Home News UNP Dorong Guru PAUD Integrasikan Life Skill dan AI dalam Pembelajaran Anak

UNP Dorong Guru PAUD Integrasikan Life Skill dan AI dalam Pembelajaran Anak

by Bali Paradiso
0 comment

PADANG — Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran anak usia dini terus dilakukan Universitas Negeri Padang (UNP). Salah satunya melalui Program Pengabdian Berdampak yang digelar Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNP di TK Pembangunan Laboratorium UNP.

Program yang dilaksanakan pada 25 Juli 2026 tersebut mengangkat pendampingan penyusunan kurikulum berbasis life skill dengan dukungan teknologi Artificial Intelligence (AI). Kegiatan ini dipimpin Dr. Serli Marlina, S.Pd., M.Pd., dengan sasaran utama memperkuat kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.

Pendampingan tersebut berangkat dari kebutuhan untuk menjadikan berbagai aktivitas rutin anak sebagai bagian dari proses pembelajaran yang terarah. Selama ini, kegiatan seperti merapikan barang, mencuci tangan hingga makan sendiri sudah menjadi kebiasaan di lingkungan sekolah. Namun, aktivitas tersebut dinilai dapat dikembangkan lebih jauh menjadi pengalaman belajar yang memiliki tujuan dan capaian perkembangan.

Di tengah perkembangan teknologi, AI juga diperkenalkan sebagai salah satu perangkat pendukung bagi guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Pemanfaatannya diarahkan untuk menggali gagasan, mencari alternatif kegiatan, serta membantu guru menyusun pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak.

Kegiatan pendampingan dilakukan secara bertahap melalui pemaparan materi, diskusi, demonstrasi penggunaan AI, praktik menyusun perangkat pembelajaran, presentasi hingga refleksi.

Guru diajak mengidentifikasi berbagai aktivitas keseharian anak yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pembelajaran life skill. Selanjutnya, teknologi AI digunakan untuk memperkaya ide kegiatan tanpa menghilangkan peran guru sebagai pengendali utama proses pembelajaran.

Baca Juga:   Pemprov Sumbar Ungkap Rencana One Way, Kepariwisataan hingga Strategi Penanganan Sampah dalam Libur Lebaran 2025

Ketua Tim Pengabdian, Dr. Serli Marlina, S.Pd., M.Pd., mengatakan pengembangan life skill pada anak usia dini justru dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang mereka lakukan setiap hari.

“Life skill pada anak usia dini tidak harus melalui kegiatan yang kompleks. Aktivitas sederhana dapat menjadi pengalaman belajar bermakna ketika anak diberi kesempatan untuk mencoba, memilih, bertanggung jawab dan menyelesaikan tugas sesuai tahap perkembangannya,” ujar Serli.

Ia menegaskan penggunaan AI dalam pembelajaran tidak dimaksudkan untuk menggantikan posisi guru.

“AI bukan pengganti guru, tetapi alat bantu untuk mengeksplorasi ide, mengembangkan alternatif kegiatan dan mendukung perencanaan pembelajaran. Guru tetap menjadi pengambil keputusan utama karena guru yang memahami karakteristik dan kebutuhan setiap anak,” katanya.

Dalam penerapannya, sejumlah rutinitas anak mulai diarahkan menjadi pengalaman belajar yang memiliki tujuan. Anak dilatih melepas dan menyimpan sepatu, menempatkan tas di loker, menggunakan toilet secara mandiri, mengenakan serta mengancingkan pakaian, mencuci tangan, makan dan minum sendiri hingga merapikan mainan.

Berbagai aktivitas tersebut tidak lagi sekadar dipandang sebagai rutinitas, tetapi menjadi sarana untuk menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, kemampuan mengelola diri dan menyelesaikan persoalan sederhana.

Pendekatan tersebut sekaligus mengubah cara pandang terhadap pembelajaran life skill. Anak tidak hanya diminta mengikuti kebiasaan yang telah ditentukan, tetapi diberi ruang untuk mencoba, mengulang, menghadapi kesulitan sederhana dan menyelesaikan tugas secara bertahap.

Baca Juga:   Mobil Tenaga Surya Dari Buleleng, Bali

Dampak pendampingan juga dirasakan guru TK Pembangunan Laboratorium UNP. Guru mulai melihat bahwa berbagai aktivitas sederhana yang selama ini dilakukan anak memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pengalaman pembelajaran.

“Pendampingan ini membuat kami melihat kegiatan seperti menyimpan sepatu, mencuci tangan, makan sendiri dan merapikan mainan ternyata dapat dirancang menjadi pembelajaran life skill. AI juga membantu memberikan alternatif ide yang kemudian bisa kami sesuaikan dengan kebutuhan anak,” ungkap salah seorang guru.

Program tersebut tidak berhenti pada kegiatan pendampingan. Tim bersama guru juga menyiapkan proses penerapan, evaluasi dan refleksi secara berkelanjutan. Perangkat pembelajaran yang telah disusun akan terus disempurnakan berdasarkan pengalaman di kelas serta perkembangan kebutuhan anak.

Melalui program ini, UNP mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan agar menghasilkan perubahan nyata dalam praktik pembelajaran. Penguatan kompetensi guru, pembentukan kemandirian anak dan pemanfaatan AI secara bijak menjadi bagian yang saling melengkapi.

Dengan pendekatan tersebut, aktivitas sederhana di lingkungan sekolah diharapkan tidak lagi hanya menjadi rutinitas, tetapi menjadi ruang bagi anak untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab.

Dari rutinitas menuju pengalaman belajar, dari penguatan guru menuju tumbuhnya kemandirian anak.***

Berita Terkait