dan nilai hidup tersebut sangat mendukung nilai-nilai kebangsaan dan kenegaraan yang tercermin dalam semangat persaudaraan, musyawarah, dan gotong royong. (eka elisa)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.