Sertifikasi Tingkatkan Daya Saing Pelaku Usaha Pariwisata Syariah

wisata syariahJakarta (Paradiso) – Meski potensi bisnisnya terbuka lebar, jumlah pelaku usaha hotel dan restoran untuk menggarap pariwisata syariah belum terlampau besar.

Ketua Umum Asosiasi Hotel dan Restoran Syariah Indonesia (Ahsin) Riyanto Sofyan mengatakan alasan utama belum banyaknya pelaku usaha di Indonesia yang fokus pada wisata syariah lantaran minimnya pengetahuan dan tingkat kesadaran (awareness) akan besarnya potensi pasar wisatawan Muslim.

“Para pelaku usaha di Indonesia enggan menggarap pasar pariwisata syariah lantaran takut kehilangan konsumen yang lebih umum. Padahal, penerapan prinsip-prinsip syariah justru dapat memperluas pasar tanpa menganggu pasar yang sudah ada,” ujarny a.

Dikatakan, aplikasi pariwisata syariah juga tidak membutuhkan biaya dan investasi yang besar. Inti dari pariwisata syariah adalah pelaku usaha menyediakan beberapa hal bagi konsumen Muslim, yaitu tempat ibadah, makanan halal, dan fasilitas untuk bersuci kala. Selain pemahaman pelaku usaha tentang potensi dan penerapan pariwisata syariah, faktor lain yang bisa mendukung perkembangan sektor ini adalah adanya standardiasi usaha.

Pemerintah sudah mengeluarkan standardiasi wisata syariah melalui Permen Parekraf No 2 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah.

Kategori hotel syariah dibagi menjadi dua golongan, yakni Hilal 1 (melayani kebutuhan minimal wisatawan Muslim) dan Hilal 2 (melayani kebutuhan moderat wisatawan Muslim). Selain dua kategori tersebut, dia mengatakan ada juga hotel-hotel yang baru mengusung semangat syariah. Meski baru mengusung semangat dan belum tersertifikasi, hal ini menandakan jumlah pelaku usaha yang berminat membidik pasar ini bertambah.

Ditambahkannya, sertifikasi juga bisa meningkatkan daya saing pelaku usaha pariwisata Indonesia agar bisa berkompetisi dengan negara-negara lain. Saat ini banyak negara yang sadar akan besarnya potensi pariwisata syariah. Beberapa negara seperti Jepang, Australia, Thailand, Malaysia serta Brunnei Darussalam bahkan sudah menyediakan berbagai fasilitas untuk menyambut wisatawan Muslim.

“Fasilitas utama yang mereka siapkan adalah masjid atau mushola. Selain itu, mereka juga giat menyediakan restoran halal dan hotel syariah. Malaysia bahkan membentuk direktorat jenderal yang khusus menangani pariwisata syariah,” katanya.

Dijelaskannya kembali, karena itu, saya berharap pelaku usaha pariwisata di Indonesia mempersiapkan produk serta paket wisata syariah bagi wisatawan Muslim. Strategi tersebut mencakup sertifikasi hotel, restoran, spa, dan biro perjalanan.

“Destinasi wisata alam maupun buatan manusia tak usah diragukan lagi. Pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah dan pelaku usaha adalah bagaimana membuat strategi agar destinasi wisata tersebut ramah bagi kaum Muslim,” ungkap Riyanto. (*)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.