Gorontalo (Paradiso) – Indonesia terus berusaha menjadi destinasi wisata terdepan menjaring wisatawan muslim dunia. Berdasar data Global Muslim Travel Index, jumlah pasar pariwisata halal global tercatat lebih dari 168 juta orang pada 2024 dan akan diprediksi meningkat 230 juta orang pada tahun 2028, tentunya ini pasar yang besar.
Indonesia terus melakukan pembenahan di pelayanan, atraksi, amenitas dan aksesibilitas tidak kalah penting memperkuat branding Indonesia di Global Muslim Travel Index (GMTI), sebuah acuan peringkat pariwisata ramah muslim global. Dalam upaya itu Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berkolaborasi dengan Bank Indonesia, Crescenrating dan Tim Enhaii Halal Tourism Center (EHTC) menggelar Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025. IMTI merupakan indeks pengukuran kesiapan provinsi yang berkorelasi langsung dengan standar GMTI.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto
Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto menjelaskan, sebelumnya Indonesia berada di peringkat pertama wisata ramah muslim dunia pada GMTI 2023 dan 2024. Kini, Indonesia menempati peringkat kelima.
“Di 2025 kita turun diperingkat kelima. Kondisi ini juga dipengaruhi absennya Indonesia di IMTI 2024 yang berpengaruh pada penilaian. Skor kita sebenarnya sama, namun yang lain ada update yang terekam dalam penilaian,” ujar Hariyanto saat site visit IMTI 2025 di Gorontalo, Sabtu (23/08/2025).
Posisi pertama ditempati Malaysia, peringkat selanjutnya ada Turki, Saudi Arabia, serta Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar yang sejajar. Kemenpar tak tinggal diam, Hariyanto mengatakan IMTI 2025 digelar di 15 provinsi demi mengembalikan predikat Indonesia sebagai wisata ramah muslim nomor satu di dunia.
“Ini upaya kami untuk mendongkrak posisi Indonesia di GMTI 2026, supaya peringkat kita naik lagi, kita targetkan kembali ke peringkat pertama. Kegiatan IMTI sendiri menjadi acuan GMTI yang otomatis akan menjadi faktor penentu penilaian pada peringkat Indonesia tahun 2026 nanti,” jelasnya.
IMTI 2025 melakukan penilaian komprehensif di 15 provinsi unggulan, yaitu Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan D.I. Yogyakarta.
Tim penilai IMTI 2025 antara lain, Sumaryadi (EHTC), Fajar Kusnadi (EHTC), Tawfiq Ikhtianto (Crescentrating) dan Ananda Faris (Crescentrating), mereka melakukan kegiatan site visit di sejumlah lokasi di Gorontalo pada 22 – 23 Agustus 2025. Serangkaian proses penilaian dilaksanakan langsung di beberapa tempat seperti Bandara Djalaludin, Danau Perintis, Hotel Aston Gorontalo, Halal Center Kampus IAIN Sultan Amai, Citimall Gorontalo dan Desa Wisata Bubohu Bongo.
Sumaryadi, tim penilai dari EHTC menjelaskan tujuan dari kegiatan site visit adalah untuk memverifikasi keakuratan dan keaslian data yang dikumpulkan secara menyeluruh, sekaligus memastikan pengumpulan seluruh bukti yang relevan demi mendukung kredibilitas dan keandalan data tersebut.
“Pengumpulan data kualitatif dari pihak yang terlibat melalui wawancara serta observasi atau
pemantauan secara langsung diharapkan bisa mendapatkan penilaian yang komprehensif,” ungkapnya.
Dengan mengadopsi kerangka kerja ACES (Access, Communication, Environment, Services) yang juga digunakan dalam GMTI, IMTI berfungsi sebagai alat strategis untuk mengevaluasi dan meningkatkan daya saing ekosistem pariwisata halal di dalam negeri guna mencapai visi Indonesia sebagai pusat pariwisata halal dunia.

