Revitalisasi Desa Sijuk Heritage Perkuat Destinasi Prioritas Tanjung Kelayang

Tanjung Pandan (Paradiso) – Revitalisasi Desa Sijuk, Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung (Babel) yang memiliki daya tarik wisata multikultural heritage memperkuat destinasi Tanjung Kelayang yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai satu di antaranya 10 destinasi pariwisata prioritas.

Revitalisasi situs heritage berupa renovasi bangunan masjid kuno, kelenteng, rumah adat Melayu dan perkampungan di desa Sijuk tersebut diinisiasi oleh Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural bersama tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia dengan melibatkan stakeholder pariwisata sebagai kekuatan Pentahelix (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media) telah dimulai tahun lalu dan berlanjut pada tahun ini.

Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural Esthy Reko Astuti mengatakan, atraksi wisata multikultural heritage di Desa Sijuk meliputi Masjid dan Kelenteng kuno yang dibangun sekitar tahun 1.800-an, rumah adat Melayu yang dibangun sekitar tahun 1940-an yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya, serta perkampungan dan kawasan Pecinan itu banyak diminati wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus).

“Ada sebanyak 60 bangunan heritage (rumah Melayu) di sana. Tahun lalu, kita mulai merevitalisasi 5 rumah khas Melayu sebagai pemicu dan kita lanjutan tahun ini sebanyak 20 rumah dengan melibatkan kekuatan Pentahelix utamanya industri dan komunitas masyarakat setempat ,” kata Esthy Reko Astuti dalam diskusi di forum FGD (Focus Group Discussion) yang berlangsung di Hotel Santika Tanjung Pandan, Jumat (22/2/2019).

FGD yang mengangkat tema ‘Implementasi Pengembangan Atraksi Multikultural pada Destinasi Pariwisata Prioritas di Desa Sijuk, Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung’ tersebut dibuka oleh Dekan FIB UI Prof. DR. Andrianus L.G. Waworuntu menghadirkan sejumlah nara sumber antara lain Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata Dr. Anang Sutono, MM.Par, CHE, Dewan Pengarah ICCN (Indonesia Creatif Cities Network) juga sebagai Direktur PT Propan Raya DR Yuwoso Imanto, Irmawati Marwoto tim FIB UI, dan Tim Percepatan Pembanguan Destinasi Wisata Prioritas Kemenpar Larasati Sedyaningsih.

Andrianus L.G. Waworuntu mengatakan, keberadaan daya tarik wisata multikultural heritage Desa Wisata Sijuk berperan penting dalam mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang sebagai kawasan pariwisata prioritas yang menempatkan marine tourism sebagai produk wisata utamanya. “Sijuk heritage penting untuk mendukung marine tourism sebagai wisata utama Tanjung Kelayang,” kata Andrianus L.G. Waworuntu.

Andrianus L.G. Waworuntu memberi contoh pariwisata Bali di era tahun 1970-an menempatkan wisata pantai (marine tourism) sebagai unggulannya, kemudian berkembang dengan culture tourim “Destinasi wisata prioritas Tanjung Kelayang bisa berkembang seperti ini,” katanya.

Sementara itu DR. Yuwono Imanto menyatakan revitalisasi sebagai upaya meningkatkan dari
budaya tradisional (traditional culture) menjadi (modern) kreatif industri. “Revitalisasi Desa Sijuk Heritage meningkatkan rumah tradisional menjadi modern dengan arsitektur nusantara yang lebih menarik,” kata Yuwono Imanto.

Desa Sijuk yang dikembangkan sebagai destinasi wisata multikultural heritage, menurut Untung Sutono, sejalan dengan fortopolio bisnis pariwisata nasional yang menempatkan culture sebesar 65%, nature 30%, dan manmade 5%.

“Pengelolaan destinasi (DMO) di
tingkat desa keberhasilannya sangat ditentukan saat perencanaan dan penelitian dalam hal ini melibatkan
dunia akademisi FIB UI. Pengelolaan DMO desa wisata apabila perencanaannya tidak dilakukan dengan baik membawa dampak negatif baik pada aspek sosial maupun lingkungan,” kata Anang Sutono.

Dalam mengembangkan KEK Tanjung Kelayang, menurut Larasati Sedyaningsih, Tim Percepatan Pembanguan Destinasi Wisata Prioritas Kemenpar fokus pada peningkatkan konektivitas penerbangan dari negara sumber wisman antara lain Singapura dan Malaysia serta memasukan Tanjung Kelayang sebagai destinasi Global Geopark Network (UNESCO). “Belitung merupakan destinasi pariwisata dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 25% atau di atas pertumbuhan pariwisata nasional sebesar 23%,” kata Larasati Sedyaningsih seraya mengatakan, tahun 2017 Belitung dikunjungi 379.274 wisatawan terdiri atas 9.358 wisman dan 369.916 wisnus.

Wisman yang berkunjung ke Belitung dari pasar utama antara lain Malaysia, Singapura, Korea Selatan, China, dan Jepang sebagai Top 5 Country serta dari Australia, India, USA, dan Jerman. Sementara itu untuk meningkatkan kunjungan wisman, Belitung memiliki event pariwisata unggulan antara lain; Festival Tanjung Kelayang 2018, Pesta Nelayan di Desa Padang Kandis, serta Wisata Pantai Tanjung Pendam, dan Patung Dewi Kwam Im di ViharaTertua di Belitung. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.