TANAH BERU|PARADISO.CO.ID – Bali memang sudah mulai menggeliat lagi pariwisatanya sejak dibukanya border dan mulai kembalinya penerbangan international ke Bali. Tercatat ada sejumlah penerbangan international kini kembali meramaikan Bali sebut saja Qatar Airways, Turkey Airways, Jet Star, Thai Airways, Air Asia, dan sejumlah penerbangan international lainnya termasuk maskapai nasional Garuda Indonesia. Tercatat 5 bulan terakhir Bandara International Ngurah Rai telah melayani lebih dari 4 juta wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Ditengah hiruk pikuk Bali yang mulai kembali geliat pariwisatanya saya mendapatkan tawaran untuk mengunjungi Tanah Beru di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, satu daerah yang selama ini menjadi harapan dan keinginan saya untuk berkunjung karena daerah ini konon katanya menjadi tempat pembuatan kapal phinisi yang tersohor hingga ke mancanegara.
Bagi yang pernah mengunjungi destinasi super premium Labuan Bajo, bisa dipastikan mayoritas kapal phinisi yang ada di sana berasal dari Bulukumba, salah satunya dari daerah Tanah Beru.
Suasana malam Kota Makasar. FOTO – IST.
Mendapat tawaran tersebut, tanpa berpikir panjang, saya kemudian mengiyakannya. Dengan menumpang maskapai Lion Air saya kemudian berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan kemudian tiba di Bandara Hasanudin, Makasar pada Jumat (10/6/2022). Perjalanan dari Bali menuju Bandara Hasanudin hanya butuh waktu 1 jam 10 menit saja. Ukuran saya yang sering melakukan perjalanan keluar daerah waktu ini tergolong cukup singkat.
Setibanya di Bandara Hasanudin, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 malam. Bagi Kota Makasar yang berada di Indonesia Tengah, waktu ini sudah tergolong malam. Saya pun kemudian menuju salah satu restoran terkenal di Kota Makasar untuk menikmati Coto Makasar, salah satu menu kuliner khas Masyarakat Sulawesi Selatan. Coto Makasar sangat rekomended dan layak dicoba bila Anda mengunjungi Kota Makasar khususnya atau Sulawesi Selatan umumnya.
Usai menikmati enaknya Coto Makasar dan melihat keindahan Kota Makasar di malam hari, saya pun kemudian beranjak menuju Tanah Beru malam itu juga. Perjalanan menuju Tanah Beru ditempuh dalam waktu 5 jam. Meski cukup melelahkan namun saya cukup menikmati perjalanan karena suasana malam yang tenang hingga jalanannya beraspal tergolong mulus bila Anda ingin menempuh perjalanan ke Bulukumba melalui perjalanan darat.
Sebelum tiba di Tanah Beru yang menjadi tujuan perjalanan saya, malam itu kami sempat singgah di Jeneponto setelah 2,5 perjalanan dari Kota Makasar. Jeneponto ini menjadi tempat singgah sementara bagi siapapun yang menempuh perjalanan trans sulawesi. Malam itu, segelas kopi khas tanah toraja mampu melepas dahaga dan membuat mata kembali melek ketika 2,5 jam perjalanan dari Bandara Hasanudin. Kini kurang lebih 2,5 jam perjalanan lagi baru akan tiba di Tanah Beru dan kopi saya pikir cukup menghangatkan badan dan pikiran saya dalam menempuh perjalanan 2,5 jam berikutnya.
Salah satu sudut Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan. FOTO – IST.
Semangat untuk segera tiba di Tanah Beru akhirnya mengantarkanku tiba di kampung para pesohor yang melahirkan kapal phinisi yang terkenal di seantero dunia ini. Pukul 4 dini hari, akhirnya saya bersama Suyanto Nawawi, diver dan pemerhati masalah konservasi terumbu karang yang saat ini berdomisi di Bali serta Okky, sang diver yang saat ini terus mempromosikan diving di Pulau Menjangan Bali ditemani Selvi dan Arjuna yang merupakan dua orang anak pembuat kapal phinisi, kami tiba di Tanah Beru. (Bersambung….)
(Simak selanjutnya….cerita tentang Tanah Beru, Sang Maestro pembuat kapal phinisi asal Tanah Beru, Haji Erwin, serta bagaimana proses pembuatan karya phinisi terbarunya INDO SEAMORE yang akan melaut untuk pertama kalinya menuju Komodo Labuan Bajo pada 16 Juni 2022 ini. Dan juga jangan lewatkan kisah Ni Nyoman Dewi Antini yang terlanjur basah terjun ke dunia kapal phinisi yang semulanya sangat minim pengalaman, namun berkat tekad dan kerja keras serta mencintai pekerjaannya akhirnya kini mampu mengelola 4 kapal phinisi).
Editor – Igo Kleden
