Peserta IHGMCE Kagumi Pementasan “Tinglung”

BALI (Paradiso) – SEBANYAK 600 peserta “International Hotel General Manager Conference and Exhibition 2017” (IHGMCE) yang menghadiri gala dinner di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), akhir pekan lalu, tampak larut dalam keceriaan mengagumi pementasan “Tinglung” yang dimainkan sangat apik oleh puluhan siswa pelajar (SD, SMP, SMA) yang dikomandoi Cathy Mayangsari, A.Md.

“Rindik Bali yang dominan dengan bambu merupakan konsep angklung Bali yang saat ini kami kolaborasikan dengan bentuk angklung Sunda yang telah diinovasikan, yaitu angklung toel. Bentuk baru instrumen ini kami perkenalkan dengan sebutan “Tinglung”. “Ting” berarti bambu, dan “lung” berarti patah–patah atau bagus atau indah. Sehingga, bila digabungkan, Tinglung merupakan bambu yang indah,” jelas Cathy Mayangsari, Minggu (24/9).

Rangkaian alat musik ini katanya, diselaraskan dengan tarian dan kolaborasi angklung Jawa Barat yang dimainkan oleh kalangan anak-anak yang berusia 7 tahun hingga usia remaja/dewasa yang berasal dari “Kampung Artis Villa Melisa Bali,” di Banjar Calo, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar.

Karya seni ini berawal dari ide Sugama Trisnadi (Ko Siu), ayah dari mantan artis cilik Melisa yang dikenal sebagai pelantun lagu “Abang Tukang Bakso”, “Semut Semut Kecil”, “Sikomo”, dan sejumlah lagu anak-anak lainnya. Melisa bersama sejumlah rekannya membangun villa berkonsepkan akulturasi budaya Bali dan Sunda.

Malam itu, Cathy tampil bak seorang dirigen bersama puluhan siswa-siswi pelajar sambil mendemonstrasikan keunikan dan kekompakan dalam memainkan nada, irama dan tempo dari beberapa lagu yang tak asing lagi di telinga ratusan General Manager (GM) sejumlah hotel dari dalam dan luar negeri itu.

“Ini merupakan persembahan murni karya anak-anak bangsa yang terinspirasi dari akulturasi dua budaya, yaitu Bali dan Sunda. Seperti Tinglung pembukaan, yaitu lantunan irama rindik Bali yang dimainkan sebagai lagu pembuka untuk mengiringi kedatangan tamu maupun jamuan makan dengan lantunan alat musik yang terdiri dari tingklik, undir, kendang Bali, kendang Sunda, suling Bali, suling Sunda, pentuk cengceng, angklung rindik, dan gong, yang berdurasi 8 menit,” ujar Cathy.

Kemudian selama 7 menit, juga dipentaskan, tari kreasi Bali, dibawakan oleh beberapa gadis remaja Bali yang menari lemah gemulai mengikuti lantunan Tiinglung yang dikemas dalam “Madu Sumere”, hasil koreo Ketut Mariana yang terinspirasi dengan keindahan lantunan suara bambu yang merdu, layaknya madu yang banyak menggoda kupu-kupu dan lebah untuk mengambil manisnya aroma dan rasa madu. Sebuah perpaduan cantik yang dapat dikreasikan dengan segala jenis tarian sesuai kebutuhan dari tema acara.

Perpaduan nyata secara visual makin kentara jelas saat memainkan angklung massal yang dibawakan anak-anak Br Calo dengan Tiinglung melalui keseragaman nada dan keceriaan anak anak dalam bermain alat musik angklung Jawa Barat. Ratusan tamu undangan seolah terhipnotis dan tercengang melihat kepiawaian anak-anak tersebut yang memadukannya dengan tarian yang berdurasi selama 10 menit.

Pada puncak penampilan Cathy bersama tim, selama sekitar 30 menit, selain melibatkan puluhan murid “Kampung Artis Villa Melisa Bali” juga mengajak serta sejumlah tamu undangan untuk memainkan Tinglung secara langsung. Mereka berkolaborasi sambil memainkan beberapa genre musik lewat lantunan lagu “You Raise Me Up”, “Ye Liang Tai Piao Wo Te Sin”, dan “Can’t Help Falling In Love With You”.(*)

Facebook Comments

Leave a Reply

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.