LEMBATA|PARADISO.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Lembata menggagas gerakan SARE DAME sebagai gerakan rekonsiliasi yang adalah tradisi dan kearifan lokal masyarakat adat, yang memiliki relasi agung dengan Ama Lera Wulan (:Sang Pencipta) Ina Tana Ekan (Bumi) dan Ribu Ratu (sesama) serta Tua Magu (leluhur).
Tradisi-tradisi dalam bentuk seremonial adat,kebanyakan sudah pupus karena kemajuan jaman. Dalam konteks rekonsiliasi komunitas adat ini, Pemerintah hadir dalam peran sebagai activator (mengaktivasi) dan memperkuat komunitas adat agar mengambil peran dalam pembangunan.
Masyarakat Lembata merayakan dengan suka cita gerakan SARE DAME yang dimulai dari rekonsiliasi di masing-masing komunitas adat sesuai pilihan rekonsiliasi – internalisasi –well being (penyejahteraan) dalam relasi agung dengan AMa Lera Wulan (sang pencipta), Ina Tana Ekan (Alam semesta), Ribu Ratu (sesama) dan Tua Magu (leluhur). Prosesi ini dilakukan sejak tanggal 7 Pebruari 2022 sampai dengan 27 Pebruari 2022 dan melibatkan semua desa (151 desa) di Pulau Lembata..
Puncak perayaan bersama semua komunitas dalam Pekan Budaya Lembata yang dibuka tanggal 3 Maret – 7 Maret 2022 dan tutup dengan makan adat bersama serta penyatuan komitmen bersama TAAN TOU.
Menurut Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola, gerakan SARE DAME ini diharapkan dapat mengangkat warisan budaya tak benda dari komunitas adat, melestarikan warisan budaya, memberikan penguatan bagi komunitas adat agar berperan dalam pembangunan dan memberikan pendidikan karakter bagi anak-anak sebagai generasi masa depan Lembata.
Bupati Lembata, Thomas Ola juga menegaskan dalam satu bulan ke depan, Kabupaten Lembata mempunyai hajatan besar Eksplorasi Budaya yang secara khusus akan menggali nilai-nilai budaya Sare Dame. Tujuannya adalah untuk menggali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ritus Sare Dame yang selanjutnya akan diolah menjadi modal pembangunan daerah.
Bagi Thomas Ola, hal ini menjadi penting dan urgen karena nilai-nilai budaya ini adalah unsur penting pembentuk kharakter atau jati diri manusia Lembata
“Selama ini kita lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur kasar seperti jalan raya, jaringan telekomunikasi, akses air bersih, transportasi, dan lain-lain. Kita lalai memberi perhatian serius pada pembangunan infrastruktur halus (pembangunan budaya) yang berkaitan langsung dengan perilaku, sikap, dan karakter manusia. Kelalaian membangun aspek budaya ini telah melahirkan banyak persoalan fisik (banjir bandang, gunung meletus, dll), persoalan moral, korupsi, kecurigaan antara satu dengan yang lain. Semuanya itu mengorbankan nilai-nilai kejujuran, persaudaraan, kebersamaan, dan lain-lain. Sekarang saatnya kita mulai memberi perhatian serius kepada pembangunan budaya untuk mengembalikan nilai-nilai luhur yang selama ini diabaikan dan hilang,” tagas Thomas Ola.
Untuk itu Thomas Ola mengutarakan caranya dengan melalui program eksplorasi budaya. “Kita berupaya menggali kembali nilai-nilai luhur dari masyarakat sendiri melalui eksplorasi praktek-praktek ritual Sare Dame.Harapan saya, semua elemen masyarakat ikut berpartisipasi dalam mensukseskan kegiatan eksplorasi budaya Sare Dame ini,”papar Bupati asal Ile Ape ini. ***
Editor – Igo

