Jakarta (Paradiso) – Kementerian Pariwisata mengarahkan pengembangan Pertemuan, Insentif, Konferensi, dan Pameran (MICE) untuk mendukung pariwisata bernilai tinggi dengan menjadikan setiap kegiatan berdampak pada aspek perekonomian, sosial, budaya, dan reputasi bagi Indonesia.
“Pengembangan MICE Indonesia harus bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai. Pengalaman tersebut harus mampu memperkuat destinasi, menggerakkan ekonomi lokal, dan juga meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE dunia,” kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dalam Indonesia Tourism & MICE Outlook 2027 yang digelar Forum Wartawan Pariwisata dan Ekraf di Jakarta, Kamis (24/09/2026).
Ni Luh mengatakan Indonesia memiliki potensi MICE yang cukup besar. Berdasarkan ICCA GlobalWatch Business Analytics-Country and City Rankings 2025, Indonesia mencatatkan 110 pertemuan asosiasi internasional dan menempati peringkat ke-37 dunia, ke-10 di Asia Pasifik, dan keempat di ASEAN.

Ni Luh Puspa
Potensi tersebut didorong melalui strategi promosi, penguatan kemitraan, fasilitasi bidding dan delegate boosting, serta dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan internasional.
Upaya tersebut tidak diarahkan sekadar untuk menghadirkan lebih banyak event, tetapi memenangkan lebih banyak kegiatan berkualitas yang mampu menarik peserta internasional, memperkuat citra destinasi dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Dalam Indonesia Tourism Outlook 2025-2026, ekosistem MICE dan leisure telah teridentifikasi sebagai salah satu dari enam tren utama pariwisata Indonesia.
Ni Luh mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan perjalanan bisnis semakin terhubung dengan aktivitas rekreasi dan pengalaman di destinasi.
Peserta yang datang untuk konferensi, pertemuan bisnis maupun kegiatan lainnya tidak hanya mengikuti agenda utama, tetapi juga menikmati daya tarik daerah tujuan. Aktivitas tersebut antara lain belanja, kuliner hingga mengunjungi destinasi dan atraksi wisata.
Ia menilai keterhubungan berbagai sektor perlu diperkuat agar atraksi, hotel dan kuliner tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu ekosistem yang mendukung pengalaman wisatawan.
Pengalaman tersebut dapat diperkuat melalui venue dan infrastruktur berstandar internasional, konektivitas yang lebih baik, teknologi digital terkini serta pengalaman bernilai yang mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggal sebelum maupun setelah event.
Dengan pendekatan tersebut, perjalanan untuk menghadiri konferensi atau pameran tidak berakhir ketika agenda utama selesai, tetapi dapat berkembang menjadi pengalaman wisata yang lebih panjang dan personal.
Dia juga menyoroti Indonesia perlu mengejar posisi Singapura yang telah lama tertanam dalam top of mind masyarakat dunia sebagai destinasi MICE.
Ni Luh menekankan Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk membangun posisi tersebut dengan tidak hanya menawarkan venue, tetapi juga pengalaman yang terhubung dengan destinasi, budaya, gastronomi, dan keramahan masyarakat lokal.
“Kita seharusnya tidak kalah dengan Malaysia, dengan Singapura. Singapura mungkin sudah begitu lama untuk menanamkan dalam top of mind masyarakat dunia, dia adalah destinasi untuk MICE. Tapi beyond that, mereka menjualnya juga Indonesia. Kalau kita sudah punya Indonesia, kenapa kita tidak bisa?” kata Ni Luh.
Kementerian Pariwisata dikatakannya memanfaatkan peluang itu melalui program Event by Indonesia sepanjang 2025, di mana penyelenggaraan event yang didukung memberikan dampak ekonomi yang besar.
Dalam data kementerian, berbagai event yang didukung diperkirakan menghadirkan 12,2 juta pengunjung, melibatkan 20.887 UMKM dan 257.561 tenaga kerja, termasuk pelaku seni dan anggota komunitas. Penyelenggaraan event tersebut juga mendorong perputaran ekonomi sekitar Rp23,76 triliun.
Kreatif Mengolah Destinasi Wisata
Kesempatan sama, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini saat menjelaskan soal pentingnya menghadirkan pengalaman berwisata berkualitas.
Pengalaman wisata yang tidak berhenti pada kunjungan ke suatu destinasi, tetapi juga memberi kesempatan kepada wisatawan untuk memahami proses dan filosofi di balik budaya yang ditemuinya.
Ia mencontohkan pengalaman wisata batik di Pekalongan, Jawa Tengah, yang menurutnya dapat dikembangkan lebih jauh dengan tidak sekadar memperkenalkan batik sebagai produk budaya.
“Saya lihat belum banyak yang menggarap wastra tourism ke Pekalongan. Harusnya inilah experiential tourism kita,” kata Made.

Ni Made Ayu Marthini
Menurut dia, wisatawan yang berkunjung ke Pekalongan seharusnya tidak hanya mengikuti kegiatan belajar batik secara singkat, tetapi juga mengetahui tahapan dalam pembuatan batik serta memahami filosofi dan makna yang terkandung di dalamnya.
“Ketika ke sana, bukan hanya belajar batik dua menit, tapi mengetahui step-step apa dari batik. Kita harus tahu filosofinya, artinya, prosesnya dan sebagainya,” ujarnya.
Ia mengatakan pendekatan serupa dapat diterapkan pada potensi seni dan budaya lainnya yang dimiliki Indonesia, termasuk warisan seperti candi.
Pengalaman tersebut, juga dapat dipadukan dengan tren walking tourism atau wisata berjalan kaki yang saat ini berkembang, termasuk dengan menggabungkan unsur seni dan budaya, wastra, serta wisata bahari.
“Misalnya kita bisa padukan art and culture, wastra tourism, marine tourism dengan walking tour. Ini Indonesia akan sangat menarik dan experience-nya dapat,” katanya.
Made menilai perpaduan berbagai unsur tersebut memungkinkan wisatawan mendapatkan pengalaman dengan melihat budaya, alam, dan lingkungan yang ada di suatu daerah. Apalagi dengan hadirnya tren di mana pengalaman yang kreatif, menarik, dan berbeda menjadi hal yang dicari wisatawan saat ini.
“Semakin kreatif, semakin menarik, semakin berbeda, itu yang dicari oleh wisatawan sekarang,” ujar Made.
Maka dari itu, ia mendorong pengembangan pengalaman wisata yang berbeda dari pola kunjungan ke destinasi yang selama ini sudah umum dilakukan.
“Kalau kita bisa create ke non-conventional, beyond ordinary, ini kita akan bisa menyebarkan the glory of tourism, wisata ini ke tempat-tempat lainnya,” pungkasnya. (*)

