Paradiso

Melihat Peluang Experience Tourism Indonesia di ITMO 2027

Jakarta (Paradiso) – Menyambut Hari Pariwisata Dunia yang diperingati setiap 27 September, Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) menggelar agenda flagship Indonesia Tourism and MICE Outlook (ITMO) 2027 bertajuk Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia Melalui Experience Tourism. Acara yang digelar di Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa.

Dalam sambutannya, Wamenpar menekankan bahwa wisatawan saat ini tidak lagi berwisata untuk sekadar mengunjungi suatu destinasi, tetapi juga mencari pengalaman yang autentik, personal, dan bermakna. Kecenderungan itu terutama ditunjukkan oleh kalangan milenial dan Gen Z yang 52 persen bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman wisata yang berkualitas.

Kemampuan para pemangku kepentingan pariwisata di Indonesia dalam menjawab minat wisatawan tersebut akan berdampak positif pada masa tinggal yang lebih lama dan belanja wisatawan yang lebih banyak lagi. Menjawab hal itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meningkatkan kualitas wisata pengalaman dengan memanfaatkan dua dari enam tren wisata global, yakni MICE dan bleisure – perpaduan perjalanan business and leisure.

Berdasarkan ICCA Global Watch Business Analytics Country and City Ranking 2025, Indonesia menempati peringkat ke-37 dunia dan ke-4 ASEAN. Sejalan dengan MICE, tren bleisure semakin menguat karena mereka yang datang ke sebuah event tidak hanya mengisi waktu untuk mengikuti kegiatan di event tersebut, tetapi juga menikmati daya tarik di daerah tersebut.

Berkaca dari Singapura yang merupakan pesaing utama di regional, Indonesia memiliki pekerjaan rumah besar dalam menjahit ekosistem pariwisata – dari penyedia atraksi wisata, hotel, hingga penyedia kuliner – secara kuat untuk memberikan pengalaman wisata yang berkualitas.

“Pengembangan MICE Indonesia harus bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai. Pengalaman tersebut harus mampu memperkuat destinasi, menggerakkan ekonomi lokal, dan juga meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE dunia. Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya menawarkan venue, tapi juga pengalaman di dalamnya,” kata Ni Luh Puspa.

Terlebih, multiplier effect yang dihasilkan dari penyelenggaraan event menyentuh berbagai sisi. Berdasarkan data Kemenpar, melalui program Event by Indonesia sepanjang 2025, 12,2 juta pengunjung datang, menggerakkan 20.887 UMKM dengan 257.561 tenaga kerja terlibat, termasuk pelaku seni dan anggota komunitas.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menambahkan bahwa wisata pengalaman menjadi masa depan pengembangan wisata di Indonesia sebagai upaya menciptakan wisata berkualitas tinggi. Ada tiga komponen utama untuk mewujudkannya, yakni menghargai budaya, alam, dan koneksi antar-manusia. Tanpa ketiganya, wisata pengalaman tidak akan berkualitas.

Kemenpar kemudian mengembangkan tiga program flagship sebagai tulang punggung wisata pengalaman di Indonesia sejak tahun lalu, yakni gastronomy, wellness, dan marine tourism. Ke depan, Kemenpar menambahkan dua program lagi ke dalamnya, yakni wisata wastra dan wisata seni budaya.

“Pemerintah bisa mengarahkan dan membuat tren sehingga bukan lagi ke tempat itu-itu saja. Ingat, mass tourism. Ini sesuatu yang kita takutkan terjadi, kita tidak mau,” kata Ni Made.

Mewakili pelaku usaha pariwisata, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani menekankan pentingnya perencanaan dan pelaksanaan program yang berkelanjutan oleh pemerintah. Pendekatan yang semestinya dikedepankan oleh pemerintah bukanlah proyek agar bisa berkesinambungan dari masa ke masa.

“Sesungguhnya, pariwisata yang berkualitas itu dapat direncanakan dengan melihat aspek-aspek, seperti pendalaman potensi di wilayah itu, regulasi yang kondusif, insentif investasi, serta aturan public-private partnership yang menarik bagi investor,” ujar Hariyadi.

Sementara, Erasmus Radjimin, founder dan CEO Artotel Group, menekankan bahwa menciptakan pengalaman berwisata yang lebih baik bisa dilakukan lewat membaca tren gaya hidup yang berkembang saat ini. Dalam hal ini, tren yang dimaksud adalah gaya hidup sehat.

Untuk itu, pihaknya menjawab kebutuhan tamu dengan meningkatkan pengalaman tidur. “Orang zaman sekarang sudah menggunakan health tracker. Mereka mengecek sleeping score-nya berapa. Itu yang kita coba improve terus,” kata Eri, sapaan akrabnya.

Selain itu, pihaknya juga akan meluncurkan Wanderlust Recovery Center berupa fasilitas gym untuk menjawab kebutuhan tamu yang menjalankan gaya hidup aktif. “Karena gaya hidup ke depannya, 1 dari 3 traveller itu akan membutuhkan gym,” ujarnya.

ITMO 2027 terselenggara berkat dukungan dari berbagai pihak, yakni Kementerian Pariwisata,
Artotel Group, Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta, Injourney, Injourney Hospitality, Kokola, Indofood, dan Yogadihotel.

“Event ini terasa sedikit spesial, selain menggabungkan untuk merayakan hari pariwisata dunia, ini juga menjadi momen kami untuk merayakan sembilan tahun penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook,” kata Ketua Forwaparekraf Tiara Maharani Kusuma. (*)

Exit mobile version