Sapta Nirwandar: Indonesia Punya Banyak Surga Tersembunyi

Sapta Nirwandar
Sapta Nirwandar

Bandung (Paradiso) – Sektor pariwisata kini menduduki peringkat keempat sebagai pemasok devisa terbesar di Indonesia. Hal ini tentunya memberikan peluang besar bagi berkembangnya industri kreatif untuk meningkatkan pendapatan ekonomi yang berbasis pada pariwisata.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sapta Nirwandar saat menjadi keynote speaker dalam Studium Generale bertema “Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kreatif” di Bale Santika Unpad Kampus Jatinangor.

“Meningkatnya sektor pariwisata memberikan peluang yang besar bagi pengembangan ekonomi kreatif. Sebab, pariwisata secara global sudah menjadi bagian dari industri besar,” ungkapnya.

Diakui Sapta, 9% dari GDP (gross domestic product) Indonesia berasal dari sektor pariwisata. Apalagi Indonesia didukung dengan ragam kekayaan alam, budaya, biodiversitas, serta sejarah yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Selain itu, sektor pariwisata tidak dipengaruhi krisis ekonomi karena pariwisata sudah menjadi lifestyle atau basic need bagi seluruh orang.

Sebagai pejabat yang bergerak di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, ia menjelaskan di Indonesia masih banyak “surga tersembunyi” yang belum digarap secara maksimal. Oleh karena itu, di hadapan mahasiswa prodi Administrasi Bisnis, Sapta pun mengajak untuk “melirik” peluang industri kreatif di sektor pariwisata yang menurutnya selalu punya prospek tinggi.

Tentang bagaimana  menggabungkan industri kreatif dengan sektor pariwisata, Sapta mengungkapkan, ada 3 aspek yang dilakukan oleh pelaku usaha, yaitu get, keep, dan grow. Aspek get, berarti bagaimana pelaku usaha dapat menarik turis, sedangkan keep berarti bagaimana pelaku usaha dapat membuat turis betah selama berkunjung ke destinasi, dan grow berarti bagaimana pelaku usaha dapat meningkatkan jumlah turis untuk datang ke destinasi tersebut.

“Industri kreatif pariwisata di Indonesia tidak akan pernah habis. Sebab, industri kreatif sendiri selalu punya value creation yang tinggi,” ujarnya.

Selain Sapta, ada dua pembicara lain yang mengisi studium generale ini, yaitu Budi Isman (Founder Pro Indonesia/Smartpreneur) serta Arie Witjaksono (PT. Trans Retail Indonesia /Carrefour) dan dimoderatori oleh Yuszak M. Yahya (CEO Smartpreneur Community

Budi Isman yang juga bergerak di bidang konsultan bisnis memaparkan, memulai suatu usaha tidak hanya membutuhkan keberanian memulai saja. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, salah satunya yaitu memiliki teamwork yang kuat.

Menurutnya, suatu pelaku usaha paling tidak membutuhkan orang-orang seperti: penyumbang dana, mentor bisnis, investor, orang yang punya keahlian pada bidang bisnis yang akan digeluti, serta jaringan yang kuat. “Hal lain yang juga ditekankan dalam berbisnis adalah kalian akan membutuhkan skill pengetahuan dan sikap yang benar untuk memulai usaha,” ujarnya. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.