Surga Tersembunyi di Kaki Gunung Ciremai

Kolam Cibulan
Kolam Cibulan

Kuningan (Paradiso) – Waktu menunjukkan pukul 20.30 WIB ketika bis yang kami tumpangi dari Jakarta selama enam jam tiba di Tirta Sanita Spa & Resort, Sangkanurip, Kuningan Cirebon, Jawa Barat. Cuaca saat itu sangat mendukung, hanya udara dingin malam hari saja yang mulai kami rasakan saat tiba di hotel.

Terletak strategis di Kuningan, Tirta Sanita Spa & Resort merupakan tempat ideal untuk memulai eksplorasi di Kuningan. Dari sini, para tamu dapat menikmati akses mudah ke destinasi yang dapat dilihat di kota ini, salah satunya adalah Bumi Perkemahan Palutungan.

Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menjadi tempat dilaksanakannya program orientasi dan outbound bidang pariwisata dan ekonomi kreatif bagi jurnalis dan pers 2014 yang diselenggarakan Pusat Komunikasi Publik (Puskompub) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) meliputi pengenalan daerah tujuan wisata yang sedang berkembang dan memiliki potensi sebagai destinasi pariwisata dan industri kreatif.

Kuningan memang memiliki puluhan obyek wisata alam dengan cuaca yang sejuk, namun sayangnya belum banyak orang yang tahu akan keindahan alamnya meskipun tiga tahun belakangan kabupaten ini mulai memperlihatkan pesonanya.

“Banyak hal yang masih menjadi pekerjaan rumah kami untuk mempromosikan pesona wisata di Kuningan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kuningan, Drs Teddy Suminar, MSi di Kuningan, Kamis (21/8/14).

Bumi Perkemahan Palutungan yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kecamatan Cigugur menjadi tempat pertama tujuan kami untuk melakukan kegiatan outbound.

Akses menuju obyek bumi perkemahan ini dilakukan melalui Kota Kuningan yang berada di ketinggian 466 mdpl menuju Kecamatan Cigugur yang jaraknya 9 km ke arah Barat. Infrastruktur jalan sudah tersedia dengan baik mulai dari Kota Kuningan hingga wisata ini walaupun masih terkendala dengan angkutan umum yang terbatas untuk menuju obyek wisata.

Palutungan berada di lereng selatan Gunung Ciremai pada ketinggian 1.100 mdpl. Memasuki kawasan tersebut pengunjung dikenakan biaya masuk Rp13.500 per orang ditambah Rp2.000 biaya kendaraan sepeda motor dan Rp4.000 untuk kendaraan mobil.

Di tempat ini kami melakukan aktivitas mulai dari trekking, permainan outbound, dan diakhiri dengan menikmati keindahan Air Terjun Putri. Saat trekking, kami harus melewati hutan tropis dengan jalur cenderung landai dan sesekali kami harus melalui semak-semak.

Selesai melakukan aktivitas, rasanya semua terbayar dengan melihat Air Terjun Putri. Menikmati Air Terjun Putri yang terdapat dikawasan ini merupakan hal yang menarik untuk dicoba. Dengan waktu tempuh 10 menit dari pintu masuk Palutungan, melalui anak tangga menurun pengunjung sudah sampai di tempat tersebut. Khusus untuk pengunjung wanita terdapat tulisan yang dipasang di sebuah pohon. Tulisan tersebut melarang untuk wanita yang sedang menstruasi memasuki kawasan air terjun.

Bila belum puas untuk menikmati sensasi alam hingga keesokan harinya pengunjung bisa berkemah di tempat yang telah disediakan TNGC. “Dengan berkemah pengunjung akan merasakan sensasi seperti menikmati dinginnya udara malam, mendengar kicauan burung, dan suara-suara hewan lain yang mengiringi waktu selama berkemah,” ujar salah satu team building dan outbound, Widodo.

Selesai aktivitas outbound, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi sentra industri kreatif, yang tidak begitu jauh jaraknya dari lokasi Palutungan, yakni  perajin angklung dari Sanggar Angklung Lumbu milik Kang Pendi, serta mengunjungi perajin minuman khas Jeniper (jeruk nipis peras) dan tape ketan di tiga tempat, yakni Ibu Murnah, Ibu Misrah, dan Sri Lestari.

Menurut Teddy, pengembangan ekonomi kreatif di Kuningan menjadi program awal rintisan Disparbud Kuningan, seperti mengumpulkan para perajin batik, angklung, hingga penjaja kuliner khas. Dalam pelaksanaannya Disparbud berjalan beriringan bersama masyarakat membuat desa-desa wisata, dan masyarakat turut campur dalam pengembangan pariwisata Kuningan.

Obyek Wisata Kolam Ikan Cigugur

Aktivitas di hari pertama diakhiri dengan mengunjungi obyek wisata Cigugur, yakni pemandian Ikan Dewa Cigugur. Kolam Ikan Dewa Cigugur merupakan salah satu obyek wisata yang memiliki keunikan tersendiri karena di kolam ini dihuni oleh ikan langka, yaitu Kancra Bodas (Labeobarbus Doumensis). Konon ikan tersebut memiliki legenda tersendiri sehingga masyarakat sekitar menjadikannya ikan keramat dan menamainya Ikan Dewa.

Alkisah Cigugur yang terletak 3 km di atas Kota Kuningan pada sekitar tahun 1430 bernama Dusun Padara. Kala itu, warga setempat memerlukan sumber air. Ki Gede lalu bersemadi seraya menancapkan sebilah keris di sebuah kaki bukit yang masih hijau di Gunung Ciremai.

Saat itu, ada suara bergemuruh seperti tanah berguguran, yang kemudian dinamakan Cigugur. Dari bawah akar pohon kemudian keluar air, yang selanjutnya ditampung dalam sebuah kolam dan terus ke hilir dusun. Ki Gede lalu menangkap ikan Kancra Bodas dari tiga sungai, yakni Sungai Cilutung di Majalengka, Sungai Cisanggarung di Kuningan, dan Sungai Cijolang di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah sekarang. Ikan tersebut kemudian dimasukkan ke kolam Cigugur.

Waktu itu, menurut karyawan senior Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Slamet Riyadi ketiga sungai berair sangat jernih karena hutan-hutan di sekitarnya masih utuh. Kondisi lingkungan jernih dan air yang keluar dari bukit Cigugur membuat ikan-ikan itu hidup dan berkembang biak.

Ki Gede lalu berpesan kepada warganya agar tidak mengganggu ikan-ikan tersebut untuk kehidupan anak cucu mereka. Ki Gede, menurut cerita masyarakat Cigugur, adalah seorang wiku atau orang sakti. Karena kesaktiannya, bagian tubuh dalamnya bisa dilihat dari luar. Slamet Riyadi memperkirakan, Ki Gede Padara adalah tokoh Sunda Wiwitan Cigugur.

Di usia tuanya, Ki Gede jatuh sakit dan menyatakan diri ingin meninggal seperti manusia biasa. Berita itu sampai kepada Syekh Maulana Syarif Hidayatulah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Sunan Gunung Jati pun kaget melihat beningnya tubuh orang sakti itu. Namun, ia menyanggupi keinginan Ki Gede. Karuhun Cigugur yang memiliki ilmu kehalusan budi itu menuruti apa yang disarankan Sunan Gunung Jati mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, baru satu kali Ki Gede mengucapkan, tubuhnya menghilang atau kata penduduk Cigugur, ngahiang atau tilem.

Masa itu, Islam tengah disebarkan oleh para wali yang berpusat di Cirebon. Sesampainya di Kuningan, para wali menemukan sumber mata air di Cibulan, 10 km arah utara Cigugur. Para wali lalu menamai ikan di kolam Cibulan ikan Kancra Bodas. Sunan Gunung Jati diperkirakan membawa ikan itu ke Cibulan setelah ikan-ikan berkembang biak di Cigugur.

Slamet Riyadi atau biasa disapa Yadi ini menambahkan, “Ki Gede Padara adalah pemimpin yang visioner dan punya kelebihan melihat masa depan. Ia menitipkan ikan Kancra Bodas agar terus dipelihara dan tidak dimakan karena ikan ini tidak cocok untuk konsumsi manusia. Kalau digoreng tidak bisa kering, banyak keluar lemak, dan dagingnya tidak enak”.

“Kehidupan ikan menjadi indikator bahwa sumber air masih bersih, tidak tercemar, dan hutannya lestari. Karena itu, konservasi di Gunung Ciremai ini harus terus dilakukan keturunannya agar ikan-ikan itu tetap hidup dan berkembang biak,” tambahnya.

Baik Cigugur atau Cibulan, kedua  wisata ini kerap didatangi oleh orang-orang yang ingin menghabiskan akhir pekan bersama keluarga dan teman. Keistimewaan kolam pemandian ini, yakni pengunjung dapat berenang bersama ikan-ikan yang tergolong jinak. Namun jika tidak ingin berenang pengunjung bisa melakukan terapi ikan dengan biaya Rp5.000 per jam.

Saat menikmati terapi ikan di Cigugur pengunjung tentu akan menyaksikan sejumlah bocah penyelam koin, mereka melakukan atraksi terjun ke kolam mencari koin yang dilemparkan pengunjung. Satu persatu dari mereka mendekati pengunjung  untuk meminta melemparkan beberapa uang koinnya ke kolam  buat mereka.

Obyek Wisata Kolam Ikan Cibulan

Berbeda dengan kolam pemandian ikan dewa Cigugur, di kolam pemandian ikan dewa Cibulan yang kami kunjungi pada hari kedua, Jumat (22/8/14) ini selain dapat melakukan aktivitas berenang, terapi ikan, dan foto bersama dengan ikan dewa, terdapat tujuh sumber mata air keramat yang bernama Tujuh Sumur.

Obyek wisata ini terletak di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Dari Kuningan jarak tempuh ke obyek wisata Cibulan sekitar 10 km. Untuk dapat masuk ke obyek wisata tersebut dikenakan biaya tiket masuk yang terbilang murah, yakni Rp2.000 untuk orang dewasa, dan Rp1.000 untuk anak-anak.

Kolam pemandian ini berdiri di atas lahan seluas 5 ha, memiliki dua kolam besar berbentuk persegi panjang. Kolam pertama berukuran 35 m x 15 m dengan kedalaman sekitar 2 m, sedangkan kolam kedua berukuran 45 m x 15 m yang dibagi menjadi dua bagian, masing-masing dengan kedalaman 60 cm dan 120 cm.

Sedangkan tujuh sumber mata air yang ada di Cibulan ini terletak di sudut Barat pemandian berbentuk kolam-kolam kecil yang masing-masing memiliki nama, yakni Sumur Kejayaan, Sumur Kemulyaan, Sumur Pengabulan, Sumur Cirancana, Sumur Cisadane, Sumur Kemudahan, dan Sumur Keselamatan.

Konon, terdapat kepiting emas di dalam salah satu kolam tersebut. Bila sedang mujur, pengunjung yang bisa melihat kepiting itu permohonannya akan terkabulkan.

Untuk masuk ke dalam area Tujuh Sumur pengunjung tidak dikenakan tarif khusus, hanya disediakan kotak amal dan sukarela. Selain di pintu masuk area Tujuh Sumur, kotak amal juga disediakan di masing-masing area Tujuh Sumur.

Letak ketujuh mata air/sumur tersebut mengelilingi sebuah petilasan yang konon merupakan petilasan tempat Prabu Siliwangi beristirahat sekembalinya dari Perang Bubat. Petilasan itu berupa susunan batu seperti menhir dan dua patung harimau loreng, lambang kebesaran Raja Agung Padjajaran.

“Tujuh Sumur Petilasan Prabu Siliwangi paling ramai dikunjungi orang untuk berziarah, biasanya pada malam Jumat Kliwon atau selama bulan Maulud. Masyarakat percaya kalau air dari Tujuh Sumur ini dapat membawa berkah,” ungkap juru kunci atau kuncen Tujuh Sumur Cibulan, Iman Sariman.

Terkait kolam ikan Cibulan, pria berusia 31 tahun itu mengatakan, “Ikan-ikan Dewa yang suka bergerombol di kolam ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Perkembangbiakannya lambat, tetapi tingkat kematiannya rendah, hanya satu atau dua yang mati setiap tahunnya”.

Dari penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Limonologi LIPI, ikan yang beratnya 1 kg hingga 15 kg dan panjangnya bisa sampai 75 cm itu merupakan ikan asli Kuningan.

Slamet Riyadi menambahkan, “rombongan ikan langka Kancra Bodas itu hanya hidup di kolam Cibulan, Cigugur, Pasawahan, Linggarjati, dan Darmaloka”.

Menurutnya, kelima kolam itu terletak di kaki Gunung Ciremai, mulai dari lereng utara (Pasawahan) yang melengkung seperti bulan sabit hingga lereng tenggara (Cigugur) dan lereng selatan (Darmaloka). Di ujung lengkungan itu terletak kolam keramat Cibulan.

“Ikan Dewa akan tetap hidup di sumber air yang jernih, bersih, dan mengalir secara terus-menerus. Mata air jenis ini hanya bisa timbul jika lingkungan hutannya lestari dan pepohonan lebat,” tegasnya.

Konon, menurutnya ketika air kolam dikuras, ikan-ikan berpindah ke Kolam Cigugur yang juga dijadikan sebagai tempat terapi ikan di Kecamatan Cigugur. Mitos yang berkembang di masyarakat, yakni ikan-ikan Dewa yang ada di dalam kolam Pemandian Air Dingin Cibulan ini adalah prajurit-prajurit yang membangkang pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi sehingga mereka dikutuk oleh Prabu Siliwangi menjadi ikan.

Ikan-ikan Dewa ini dari dulu sampai sekarang tidak pernah bertambah ataupun berkurang jumlahnya. Terlepas dari benar atau tidaknya legenda itu, sampai dengan saat ini tidak ada yang berani mengambil ikan ini karena dipercaya bahwa barang siapa yang berani mengganggu ikan-ikan tersebut niscaya akan mendapat musibah.

Sementara itu Direktur Obyek Wisata Alam Cibulan, HM Didi Sutardi menambahkan, “Kawasan Kaki Gunung Ciremai sangat memiliki potensi wisata alam yang besar, selain Kolam Dewa Cibulan, masih banyak yang lainnya”.

“Tingkat kunjungan wisatawan yang datang ke tempat ini per bulan bisa mencapai 1.000 hingga 2.000 pengunjung, saat musim liburan atau Lebaran bisa mencapai 10.000 pengunjung. Wisatawan nusantara banyak yang datang dari Jabodetabek, Surabaya, dan Semarang. Sedangkan dari mancanegara dari Jerman, Arab Saudi, dan Thailand”.

Menurutnya wisatawan Thailand merupakan tamu yang paling unik, para bisksunya tertarik dengan Ikan Dewa, dan berpesan untuk tetap menjaga alam.

Didi berharap, ada investor yang tertarik dan bekerjasama membangun hotel dengan bangunan ramah lingkungan, lebih ke alam dengan menggunakan material bambu.

Gedung Perundingan Linggarjati

Selain menikmati pesona wisata alam, jalan-jalan ke Kuningan seakan tidak lengkap apabila tidak menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah rumah yang mempunyai nilai sejarah tinggi di kota ini, yakni Gedung Perundingan Linggarjati yang terletak di Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan.

Letak gedung ini tepat di kaki Gunung Ciremai bagian Tenggara. Apabila menggunakan angkutan bis dari Jakarta yakni Luragung, bisa turun di pertigaan Cilimus dan lanjut menggunakan angkutan menuju Desa Linggarjati, namun bila menggunakan kendaraan pribadi dari Kuningan, hanya berjarak 30 menit ke arah utara dari alun-alun Kota Kuningan.

“Gedung ini merupakan bangunan bersejarah dimana saat itu Bangsa Indonesia menuntut secara de facto (penuh) kedaulatan Republik Indonesia kepada Pemerintah Belanda melalui Perundingan Linggarjati,” ujar pengelola Gedung Perundingan Linggarjati, Sukardi saat menjelaskan kepada kami.

Pada bangunan ini masih terlihat bentuk asli bangunan yang dipertahankan. Beberapa benda dan replika benda yang dipergunakan pada masa perundingan dapat disaksikan di dalam rumah yang kini berfungsi pula sebagai museum.

Sukardi mengatakan, “Gedung Perundingan Linggarjati mempunyai sejarah yang cukup panjang, Johannes Van Os, ialah orang yang pertama kali memperbaiki rumah ini dan menjadikannya rumah keluarga pada 1930. Sebelumnya, rumah ini hanyalah sebuah gubuk Bu Jasitem yang kemudian diperistri oleh Belanda”.

Kemudian pada 1950-1975, gedung ini sempat digunakan untuk Sekolah Dasar Linggarjati 1, lalu akhirnya gedung ini dijadikan museum setelah direnovasi. Pada 1985, anak pemilik rumah yakni Dr Willem Van OsdanjotyKulve-Van Os yang memang dibesarkan di rumah ini berhasil memperjuangkannya untuk dikukuhkan sebagai cagar budaya dan memiliki nama Perundingan Linggarjati.

Beberapa ruangan di dalam gedung ini terdiri dari ruang Sidang, ruang sekretariat, tempat tidur Lord Killearn, ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, kamar tidur, kamar mandi, ruang makan, kamar setrika, dan gudang.

Sukardi menambahkan, fasilitas yang tersedia saat ini bagi pengunjung yaitu tempat parkir, kios jajanan, musholla, toilet, taman terbuka, dan auditorium.

Narada Art Gallery

Tidak hanya bangunan bersejarah, kami juga menyempatkan untuk melihat koleksi Narada Art Gallery yang didirikan Ibu Hj Nani Taufik yang memiliki berbagai macam jenis koleksi karya seni berupa topeng, topeng wayang Wong, busana yang dikenakan penari Topeng, busana adat pengantin Cirebon, lukisan, patung-patung gerabah, ukiran kayu berbentuk burung, dan lain-lain.

naradaKarya-karya yang berada di galeri yang terletak di Jalan Panawuan No 121, Prima Resort Cilimus Kuningan, Jawa Barat ini berasal dari Cirebon dan pulau-pulau lainnya di Nusantara yang memiliki tradisi topeng, baik berupa unsur kesenian maupun unsur kerupaan.

Tak hanya koleksi Nusantara, koleksi dari mancanegara seperti Gaaltiero Dall’Osto, topeng dari Libanon, koleksi-koleksi dari China dan lain-lain tersebut ada juga di galeri ini.

Koleksi Narada Art Gallery ini dibagi menjadi tiga kelompok, yakni Mande Caruban yang terdiri dari koleksi daerah Cirebon berupa topeng, busana, batik, lukisan, foto, dan topeng cinderamata. Kelompok kedua, yakni Mande Dwipantara, yang terdiri dari koleksi topeng dan busana dari Pulau Jawa, Madura, Bali, Lombok, Kalimantan, dan Sumatera Utara. Lalu yang ketiga kelompok Mande mancanegara yang terdiri dari koleksi topeng Venezia Italia, Tionghoa, Libanon, dan lain-lain.

Bagi pengunjung yang ingin mengetahui lebih jauh lagi mengenai seni topeng dari Narada Art Galery yang memiliki visi melestarikan seni budaya ini, dapat mengikuti beberapa program pelatihan, seperti belajar membatik, melukis kaca, belajar tari Topeng atau seni karawitan, membuat gerabah, belajar membuat wayang kulit, atau mengikuti workshop.

Selesai menikmati pesona wisata alam Kuningan, tak enak rasanya bila pulang tanpa membawa oleh-olah. Teh Diah (pusat oleh-oleh khas Kuningan) yang terletak di jalan Raya Bojong Cilimus, Kuningan menjadi tempat bagi kami untuk membeli oleh-oleh khas Kuningan. (Yeffi Rahmawati)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.