Home EkoBis DK Halim Cs Luncurkan Aplikasi ‘DeWiKu’, 30 Desa Wisata Bali Jadi Pilot Project

DK Halim Cs Luncurkan Aplikasi ‘DeWiKu’, 30 Desa Wisata Bali Jadi Pilot Project

by Editor Bali
0 comment

DENPASAR|PARADISO INDONESIA –Pengembangan destinasi desa wisata di Bali terus mendapat perhatian berbagai kalangan guna mewujudkan desa wisata hijau (green village tourism). Seperti yang dilakukan oleh Dr. Ir. Deddy Kurniawan Halim, MM, Ph.D, atau yang lebih dikenal dengan DK Halim dari Politeknik Internasional Bali, yang mengembangkan aplikasi digital marketing desa wisata hijau yang diberi nama DeWiKu dan platform SIDeWi*HuB (Sistem Integrasi Desa Wisata HijaU Bali). Aplikasi DeWiKu yang juga jadi pilot project untuk 30 desa wisata di Bali ini diluncurkan di Bali Tourism Media Center, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Rabu, (9/8).

Hadir pada kesempatan itu, Kadis Pariwisata Provinsi Bali – Tjok Bagus Pemayun, Direktur Politeknik International Bali – Prof. Dr. Sulistyawati, Kepala LLDIKTI-8 wilayah Bali & NTB – Dr. Bagus Eratodi, Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Provinsi Bali – Made Mendra Astawa, Tim DeWiKu dan 30 Perbekel/Lurah yang desanya menjadi pilot project platform SIDeWi*HuB.

Menurut DK, diluncurkannya aplikasi dan platform digital ini dilatarbelakangi oleh adanya perubahan kebiasaan wisatawan yang saat ini lebih banyak berwisata ke wilayah pedesaan, dimana awalnya turis banyak sekali menginap di perkotaan sehingga terjadi over supply kamar hotel di perkotaan.

Kadis Pariwisata Provinsi Bali – Tjok Bagus Pemayun. FOTO – IST.

“Namun, perubahan kebiasaan ini dikhawatirkan menyebabkan adanya kerusakan lingkungan. Karena itu tujuan aplikasi dan platform digital ini dikembangkan salah satunya guna membangun sistem informasi yang mampu melakukan screening tentang desa wisata hijau di Bali dengan tujuan pelestarian lingkungan,” ungkapnya saat sosialisasi DeWiKu.

Baca Juga:   Inilah Penawaran Terbaik Nginap di THE  HAVEN SUITES Bali Berawa

DK mengungkapkan, dari permasalaan diatas pihaknya mengambil kesimpulan bahwa belum ada sistem dan metode pengukuran yang jelas terkait standarisasi Desa Wisata Hijau (DWH) di Bali, belum ada koordinasi dan sistem yang menjembatani DWH di seluruh Bali karena kurangnya keterlibatan dari Dinas Pariwisata dan forum desa wisata terkait, dan belum ada media dan sistem informasi terintegrasi antara DWH dengan Pondok Wisata dan potensi paket atraksi wisata hijau yang ada didalamnya.

Para Perbekel dari 30 desa yang ikut serta saat peluncuran aplikasi digital marketing desa wisata hijau ‘DeWiKu’ dan platform SIDeWi*HuB. FOTO – IST.

Untuk itu, pihaknya mengusulkan platform SIDeWi*HuB yang terdiri atas tiga tahap yakni asesmen, registrasi, dan komersial atau branding/marketing.

“Penyaringan desa wisata sesuai dengan persyaratan DWH. Setelah registrasi, DWH yang telah memenuhi syarat akan masuk tahap pendaftaran atau listing produk yang didalamnya termasuk homestay, paket atraksi wisata hijau, dan lain sebagainya. Pada tahap branding/marketing, wisatawan telah bisa melakukan reservasi terintegrasi yang akan dimonitor oleh Operator DeWiKu, Dispar, dan desa wisata hijau yang bersangkutan,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kadis Pariwisata Provinsi Bali Tjok Bagus Pemayun mengapresiasi kegiatan ini sesuai dengan visi pemerintah Provinsi Bali apalagi platform digital ini cukup penting guna standarisasi DWH.

“Semua harus ada standarnya. Hijau nya seperti apa? Apa karena ada pohonnya jadi hijau? Itu semua harus jelas parameternya,” ungkapnya.

Baca Juga:   Nuanu City Meluncurkan Menara ‘Tri Hita Karana’: Ikon Arsitektur Gabungan Seni & AI Pertama di Bali

Tjok Bagus Pemayun mengaku pengembangan aplikasi dan platform digital ini membantu pemerintah untuk promosi desa wisata apalagi Bali telah memiliki regulasi hijau seperti sampah berbasis sumber dan sebagainya, yang digaungkan selama penyelenggaraan G20.

Kepala LLDIKTI-8 wilayah Bali & NTB – Dr. Bagus Eratodi. FOTO – IST.

Kadispar juga memberikan himbauan untuk desa wisata seperti tidak mendatangkan investor untuk membangun hotel namun manfaatkan kamar kosong di rumah untuk dijadikan homestay agar tidak mengubah ruang hijau di pedesaan, dan tetap menjaga budaya serta alam.

Terlibat juga sebagai periset  hingga terwujudnya platform ini adalah Dr. Ni Nyoman Sri Astuti, SST.Par., M.Par, dari Politeknik Bali, Dr. Ersy Ervina, S.Sos., MM.Par dari Universitas Telkom Bandung, Sri Ngudi Wahyuni, ST. M.Kom. dari Universitas AMIKOM Yogyakarta, Dinar Sukma Pramesti, ST. MT dan Dwi Novita C Permatasari, SIP, MA, MBA, keduanya dari Politeknik International Bali.

Sementara Ketua Forkom Desa Wisata Provinsi Bali, Made Mendra Astawa mengaku gembira dan mengapresiasi keberadaan platform ini. Inilah upaya dan perjuangan yang tak kenal lelah yang ingin menjadikan desa wisata berkembang dan ekonomi masyakat desa berkembang, serta berharap agar ke depannya keseluruhan 238 desa wisata di Bali bisa masuk di dalam platform ini.

“Kita apresiasi dan dukung platform ini. Ini baru 30, kita berharap 238 desa ikut serta dalam platform ini. Dan untuk itu tugas Pak DK Halim dan kawan – kawan membantu memberikan asesment agar terwujud semua desa di Bali masuk di aplikasi DeWiKu dan platform SIDeWi*HuB, “demikian Mendra Astawa. ****

Baca Juga:   Indonesia Luncurkan Global Blended Finance Alliance untuk Menjembatani Kesenjangan Pembiayaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Berita Terkait