Home News Jejak Langkah Irman Gusman Di Mata  Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si. Datuak Nan Sati

Jejak Langkah Irman Gusman Di Mata  Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si. Datuak Nan Sati

by Editor Bali
0 comment

Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si. Datuak Nan Sati ini juga adalah Ketua Umum LKAAM Sumbar dan Walikota Padang 2004-2014

PADANG, PARADISO INDONESIA – Masih segar dalam ingatan saya 14 tahun yang lalu, tepatnya pada peristiwa gempa bumi tanggal 30 September 2009, terasa sekali peran para perantau Minangkabau dalam keikutsertaan membangun kembali Sumatera Barat, khususnya Kota Padang yang luluh lantak akibat gempa berkekuatan 7,9 SR sampai 67 persen bangunan dan rumah rakyat rata dengan tanah.

Ketika itu Datuak Rajo Nan Labiah, Irman Gusman, sebagai Wakil Ketua DPD RI, bolak balik membawa bantuan, terutama berupa obat-obatan yang tentu saja sangat dibutuhkan masyarakat pada awal bencana tersebut.

Selanjutnya Pak Irman Gusman berkali-kali membawa pelaku dunia perbankan untuk membangun kembali sekolah-sekolah yang roboh, yaitu SD, SMP, SMA yang hancur karena bangunan-bangunan itu pada umumnya merupakan sekolah Inpres (Intruksi Presiden) yang dibangun di tahun 1970-an. Itulah sebabnya maka setelah dibangun kembali, ada sekolah yang bernama SD Mandiri yang berarti dibangun oleh Bank Mandiri, ada SMP BRI, berarti di bangun oleh Bank BRI, ada SMA 2 Adabiah yang dibangun oleh Bank BCA, dan lain sebagainya.

Pak Irman Gusman berperan aktif dalam Kongres Kebudayaan Minangkabau tahun 2022 yang lalu, dan selalu mendorong hidupnya UMKM untuk  menggairahkan kembali perekonomian masyarakat golongan bawah di Provinsi Sumatra Barat. Sebab memang beliau peduli terhadap masyarakat di daerah asalnya.

Baca Juga:   Sumbar Raih Penghargaan Pemerintah Daerah Terbaik di Festival Perhutanan Sosial Nasional 2025

Kasus hukum yang melanda beliau hanyalah sebuah romantika dan lika-liku perjalanan seorang politisi saja. Sama juga apabila ada seorang pembalap yang pernah mengalami kecelakaan di tengah jalan, itu adalah hal yang lazim terjadi; itu bukan muzibah yang menghentikan profesi sang pembalap.

Jebakan-jebakan apa pun namanya yang telah terjadi adalah bahagian dari sebuah pejuangan. Nelson Mandela pernah dipenjara 27 tahun, namun setelah keluar dari penjara, beliau menjadi Presiden Afrika Selatan. Anwar Ibrahim
tiga kali masuk penjara, tetapi sekarang beliau menjadi Perdana Menteri Malaysia. Petinju legendaris Muhammad Ali juga pernah masuk penjara, tapi kemudian menjadi juara tinju kelas berat dunia.

Banyak tokoh lain di dunia pun pernah dijebloskan ke dalam penjara, tapi penjara hanyalah anak tangga bagi mereka untuk berjalan naik lebih tinggi lagi.

Sebab ada pepatah mengatakan, Burung yang pernah cedera sayapnya, ketika sembuh, akan terbang lebih tinggi lagi. Saya rasa pepatah ini cocok buat Datuak Rajo Nan Labiah, Bapak Irman Gusman.

Tokoh sekelas Irman Gusman sangat diperlukan di Sumatera Barat, bahkan di Indonesia. Beliau seperti Bung Hatta yang dulu berjuang memajukan ekonomi bangsa dengan konsep koperasinya. Karena Pak Irman peduli pada pemberdayaan ekonomi rakyat. Mungkin tepat apabila saya menamakan Bapak Irman Gusman sebagai “Bung Hatta Muda.”

Di saat seperti sekarang, kita membutuhkan putra-putri Minang yang mampu berkiprah secara cemerlang di kancah nasional, seperti Bapak Irman Gusman. Sebab, Pak Irman Gusman bukan hanya seorang politisi; beliau juga
merupakan seorang Datuk yang bergelar Datuak Rajo Nan Labiah dan Tuanku Besar Palinduang Alam, yang aktif membangkitkan budaya Minangkabau dalam banyak hal seperti seminar nasional yang dilakukan tahun 2022 silam.

Baca Juga:   Unmas Denpasar Perkuat Peran Global Lewat ICCHR 2025

Beliau juga saya minta duduk sebagai Penasihat di lembaga adat tertinggi di Ranah Minang, yaitu Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) yang isinya adalah para pemangku adat, cendekiawan, alim ulama, serta tokoh-tokoh lainnya. [* / H )

Berita Terkait