Rangkaian Upacara Nyepi: Tawur Agung Kesanga dan Pawai Ogoh-Ogoh Berjalan Sukses

Denpasar (Paradiso) – Rangkaian upacara Nyepi di Bali yakni Tawur Agung Kesanga dan pawai ogoh-ogoh di Bali berlangsung sukses. Hingga saat ini, pelaksanaan dua rangkaian upacara tersebut berlangsung sukses dan tidak ada gesekan yang berarti. Pengamanan dilakukan secara ketat hampir di seluruh pelosok Bali. Polda Bali, Polres seluruh Bali, Polsek seluruh Bali mengerahkan kekuatan penuh untuk melakukan pengamanan rangkaian hari raya Nyepi. Bahkan, Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose mengikui upacara Tawur Agung Kesanga di halaman Polda Bali. Selama proses pawai ogoh-ogoh, hampir seluruh anggota Polri ikut terlibat, berada di tengah masyarakat, berbaur dengan masyarakat.

Di Kota Denpasar misalnya, upacara Tawur Agung Kesanga di Lapangan Puputan Badung I Gusti Made Agung Rabu (6/3) sebagai rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi. Upacara Tawur Agung Kesanga tersebut dihadiri Walikota Denpasar, IB. Rai Dharmawijaya Mantra beserta seluruh OPD di Lingkungan Pemerintah Kota Denpasar serta masyarakat. Upacara diawali dengan penampilan tari Baris Poleng kemudian dilanjutkan tari Rejang Dewa dan Rejang Renteng yang dibawakan oleh Ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita Persatuan Kota Denpasar serta WHDI Kota Denpasar.

Rai Mantra mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kesucian Nyepi. Mulai dari pelaksanaan pengerupukan terutama saat mengarak ogoh-ogoh. “Saya harapkan semua pihak turut menjaga kesucian Nyepi sehingga pelaksanaan catur berata penyepian bisa dilaksanakan dengan baik. Jangan sampai saat mengarak ogoh-ogoh menggunakan sound system apalagi meminum minuman keras,” ujarnya.

Panitia upacara Cok Putra Wisnu Wardana di sela-sela upacara mengatakan Tawur Agung Kesanga tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya sarana upacara ritual yang digunakan. Upacara yang dilaksanakan ini merupakan tingkatan utama dengan menggunakan berbagai jenis  daging ritual, yakni untuk arah timur menggunakan angsa dan seterusnya.

Ia menjelaskan jumlah Sulinggih atau Rohaniawan Hindu yang memimpin puncak pelaksanaan Tawur Agung Kesanga yakni enam Sulinggih yang berasal dari berbagai unsur. Keenam Sulinggih tersebut yang terdiri dari Sulinggih Siwa, Budha, Senggu, Rsi Bujangga, Empu Pande, dan Dukuh.
“Jadi total enam Sulinggih yang muput Karya Tawur Agung Nyepi Caka 1941 tahun 2019,” papar Cok Putra Wisnu Wardana. Pelaksanaan Tawur Agung bertujuan untuk menetralisir pengaruh “bhuta kala” atau unsur negatif (jahat) sebagai upaya harmonisasi ketiga unsur, yakni “parahyangan, palemahan dan pawongan” yang merupakan implementasi “Tri Hita Karana” atau keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan.

Sementara Kepala Bagian Kesejahteraan Kota Denpasar, Raka Purwantara menambahkan untuk  persiapan upacara ritual tersebut mulai pada Minggu (3/3) beberapa hari lalu. Sedangkan puncak tawur agung kesanga dilaksanakan pada Rabu (6/3). Tawur ini tidak hanya dilakukan pada tingkat pelemahan Kota denpasar saja, namun berlanjut ke Upacara pada palemahan desa adat masing-masing meliputi, tingkat kecamatan (Caru Panca Sata), tingkat Desa/Banjar (Caru Eka Sanak), tingkat rumah tangga (Segehan Agng  dan Segehan Warnna 9).

Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Hengky Widjaja mengatakan, secara umum seluruh proses upacara malam Nyepi berlangsung aman. Aparat gabung melakukan patroli secara ketat, melakukan pengawasan secara ketat agar tidak terjadi gesekan. “Kami melakukan pengamanan dengan seluruh kekuatan yang penuh. Anggota berbaur denga masyarakat,” ujarnya. Untuk menjamin pelaksanaan Nyepi, Polda Bali telah mengeluar 7 himbauan secara resmi dan sudah disebar ke seluruh masyarakat, agar tercipta kondisi kondusif saat Nyepi maupun menjelang Pilpres.

Ketuju himbauan itu antara lain pertama, kepada masyarakat Bali agar menjaga dan memelihara Kantibmas yang kondusif di lingkungan masing-masing dan saling menghormati antarumat beragama. Kedua, pada malam pengerupukan dan pengarakan ogoh-ogoh, diharapkan masyarakat dapat mengendalikan diri, dan jangan sampai terjadi bentrok antarwarga dan antarumat beragama. Ketiga, kepada masyarakat agar tidak membuat ogoh-ogoh mirip wajah Paslon atau Caleg tertentu, sehingga tidak menimbulkan bentrok antarpendukung yang dapat mengganggu kesakralan hari raya Nyepi. Keempat, menjaga kerukunan, keharmonisan, dengan tidak mengonsumsi Miras, judi, menyalakan mercon, guna terwujudnya pelaksanaan tapa brata penyepian secara harmoni.

Kelima, bagi umat yang merayakan hari raya Nyepi tahun baru Caka 1941 agar melaksanakan catur brata penyepian antara lain Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan, dan Amati Lelalungan dengan penuh hikmat. Keenam, diharapkan petugas adat dalam hal ini pecalang, kalau tidak ada yang mendesak sebaiknya di rumah saja. Begitu pula anak-anak yang tinggal di perumahan dan Asrama agar tidak berkeliaran di jalanan. Ketuju, bagi masyarakat yang akan meninggalkan rumah tempat tinggalnya selama Nyepi, pastikan rumah dalam keadaan terkunci, listrik dipadamkan untuk menghindari gangguan Kantibmas. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.