Start dari Larantuka, TDF diikuti 100 Pembalap

Larantuka (Paradiso) – Ajang balap sepeda internasional Tour de Flores (TdF) yang digemakan sejak bulan Oktober 2015, secara resmi melepas etape pertama dari Larantuka menuju Maumere pada 19 Mei 2016 dari depan kantor Bupati Flores Timur di Larantuka. TdF merupakan sport tourism atau kegiatan pariwisata berbasis event olahraga yang pertama kali diadakan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Diikuti 100 pembalap sepeda dari 16 negara.

Pembalap akan melintasi jalur race dengan grade 2,2 melewati lima kabupaten/kota dan menempuh jarak 661,5 Kilometer. Titik Start di Larantuka dan titik Finish di Labuan Bajo. Kelima etape dalam rute TdF pertama ini melintasi Larantuka, Maumere, Ende, Bajawa, Ruteng dan Labuan Bajo. Pihak penyelenggara menyiapkan total hadiah sebesar Rp 1 miliar yang akan diperebutkan para peserta balap sepeda.

TdF 2016 tidak hanya menggelar kegiatan balap sepeda internasional, tetapi juga diramaikan dengan kegiatan-kegiatan kunjungan ke destinasi-destinasi wisata alam dan budaya. TdF 2016 sudah diawali dengan atraksi penyambutan adat di Maumere pada tanggal 16 Mei 2016, yang dilanjutkan dengan kunjungan wisata ke Flores Timur, dan akan diakhiri dengan jalan-jalan wisata ke Pulau Komodo, Manggarai Barat.

Sebagai gelaran event perdana, TdF 2016 mengandung nilai historik, karena akan tercatat sebuah sejarah, bahwa sebuah event balap sepeda internasional pertama telah diselenggarakan di Pulau Flores. Jadwal perpaduan kegiatan olahraga dan pariwisata tersebut mengikuti perubahan yang tercantum secara resmi pada UCI Road Calendar Asia Tour.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Dan Sumber Daya RI, Rizal Ramli menilai event balap sepeda internasional TdF memiliki nilai bisnis tinggi dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat Flores. “Semua Bupati Flores telah berkoordinasi untuk menyambut para atlet, peserta tour, dan para tamu. TdF mendorong pemerintah pusat ikut membangun infrastruktur, transportasi, air bersih, dan energy untuk menyambut kehadiran wisatawan,” ujar Rizal Ramli.

Ketika memulai debutnya dalam bulan Juli 1903, Tour de France, yang historikal, spektakuler dan ikonik serta telah menjadi model Tour sejenis yang lahir sepanjang sejarah, tidak seberuntung Tour de Flores perdana ini, terutama dalam hal dukungan infrastruktur jalan, tim pendukung, dukungan sponsor dan organisasi penyelenggaraan. Sekedar perbandingan, Tour de France perdana melewati banyak ruas jalan tanah tak beraspal. Para pesepeda, yang ketika itu tidak mengenakan helm, mengayuh sepeda tanpa didampingi tim. Tidak ada iring-iringan mobil pengawal atau tim pendamping. Tidak ada kawalan tim medis lengkap dengan mobil ambulansnya. Tidak ada tim teknis. Masing-masing peserta lomba balap sepeda harus membawa sendiri semua perlengkapan seperti ban serep serta peralataan reparasi.

“Fakta ini mesti dapat memperbesar optimisme semua pemangku kepentingan bahwa TdF 2016 harus bisa terselenggara dengan baik dan berkelanjutan serta membawa efek kemajuan ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal. Semuanya terletak pada semangat dan komitmen bersama yang kuat dari segenap pemangku kepentingan untuk menyukseskannya,” ungkap Chairman Tour de Flores Primus Dorimulu.

Sebanyak 16 tim peserta TdF 2016 terdiri atas Singha Infinite Cyling Team (Singapore)
Terengganu Cycling Team (Malaysia),St George Merida (Australia),Kenya Down Under (Kenya), Pegasus Cycling Team (Indonesia), Kinan Cycling Team (Japan), Wisdom-Heng Xiang Cycling Team (China), LX-IIBS Cycling Team (South Korea), Black Inc Cycling Team (Laos),Team 7-Eleven Sava RBP (Philiphine),Team UKYO (Japan), Swiss Welness Cycling Team (Australia), Oliver’s Real Food (Australia), Geunsam Insum Cello (South Korea), Indonesia National Team (Indonesia), SAKB (Indonesia), KFC Cycling Team (Indonesia), Customs Cycling Club (Indonesia), Prima Indonesia (Indonesia) dan BRCC (Indonesia).

Destinasi Utama Pariwisata Nasional

Event internasional TdF diagendakan berlangsung setiap tahun guna memperkenalkan potensi sosial, potensi seni dan budaya, potensi ekonomi, potensi alam dan sumber daya Nusa Tenggara Timur yang penuh pesona ke pentas dunia. Nusa Tenggara Timur kaya dengan destinasi wisata, baik alam budaya, megalitik, wisata rohani, wisata minat khusus, wisata bawah laut, dan lain sebagainya.

Pemilihan Labuan Bajo sebagai salah satu dari sepuluh destinasi utama pariwisata nasional adalah keputusan yang tepat karena di Labuan Bajo terdapat komodo yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Menurut Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, Flores tidak hanya memiliki komodo tetapi juga memiliki sejumlah objek wisata yang telah dikenal di mancanegara, seperti kampung tradisional Wae Rebo di Kabupaten Manggarai yang telah dipilih oleh UNESCO sebagai warisan arsitektural tua yang diakui. Di Manggarai juga terdapat gua liang bua yang beberapa tahun lalu menjadi perhatian antropolog modern internasional dengan ditemukannya homo Floresiensis. Di Kabupaten Ngada terdapat kampung tradisional Bena yang juga dikenal di sejumlah negara. Di Kabupaten Ende terdapat danau tiga warna Kelimutu yang juga memiliki branding internasional. Di Kabupaten Flores Timur terdapat Semana Santa, sebuah tradisi Portugis yang sudah berusia lebih dari 500 (lima ratus) tahun, dan setiap tahun wisata rohani ini mampu menyedot perhatian ribuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. “Kekayaan wisata Pulau Flores dilengkapi dengan objek wisata lain di seluruh kawasan Nusa Tenggara Timur, seperti Pasola di pulau Sumba, musik tradisional Sasando dan Surfing di Rote, tradisi penangkapan ikan paus di Lamalera, Kabupaten Lembata, taman laut yang indah dan penuh pesona di perairan Alor, Lembata, Maumere, Labuan Bajo, Riung, dan lain-lain,” paparnya.

Keberagaman objek wisata ini juga diperkaya seni dan budaya yang tersebar di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur, baik seni tari, seni musik, seni kerajinan, maupun berbagai ekspresi budaya lainnya yang juga diminati oleh para wisatawan.(*)

Berikut Etape Tour de Flores 2016.
– Kamis (19/5/2016): Larantuka-Maumere (138,8 km)
– Jumat (20/5/2016): Maumere-Ende (141,3 km)
– Sabtu (21/5/2016): Ende-Bajawa (123,3 km)
– Minggu (22/5/2016): Bajawa-Ruteng (136,3 km)
– Senin (23/5/2016):Ruteng-Labuan Bajo (121,5 km)

Facebook Comments

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.