Sambut Wisatawan, Masyarakat Desa Wisata Dibekali Ilmu Kepariwisataan

Karangasem, Bali (Paradiso) – Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) salah satu unsur terpenting dalam pembangunan pariwisata, tidak terkecuali keberadaan masyarakat di desa wisata.

Keberhasilan suatu desa wisata sangat ditentukan kesiapan masyarakat setempat, sejauh masyarakat bisa mengelola potensi desa yang dimiliki juga meningkatkan pelayanan pada wisatawan.

Sadar akan hal tersebut, Asdep Pengembangan Wisata Budaya bersama Tim Percepatan Wisata Pedesaan dan Perkotaan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Desa Wisata pada 19 – 20 April 2018 di Hotel Rama Candidasa Resort, Kabupaten Karangasem – Bali.

Vitria Ariani, Ketua Tim Percepatan Wisata Perdesaan dan Perkotaan menjelaskan, tidak kurang 50 peserta dari berbagai desa wisata di Karangasem, stakeholder pariwisata dan pemerintah daerah mengikuti kegiatan Bimtek ini.

“Kita berusaha meningkatkan kapasitas masyarakat desa agar bisa menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan, merekalah yang berada di barisan depan, berhadapan langsung dengan wisatawan. Tingkat kepuasan wisatawan ditentukan tingkat pelayanannya,” jelas Vitria Ariani saat kegiatan Bimtek Pengelolaan Desa Wisata di Hotel Rama Candidasa, Karangasem, Bali, Kamis (19/4/2018).

Selain itu, lanjut Vitria, kita juga dampingi ke tahap pengelolaan dan pengembangannya, tujuannya agar bisa menjadi desa wisata mandiri. Banyak desa yang ingin bertransformasi menjadi desa wisata dimana pengelolanya mekewati tahapan sebagai desa berkembang, maju hingga menjadi mandiri.

Rizki Handayani Mustafa, Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata menjelaskan melalui bimtek ini diharapkan masyarakat desa bisa membuat beragam produk wisata dan mampu mengembangkan paket-paket wisata menarik, menimbulkan kesan indah dan kenangan ke para wisatawan.

“Nah akhirnya wisatawan rindu untuk kembali lagi ke desa itu dan menceritakan hal positif ke kerabatnya,” kata Rizki Handayani didampingi Asisten Deputi Bidang Wisata Budaya, Oneng Setya Harini.

Rizki menambahkan tujuan bimbingan teknik ini utamanya adalah bagaimana meningkatkan peran serta masyarakat di desa-desa wisata sehingga tercipta produk wisata yang berdaya saing.

“Wisatawan mancanegara datang ke Indonesia bukan hanya ke destinasi wisata populer tetapi juga mau berkunjung ke desa-desa wisata juga. Oleh karena itu kuncinya adalah pada kesiapan dan kreativitas dari masyarakat desa sendiri,” kata Rizki Handayani.

Asisten Deputi Bidang Wisata Budaya, Oneng Setya Harini menjelaskan data menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan ke Indonesia 60% adalah untuk wisata budaya, 35% karena tertarik untuk wisata alam dan 5% karena tertarik pada obyek wisata buatan.

“Pengelola desa bisa menggali, mengembangkan potensi wisata budaya dengan menawarkan produk yang melibatkan kunjungan wisman ke desanya tetap dengan melestarikan keunikan budayanya,” ungkap Oneng.

Oleh karena itu, lanjut Oneng, bimbingan teknis pengelolaan wisata pedesaan di Karangasem ini penting sekaligus dapat memberikan rekomendasi kepada stakeholder pariwisata terkait melakukan sinergitas pentahelix dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan.

Oneng Setya Harini, I Wayan Astika dan Vitria Ariani

“Stakeholder Pentahelix dari semua elemen yaitu pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, media dan komunitas harus bersinergi dengan baik dalam penciptaan setiap produk desa wisata sehingga tersedia paket wisata yang beragam dan menarik wisatawan. Ujungnya adalah peningkatan pendapatan desa demi mensejahterakan masyarakat“ ungkap Oneng Setya Harini.

Peserta bimtek belajar mengenai pariwisata berkelanjutan, identifikasi daya tarik wisata, penentuan atribut penting pada daya tarik, elemen penting produk wisata, pembuatan itinerary paket wisata, penetapan harga paket wisata, promosi, kelembagaan, dan kemitraan sesuai dengan buku pedoman.

Tidak hanya mendengarkan arahan dari pembicara, peserta juga mempraktikan ilmu yang didapat dengan mengidentifikasi secara langsung daya tarik yang dimiliki desa masing-masing untuk kemudian dibuat itinerary yang dapat direkomendasikan sebagai pola perjalanan wisata di desanya

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kab. Karangasem, I Wayan Astika mengatakan bimbingan teknis ini sangat dibutuhkan karena pemerintah sifatnya sebagai fasilitator dan regulator. Justru komitmen dari para stakeholders yang menjadi kunci berhasilnya pengembangan desa wisata.

“Kuncinya komitmen, kreativitas dan inovasi dari pengelola desa dan masyarakat desa. Sehingga mampu menerapkan Sapta Pesona pada masyarakat desa dengan baik,” ungkap Astika.

Jika ada komitmen kuat dan kesadaran warga desa untuk menularkan Sapta Pesona kepada sesama warga maka seluruh desa mampu melayani dengan 7 dasar Sapta Pesona yaitu: Keamanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramahan, dan Kenangan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut positif kegiatan peningkatan SDM, terlebih masyarakat desa wisata yang bersinggungan langsung dengan wisman.

“Dalam pengembangan destinasi pariwisata tidak hanya pembangunan di unsur 3A (aksesibilitas, atraksi, amenitas) saja, tidak kalah pentingnya unsur SDM. Ini mesti berjalan beriringan untuk terciptanya suatu destinasi wisata yang mumpuni,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Menpar berharap kegiatan ini bisa mendorong tercapainya target 20 juta wisman di 2019, keberadaan desa wisata dengan keunikan-keunikan yang dimilikinya mampu menarik wisatawan, serta homestay yang dimilikinya sangat penting untuk penopang ketersediaan akomodasi. (*)
.

Facebook Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.