Tradisi Cap Go Meh Yang Unik di Singkawang

cap gomeh singkawangJakarta (Paradiso) – Hari ke-15 dalam Tahun Baru China (Imlek) atau yang lebih dikenal sebagai Cap Go Meh merupakan penghujung perayaan Tahun Baru Imlek yang dirayakan di berbagai tempat di Indonesia, salah satunya di Singkawang, Kalimantan Barat.

Festival Cap Go Meh sudah dikenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, merupakan agenda budaya kolosal yang dilaksanakan setiap tahun yang dimeriahkan dengan atraksi ratusan Tatung. Tahun ini puncak acara Cap Go Meh di Singkawang digelar tanggal 14 Februari 2014.

Iring-iringan perayaan Cap Go Meh juga diyakini memberikan energi positif serta dapat memberikan keselamatan dan kemakmuran. Dengan keyakinan mengundang energi positif banyak masyarakat yang akhirnya merayakan Cap Go Meh dengan berbagai macam hal menarik.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang merupakan perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia dan merupakan perayaan yang sangat khas. Ada parade Tatung yang dilaksanakan setaip tahun dan yang ikut serta adalah etnis Tionghoa, Dayak dan Melayu.

“Hal tersebut menunjukkan bukan saja pelestarian warisan budaya di Singkawang tapi juga simbol toleransi dan pembauran antar etnis yang harmonis,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu saat menyaksikan Parade Tatung di Singkawang.

Dilanjutkannya, Kota Singkawang yang terletak di pesisir pantai dan dikelilingi gunung, memiliki berbagai potensi wisata baik pemandangan alam, seni budaya, kuliner dan berbagai potensi wisata lainnya. Salah satu daya tarik Kota Singkawang adalah  memiliki banyak Kelenteng sehingga mendapat julukan sebagai ‘Kota Seribu Kelenteng’.

“Kota Singkawang juga dikenal sebagai kota yang memiliki industri keramik, serta memiliki daya tarik wisata lainnya seperti Pantai Pasir Panjang dan Palm Beach, Rindu Alam, Sinka Island Park dan pusat kuliner ‘Pasar Hongkong’ dan masih banyak lagi potensi wisata lainnya. Potensi inilah yang menjadi keunggulan kota ini,” lanjut Mari.

Pada tahun 2014 ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menetapkan target kunjungan wisatawan nusantara sebanyak 255 juta orang dan target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 9.2 juta orang.

Diharapkan,  Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki 2 pintu masuk utama yaitu Bandara Soepadio dan Entikong dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian target dimaksud.

Sementara itu, Kota Singkawang dilihat dari segi sosial memiliki daya tarik, dimana mayoritas masyarakatnya terdiri dari 3 etnis terbesar yakni Tionghoa, Melayu dan Dayak serta ditambah dengan suku lainnya, hidup secara berdampingan dan harmonis. Hal ini memberikan warna tersendiri dalam kehidupan sehari-hari.

“Keanekaragaman etnis dan budaya ini memberikan ciri dan daya tarik tersendiri bagi Kota Singkawang, dan   menjadikan Kota Singkawang sebagai  salah satu daerah tujuan wisata yang menarik kunjungan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara,” imbuhnya.

Kota Singkawang merupakan salah satu kota yang telah ditetapkan sebagai Kota Pusaka Indonesia. Tahun ini Kota Singkawang telah  dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia.

Penuh Adegan Magis

Seorang lelaki beretnis Tionghoa dengan muka dan tangan penuh coretan hitam serta berpakaian dayak itu tampak kerasukan, menari tanpa ada gerakan yang jelas. Di tangan kanan terdapat sebuah pedang tajam. Sementara kedua kakinya masing-masing menginjak sebilah besi tajam.

Dia berdiri di atas semacam kursi altar terbuat dari kayu yang diusung oleh delapan orang yang juga mengenakan pakaian adat Dayak. Saat melewati panggung pria yang masih “kerasukan” tersebut mendadak berhenti sambil menari-nari.

Tanpa ada yang mengomando tiba-tiba tangan kanannya menusukkan pedang yang dibawanya ke pipi kanan hingga tembus ke pipi kirinya. Tapi aneh bin ajaib. Lelaki itu tak kesakitan dan tak ada setetes darah yang muncrat dari pipinya. Malah lelaki itu makin menjadi-jadi menarinya, layaknya orang kerasukan.

Bahkan laki itu bersama rombongannya terus berjalan dengan pedang yang masih menancap di pipinya, tanpa sedikit pun merasakan kesakitan. Masih ada lagi sekitar 500 laki, wanita, baik tua maupun muda hingga masih anak-anak memamerkan kejadian seperti itu, yakni pipinya, bibirnya, hidungnya ditusuk berbagai benda tajam hingga tembus ke sebelah sisinya.

Masyarakat Singkawang, Kalimantan Barat, menyebut mereka dengan Tatung, yakni orang yang memiliki ilmu kebal sehingga saat tubuhnya ditusuk benda tajam tidak kesakitan apalagi mati layaknya manusia normal.

Bagi masyarakat yang tidak terbiasa menyaksikan pertunjukan yang dilakukan oleh Tatung akan membuat kengerian luar biasa.

Jika dipikir dengan akal sehat sudah tentu apa yang dilakukan Tatung sesuatu hal yang tak lazim. bagaimana mungkin muka ketika ditusuk benda tajam sama sekali tak mengeluarkan darah apalagi kesakitan. (bowo)

Facebook Comments

Leave a Reply

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.