Wisata Bahari Jadi Tumpuan Target 20 Juta Wisman

wisata bahariJakarta (Paradiso) – Kementerian Pariwisata mengandalkan wisata bahari dalam upaya mencapai target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sampai 2019, mengingat potensi besar sektor kelautan Indonesia.

“Wisata bahari merupakan salah satu program unggulan dan prioritas dalam pembangunan kepariwisataan nasional, dengan arah pengembangan yang terdiri dari pengenalan destinasi selam dan selancar (surfing), cruise, serta mendukung kampanye pelestarian lingkungan bahari, dan peningkatan wisata budaya bahari,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya pada Pembukaan Seminar Nasional Pariwisata Bahari di Balairung Soesilo Soedarman, Jakarta, Senin (8/12).

Menurut Arief, pengembangan wisata bahari sejalan dengan komitmen Kabinet Kerja Jokowi-JK dalam bidang kemaritiman, di mana Kementerian Pariwisata berkomitmen untuk mengembangkan pariwisata bahari yang sejalan dengan rencana pengembangan poros tol laut di Indonesia.

Ia mengatakan, pihaknya sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) telah menetapkan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang berbasis bahari, sehingga kerja sama antar sektor di tingkat pusat dan provinsi serta membangun kerja sama antara daerah akan dijadikan strategi di dalam pengembangan destinasi bahari.

“Maka, sebagai strategi yang tepat dalam pengembangan pariwisata bahari agar berkelanjutan adalah memperkuat kerja sama antarsektor dan daerah serta pelaku dan asosiasi pariwisata bahari,” ucapnya.

Menpar menjelaskan kebijakan ini sesuai dengan potensi wisata bahari Indonesia yang sedemikian besar, di mana Indonesia memiliki total garis pantai mencapai 80.000 km dan luas laut yang mencapai sekitar 3,1 juta km2. Selain itu Indonesia memiliki sekitar 50.875 km2 terumbu karang.

Arief menegaskan, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata bahari. Oleh karena itu, Indonesia menjadi jantung dari segitiga karang dunia yang terdiri dari beberapa negara, Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Filipina, Papua Nugini, dan Solomon. “Sekretariat segi tiga karang dunia berada di Indonesia dan ditempatkan di Manado,” ujarnya.

Lebih lanjut Kemenpar menekankan pentingnya upaya meningkatkan aksesibilitas, infrastruktur, fasilitas pariwisata, dan sumber daya manusia.

Menurut Arief, pariwisata bahari sangat dekat hubungannya dengan pengembangan kawasan pesisir yang memiliki ruang lingkup antara lain pengembangan akomodasi, restoran, maupun infrastruktur pendukungnya seperti marina, dermaga, pusat bisnis, dan sebagainya.

Oleh karena itu, perlu juga dikembangkan berbagai macam aktivitas pariwisata bahari termasuk rekreasi pantai, perahu rekreasi, wisata mangrove, berenang, snorkeling, menyelam, wisata memancing, selancar, dan berlayar.

Arief mengatakan secara global, tren pariwisata bahari terus meningkat, termasuk kunjungan ke destinasi wisata bahari di Asia. Data kunjungan di destinasi pariwisata bahari unggulan di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam 3 tahun belakangan ini.

Arief mencontohkan kunjungan wisman ke Taman Nasional Komodo di Provinsi NTT meningkat sebesar 9,42 persen pada tahun 2013 (45.776 wisman) dibanding tahun 2011 (41.833 wisman). Sementara kunjungan wisman ke Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat meningkat 56,48 persen di tahun 2012 (6.037 wisman) dibandingkan tahun 2010 (3.858 wisman). Demikian pula dengan Wakatobi yang meningkat 45,77 persen di tahun 2013 sebanyak 3.315 wisman dibandingkan 2011 sebanyak 2.274 wisman.

Namun demikian, lanjut Arief, terdapat beberapa tantangan dalam pengembangan wisata bahari, antara lain sensitivitas lingkungan pantai dan pesisir, dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya dari kegiatan wisata bahari.

Selain itu karakter pulau-pulau kecil yang memiliki beberapa keterbatasan sumber daya seperti energi, bahan material bangunan, serta ketergantungan dengan akses laut dan udara, menyebabkan pembangunan fasilitas dan aksesibilitas memerlukan biaya tinggi serta kerja sama lintas sektor.

“Sementara dalam konteks pengelolaan pariwisata, akses yang terbuka menjadikan salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan pariwisata bahari,” ujar Arief Yahya. (*/ant)

Facebook Comments

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.