Suku Bajo dan Keunikannya di Festival Bajo Pasakayyang 2015

Jakarta (Paradiso) – Upaya untuk menarik kunjungan banyak wisatawan mancanegara dan domestik terus digenjot. Kali ini melalui Festival Bajo Pasakayyang 2015 (FBP-2015), yang akan menunjukkan keunikan budaya khas suku Bajo yang tinggal di kepulauan Sombori, Morowali, Sulawesi Tengah, terutama dalam menjaga tradisinya hingga ratusan tahun.

Festival itu akan digelar di sebuah pulau kecil yang indah, Kaleroang, Morowali, Sulawesi Tengah pada 21 November 2015 mendatang. Festival yang akan mengajak wisatawan untuk seharian bersama suku Bajo, merasakan petualangan laut, menghayati kehidupan sebagai orang Bajo serta menikmati indahnya lingkungan sekitar ‘rumah’ mereka yang masih asli.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pasar Asia Tenggara Kementerian Pariwisata Rizki Handayani menyambut baik penyelenggaraan event pariwisata tersebut. “Bukan hal yang mudah untuk tetap memelihara kebanggaan tradisi salah satu suku dengan karakteristik unik di dunia ini di tengah kemajuan zaman,” ujarnya di Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Wakil Bupati Morowali, SU Marundtuh mengaku optimistis festival ini akan bisa menarik jumlah wisatawan ke daerahnya lebih banyak lagi baik dari wisatawan asing maupun wisatawan nusantara. “Suku bajo yang dikenal memiliki karakteristik unik, karena semua aktivitas kehidupannya berada di atas laut sehingga mereka dijuluki gypsi laut,” paparnya.

Marundtuh mengatakan, aspek wisata ini adalah suatu kegiatan yang turun temurun, sepanjang masa dan tidak terpengaruh dengan arus teknologi, karena masyarakatnya terus memelihara budaya ini sudah ratusan tahun sehingga tetap lestari hingga saat ini.

Dia menyebut, keindahan alam Sombori belum banyak diketahui,yang merupakan perpaduan keindahan ala Raja Ampat, Wakatobi, dan Bunaken dalam satu spot. “Tidak bisa disebutkan dengan kata-kata. Sombori adalah sepenggal taman fordaus yang dilemparkan ke Kaleroang. Jadi sungguh indah,” katanya.

Berbeda dengan memberikan kekayaan tambang, yang akan habis dalan kurun waktu tertentu. “Aspek wisata, ini adalah suatu kegiatan yang turun temurun, sepanjang masa. Kalau tambang akan habis, tetapi kalau budaya ini akan terus ada walapun ada kemajuan ilmu dan teknologi,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan, Marundtuh Festival Bajo ini merupakan event yang sangat strategis, selain dalam arti di wilayah ini sangat strategis karena terletak dalam segi tiga emas untuk wilayah Sulawesi Tengah, juga merupakan aspek wisata terutama laut yang sangat disukai oleh suku Bajo.

Dalam festival ini juga akan ada ritual tradisi langka yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Ribuan kapal dan perahu hias warna-warni yang berkumpul dalam satu spot–pasti akan menjadi pemandangan spektakuler.

Festival Bajo diharapkan akan setara dengan event besar yang ada di Indonesia. Bahkan setelah festival ini akan ada investasi di wilayah ini terutama di bidang pembangunan resort, pembangunan dermaga, serta bantuan ekonomi untuk meningkatkan ekonomi para nelayan.

“Setelah festival ini akan ada investasi muncul di berbagai aspek misalnya adanya pembangunan resort, pembuatan dermaga dan bantuan peningkatan ekonomi nelayan,” paparnya.

Rizki mengatakan, pemerintah mendukung untuk menjadikan Morowali sebagai venue event bahari internasional. Apalagi, festival ini nantinya juga akan dimasukkan dalam ecotourism network sehingga bisa menarik jumlah wisatawan lebih banyak. “Pemerintah akan terus mendukung apalagi posisinya yang sangat strategis,” ujarnya.

Rizki berharap pemerintah, industri pariwisata bisa mempersiapkan diri. Festival ini menjadi agenda rutin sehingga wisatawandapat mempersiapkan jauh-jauh hari untuk datang ke acara ini.

Ketua Adat Suku Bajo, Ruslimin mengatakan, Suku Bajo dikenal sebagai suku pengembara laugt, nelayan tangguh dan hampir semua kehidupan sehari-hari berkaitan dengan laut. Bahkan rumah panggung mereka dibangun di atas air laut. Bahkan tidak jarang mereka tinggal ditas perahu dan mengembara dari satgu pulau ke pulau lain.

Suku Bajo juga memiliki ritual adat kelahiran, pernikahan, pengobatan, bersih desa/laut, sesajian hingga kematgian. Bahkan anak anak suku Baji suka berburu hewan laut di sela karang dengan cara menyelam tanpa alat bantu hingga 30 menit.

Festival ini akan mengelar wisata kuliner dengan menghadirkan 50 jenis makanan khas daerah ini dan akan ada juga rangkaian perrahu hinga 2.000 unit sehinga akan menjadi rangkaian perahu/bodi terpanjang di Indonesia dan akan di catat dama MURI. (*/bowo)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.