Pagi Yang Indah di Kampung Pinisi, Tanah Beru
TANAH BERU|PARADISO.CO.ID – Pagi masih terasa tenang di Tanah Beru, Bulukumba. Suasana pagi yang menyenangkan sambil seruput kopi di pinggir Pantai Tanah Beru sungguh menjadi pengalaman yang menyenangkan buat saya. Hanya hamparan pantai pasir putih dan teduhnya air laut yang menghiasi bibir Pantai Tanah Beru pagi ini. Sejauh mata memandang Kapal pinisi terbaru karya anak bangsa Haji Erwin, INDO SEAMORE berlabuh teduh nan kokoh di pinggir pantai yang cenderung tenang ini. Indah dan mengagumkan!
Sekilas tentang Tanah Beru, khususnya Kabupaten Bulukumba adalah sebuah ‘negeri’ tua di ujung selatan semenanjung Pulau Sulawesi. Dikenali sebagai rumahnya para pembuat kapal pinisi yang terkenal tangguh pengarung lautan lepas dan luas. Sudah terbukti kapal layar tradisional pembelah samudera ini sebagian besar dibuat di daerah yang disebut Desa Tanah Beru Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan atau sekitar 23 km dari ibukota Bulukumba, Sulawesi Selatan.
INDO SEAMORE yang kokoh hasil karya Haji Erwin dipandang dari bibir Pantai Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan. FOTO – IST.
Tampak jelas di sepanjang bibir Pantai Tanah Beru, pantai berpasir putih dan berair yang tenang akan menarik minat Anda untuk berenang atau hanya membaringkan tubuh di bawah matahari tropis. Anda akan melihat puluhan dermaga tempat dimana kapal layar pinisi dibuat oleh tangan-tangan handal nan trampil orang Bugis dengan jiwa seni yang luar biasa membangun kapal layar pinisi hingga menjadi ikon pelaut Indonesia. Rangka-rangka kayu berbentuk kapal dibuat tepat di tepi pantai ini. INDO SEAMORE menjadi salah satu hasil karya dari bibir pantai ini oleh para pengrajin di Tanah Beru dibawah arahan Haji Erwin yang sudah sangat terkenal dan mendunia.
Melihat kapal layar pinisi yang megah dan sedang dibangun, berinteraksi dengan masyarakat tradisional, menikmati pantai berpasir putih, atau menjelajahi keindahan bawah laut akan memberikan pengalaman luar biasa selama Anda berkunjung ke Tanah Beru.
Sejarah Pinisi
Dikutip dari laman detik.com, Antropolog Maritim asal Jerman yang saat ini telah berdomisili di Indonesia selama puluhan tahun, Herr Horst Liebner bercerita bahwa informasi soal Pinisi muncul dalam tulisan media asing pada tahun 1917 lewat sebuah artikel di Koloniale Studien. Liebner menyebut kata Pinisi dalam arti sebenarnya lebih condong pada layar bukan sebuah nama kapal.
Berdasarkan kajiannya, pada pertengahan abad-19 belum ada istilah Pinisi di Sulawesi. Pada tahun 1960-an, pada Jilid IV Encyclopaedie Van Nederlandsch-Indie tahun 1906 yang mendeksripsikan kapal yang berbentuk sekunar, dengan satu batang tiang yang besar dan satu yang kecil, yang dikenali di Pantai Selatan Celebes, dan juga di Banjarmasin.
“Orang semua berpikir pinisi..pinisi itu namanya perahu, itu sejenis layar, tiang dan layar segala konfigurasinya. Itulah yang dinamakan Pinisi. Untuk badan kapal ada puluhan nama, cara pembuatannya, cara penggunaannya,” kata dia.
Secara pribadi, Liebner mengakui ketertarikannya dengan perahu layar. Kalau kita lihat, tradisi teknologi yang ada di Bulukumba, seperti di Tanah Beru, dia menyebut warisan pembuatan kapal di lokasi itu telah berlangsung selama 400 tahun. Akan tetapi, teknologi yang ada dalam setiap bagian-bagian dalam perahu yang dibangun telah berusia ribuan tahun.
“Sudah berlangsung 2.000 hingga 3.000 tahun, karena dari sekian banyak titik pada detil detil pembuatan itu, mewarisi cara membuat perahu yang diciptakan oleh orang astronesia, dan diteruskan diteruskan (diwariskan),” ungkapnya.***(bersambung)
Editor – Igo Kleden
