Tari Kontemporer Dhea Fandari Menyihir Netizen Wonderful Noon Kemenpar

JOGJAKARTA (Paradiso) – Bila Anda pengagum Mystique, mutan berwarna biru yang tampil di film Box Office X-Men Apocalyse, sebaiknya Anda ke Abhayagiri Sumberwatu Heritage Resort Yogyakarta. Di sini, Anda bisa menyaksikan tari kontemporer yang dibalut warna warni cahaya yang menyala dalam kegelapan.

Tarian kontemporer itu diperagakan Ayudhea Ulfandari Tjokrosisosro. Sekilas, tampilannya mirip Mystique, mutan berwarna biru yang tampil di film Box Office X-Men Apocalyse. Bedanya, di Sumberwatu Heritage Resort, tak hanya dominasi warna biru saja yang terlihat. Ada juga oranye, hijau, ungu dan merah yang ikut membungkus tubuhnya. Full body. Depan, belakang, muka, bahkan sampai bulu mata, semua dibungkus warna warni yang menyala dalam kegelapan.

Gerak gerik badannya seirama dengan alunan musik yang sedikit menghentak. Semua fokus menyimak. Sambil menunggu, apa, dimana, kapan, sensasi yang paling wow, bakal ditonjolkan dari show mono dance itu. Di tengah guyuran hujan sekalipun, tak ada yang beranjak dari area situs asli Sumberwatu yang sudah berusia 300 tahun. Dari mulai penggiat dunia maya, owner Sumber Watu Heritage Eris Heryanto, Corporate Marketing Manager Tauzia Group, Tri Yuniarti, perwakilan Mirota, Palupi Candra (Martha Tilaar), Andhu Pakerti (GM Sumber Watu Heritage), Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kemenpar Iqbal Alamsjah, Pejabat eselon 3 Biro Hukum dan Koblik Iyung Masruroh, Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara serta Staf Khusus Menpar Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono, semua terlihat terpukau menyaksikan aksi panggung kelas dunia itu. “Saya pakai cat glow in the dark sehingga bisa menyala dalam kegelapan,” ungkap

Ada lima motif nusantara yang membalut Dhea Fandari saat pentas. Pertama, ada motif kawung, sebuah kebudayaan Jawa yang melambangkan ajaran tentang terjadinya kehidupan manusia. Berikutnya, ada motif mega mendung yang bermakna Selalu membawa sejuk dan kedamaian. “Nomor tiganya motif Tumpal. Setelah itu sekar jagad yang filosofinya memperlihatkan keindahan dunia. Terakhir Mentawai. Semua motif Nusantara,” ucapnya.

Lantas mengapa harus motif Nusantara? Bukankah kontemporer itu tanpa batas? Boleh menabrak pakem yang ada? Konteksnya pun out of the box? Soal ini, anak ketiga dari tiga bersaudara itu punya jawabannya. Saat tampil, dia ingin memberikan pesan bahwa budaya Nusantara itu indah. Penuh kesejukan. Dan penuh kedamaian. “Di Chengdu China, Singapura, dan Makau saya selalu begitu. Meski dengan tim, tak sendirian, saya selalu mengedepankan unsur budaya Nusantara,” ungkapnya.

Audience yang terdiri dari unsur pemerintah, kalangan bisnis, komunitas dan media yang menyaksikan ikut tersenyum. Semuanya kompak memaksakan diri berlama-lama menonton dan mengabadikan pertunjukan dengan kamera ponsel. Seluruh instagramer, blogger, vlogger dan selegram yang memiliki ratusan ribu follower langsung action memposting live agenda budaya yang tergolong unik itu.

Semua tanpa diminta, tanpa direka-reka, kompak mensharing suguhan tari kontemporer yang gemulai dan dinamis, yang keluar dari beat tradisionalnya. “Durasi tarian ini sebenarnya sembilan sampai sepuluh menit. Tapi karena hujan, dipersingkat menjadi dua setengah menit,” katanya.

Meski singkat, Jogjakarta dengan segudang inspirasinya membuat seluruh peserta Wonderful Noon jatuh cinta. Tak terkecuali, Dhea Fandari. “Saya akan buat semua orang jatuh cJnta pada Indonesia lewat budaya. Mimpi saya adalah membawa nama Indonesia berkibar ke level dunia lewat seni dan budaya,” pungkasnya.

Iyung Masrurah, Plh Komblik Kemenpar memang mendesain aktivitas offline dengan para bloggers, vloggers, youtubers, selebgrams, dan warga netizen yang superaktif mengangkat pariwisata itu dengan penuh sensasi. Dari tempat, di Abhayagiri, kuliner yang serba khas, dekorasi yang berkebudayaan Jawa, di bawah pendopo ukir tumpangsari saf 5, sokoguru 30 centimeter yang anggun, ribuan spot foto selfie, belajar tarian Jawa yang lembut, sampai show.

Abhayagiri sendiri berada di ketinggian bukit yang bisa menatap Candi Roro Jonggrang Prambanan yang benjulang di tengah hijau pepohonan. Sejuk di mata, sejuk di hati. “Kami pikirkan serius, kreatif event dengan para pegiat medsos itu,” kata Iyung dengan mimik serius.

Seni pertunjukan pertama sudah membuat para netizen itu harus menukar power bank-nya. Tarian api yang akrobatik. Sendra tari legenda Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso dan Raksasa Ratu Boko. Dan, tarian kontemporer Dhea itu.

Tarian kontemporer yang out of the box tadi pun dikomentari Menpar Arief Yahya. “Kalau soal cultural value, saya percaya anak-anak Jogja itu jagoannya, gudang seniman, lautan kreatif di sana. Tinggal financial value-nya yang harus dipoles habis, maka Joglosemar akan lebih cepat berlari, karena modal creative value nya sudah di tangan,” kata Arief Yahya.

Sajian motif Nusantara yang diperlihatkan Dhea Fandari, juga bisa dieksplorasi lebih dalam lagi. Ini akan berdampak signifikan terhadap kunjungan wisatawan. “Budaya jadi salah satu alasan wisatawan mau liburan ke suatu daerah. Harus dilestarikan karena budaya-budaya ini memiliki nilai ekonomis. Laku dijual untuk turis mancanegara,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Arief juga mendorong agar para penggiat kebudayaan mampu menghasilkan daya kreasi yang bernilai komersil tinggi. Karena menurut pemikiran Arief, semakin budaya dilestarikan, maka budaya akan makin mensejahterakan. “Saya sudah bisa membayangkan, ini keren sekali. Masyarakat biar mendapatkan suguhan gerak tari yang berkualitas. Yang terpenting, budaya harus terus dilestarikan. Semakin dilestarikan, akan makin mensejahterakan,” ungkap Menpar Arief. (*)

Facebook Comments

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.